Pacar Pungutku Rupanya Bos Global

Pacar Pungutku Rupanya Bos Global
Bab 18 Kamu Paling Pintar


__ADS_3

Dirinya sekarang adalah Victoria yang terlihat biasa. Akan tetapi, dia adalah nona kedua dari Keluarga Wijaya saat berada di rumah Keluarga Wijaya. Dia menerima pendidikan terbaik dengan lingkungan terbaik. Sejak kecil dia sudah terbiasa dengan kegiatan rekreasi.


Jadi, menunggang kuda bukanlah hal yang sulit untuk dia lakukan.


Juga bisa bertarung dengan sangat mudah.


Di arena pacuan kuda, Victoria menunggang kuda dengan sangat terampil. Tubuhnya yang ramping membuat dirinya terlihat semakin cantik di atas kuda. Rambutnya yang panjang berkibar seperti sutra yang tertiup angin. Dia terlihat begitu cantik bagaikan sebuah lukisan.


Yang tidak dia ketahui yaitu ada seorang pria tinggi dan ramping tengah berdiri di balkon sebuah lantai atas hotel yang terletak beberapa meter dari tempatnya.


Sudut bibirnya sedikit terangkat, kedua mata yang berkilau seperti berlian tengah menatap lekat seorang wanita mungil cantik yang sedang menunggang kuda.


Ivan tersenyum tipis di samping dan berkata, "Aku nggak menyangka Nona Victoria cukup ahli dalam menunggang kuda. Cara dia menungganginya juga sangat baik."


Sudut mulut pria itu terlihat berkedut dan berkata, "Iya."


Di dalam arena pacuan kuda.


Victoria menunggang kuda dengan mudah dan melihat ke arah Wendy yang saat ini terlihat sudah bergoyang dari satu sisi ke sisi lain dengan acuh. Penampilannya yang kebingungan seolah tidak tahu harus melakukan apa membuat pemandangan menjadi tidak enak untuk dilihat.


"Ayo jalanlah lebih cepat, atau aku akan menyuruh pegawaiku untuk memotongmu menjadi potongan daging untuk dimakan!" Wendy berkata dengan nada mengancam.


Entah apakah kuda itu mengerti apa yang dikatakan Wendy. Setelah mendengar ucapannya, kuda itu tiba-tiba menjadi marah dan langsung menghempaskan tubuhnya, membuat Wendy terlempar dari atas punggungnya.


Untungnya, beberapa orang segera mengambil tindakan di lapangan sehingga dia tidak terjatuh dengan parah, tetapi penampilan jatuhnya yang begitu memalukan masih terlihat begitu jelas di mata para penonton.


Seketika terdengar suara terkesiap dari para penonton.


Lara terlihat bersemangat dan bertanya, "Aduh, siapa yang terjatuh itu?"


Dia sudah mengetahui siapa yang terjatuh, tetapi masih menanyakannya dengan sengaja. Sekelompok orang yang tidak bisa menunggang kuda di belakangnya juga ikut menyulutkan kemarahan orang lain sambil mengangkat kepala mereka.


"Bukankah dia adalah rekan kita yang bernama Wendy?"


Maria dan sekelompok orang yang bisa menunggang kuda terlihat sangat tidak senang.


Satu menit.


Wendy baru saja menunggangi kuda kembali selama satu menit sebelum terjatuh lagi.


"Dasar nggak berguna." Maria diam-diam mengumpat.


Lara pun mengambil kesempatan itu dan melanjutkan ucapannya, "Kamu bisa berkata seperti itu seolah-olah kamu ini berguna. Apa kamu lebih hebat darinya?"

__ADS_1


Maria menggertakkan gigi dan memelototinya.


Akan tetapi, dia tidak bisa membalas ucapannya. Dia tidak sering berkuda, jadi mungkin saja dia akan berakhir seperti Wendy.


Di sisi lain, Victoria terlihat telah berlari dengan kencang di atas kuda. Tidak perlu diragukan lagi kalau dia memang profesional dan mahir dalam berkuda.


Lara tidak puas melihat ketidakmampuan Maria untuk mengucapkan sepatah kata pun dan langsung berteriak dengan gembira kepada Victoria yang berada di arena pacuan kuda, "Victoria sayangku, aku sangat mencintaimu! Cepat kemarilah sayangku, kita akan menerima sujud dari beberapa orang!"


Beberapa menit kemudian, Wendy berdiri di depan sekelompok orang yang tidak bisa menunggang kuda dengan wajah kelam.


Victoria berdiri di sana dengan gagah dan melihat Wendy yang tidak ada niat untuk berlutut sama sekali.


Tentu saja, sekelompok orang tidak akan membiarkannya pergi begitu saja dan langsung mencemoohnya, "Berani bertaruh, tapi nggak berani mengakui kekalahan, dasar orang yang nggak bisa berpegang teguh pada ucapannya!"


Wendy bersikap seolah dia tidak mendengarnya dan berkata dengan kikuk seolah telah menyesali tindakannya, "Aku nggak seharusnya bilang kalau kalian nggak bisa menunggang kuda, maafkan aku."


"Cih!" Jelas tidak ada yang percaya pada ucapannya.


Wajah Wendy terlihat semakin kesal lagi.


Pada saat ini, sekelompok orang berbondong-bondong menuju suatu tempat yang ada di depan mereka. Salah satu dari mereka langsung berteriak saat melihat seseorang yang dia kenal di dalam.


"Ayo pergi dan lihat sayembara berhadiah yang sedang diadakan itu!"


"Ini adalah sayembara yang diadakan oleh pemilik arena pacuan kuda ini. Dia memiliki kuda kelas atas, tapi sifatnya terlalu liar dan nggak ada orang yang bisa menjinakkannya. Dia menawarkan hadiah dua miliar. Siapa pun yang bisa menjinakkan kuda ini akan mendapatkan dua miliar!"


"Apa?"


Semua orang terkejut mendengarnya. Ada beberapa orang bergegas ke sana untuk bersiap pergi ke sana, merasa kalau keramaian ini pasti layak untuk ditonton.


Saat Wendy mendengarnya, dia langsung bersemangat dan berkata, "Victoria, bukankah kamu sangat hebat? Karena kamu begitu terampil, jinakkan kuda itu dan tunjukkan hadiah miliaran itu pada kami!"


Lara langsung berkata, "Kamu jangan begitu agresif. Kuda itu sangat liar, bagaimana mungkin bisa dijinakkan dengan mudah? Mungkin saja ini akan mengancam nyawa orang lain. Sebaiknya kamu bayar dulu utangmu dengan berlutut di hadapan kami sebelum berbicara!"


Wendy mendengus dan berkata, "Victoria, apa kamu begitu takut? Kalau kamu berani, pergilah dan jinakkan kuda itu. Setelah kamu berhasil nanti, aku akan berlutut dan bersujud sepuluh kali untukmu!"


Orang lain sama sekali tidak peduli terhadap Victoria seperti Lara, karena mereka begitu ingin menonton keramaian dan terus berkata, "Victoria, pergi dan cobalah. Setelah menang nanti, Wendy nggak akan bisa berkata apa pun lagi."


Victoria menatap Wendy yang mengangkat kepalanya dengan angkuh dan menatapnya dengan tatapan menantang sambil berkata, "Kenapa? Gak berani, ya? Bilang saja kalau kamu gak berani untuk mencobanya!"


Di hotel yang terletak di atas Gunung Tangkuban Perahu, Ivan mengangkat alisnya dan mencoba untuk menebak berdasarkan pengalaman yang dia miliki.


"Tuan Denny, sepertinya para rekan ini sedang mendorong Nona Victoria untuk mengikuti sayembara berhadiah yang diadakan oleh pemilik arena pacuan kuda ini. Kudengar kuda itu sangat ganas dan pernah membuat orang terjatuh sampai kehilangan nyawanya ..."

__ADS_1


Pria itu menyipitkan mata hitamnya dan menatap wanita mungil yang dikelilingi oleh rekan-rekannya. Entah apa yang telah dikatakan rekannya, wanita itu pun langsung berjalan ke arah sayembara berhadiah, diikuti dengan para rekan lainnya yang terlihat sangat bersemangat.


Dia telah menyetujuinya?


Cari masalah saja.


Kuda liar yang ditawarkan hadiah sebesar dua miliar tentu saja tidak akan mudah untuk dijinakkan. Pemilik arena pacuan kuda menawarkan hadiah yang begitu tinggi pastinya hanya sebuah tipu muslihat untuk menunjukkan betapa sulitnya kuda ini untuk dijinakkan.


Ivan melihat ekspresi tuannya yang terlihat serius dan berkata dengan hormat "Kalau begitu, maksud Tuan Denny ..."


Tatapan Tuan Denny terlihat begitu dingin seperti es. Dia terdiam selama dua detik sebelum berkata dengan suara rendah, "Pergi dan carilah Ariel."


Ivan akhirnya mengerti maksud dari tuannya dan menganggukkan kepala dengan hormat, "Baik."


...


Sayembara berhadiah.


Ada banyak pecinta kuda yang sudah tiba di tempat ini. Mereka merasa sangat penasaran dan tertantang terhadap kuda yang sedang berdiri di atas arena pacuan kuda dengan surai berkibar.


Kuda ini terlihat jinak sekarang, tetapi tidak akan ada yang tahu betapa liarnya dia. Dia adalah kuda kelas atas yang diimpor dari luar negeri dengan harga yang mahal. Bagi para pecinta kuda, meskipun menjinakkan kuda ini akan mengancam nyawa mereka, hal ini hanya akan menambah tekad mereka untuk menjinakkan kuda liar ini.


Saat Victoria dan sekelompok rekannya tiba di samping lapangan, mereka bisa melihat begitu banyak orang tengah membicarakan kuda yang melegenda itu.


Dia berjalan masuk dan berdiri dengan tenang.


Wendy dan Maria memimpin sekelompok penonton untuk melihat keramaian dan membayangkan pemandangan keren saat Victoria dihancurkan oleh kuda liar tersebut di belakang mereka.


Meskipun Victoria tidak melihat ke arah mereka, dia sudah tahu kalau mereka semua sedang menunggu untuk melihat pertunjukan yang bagus.


Sebuah seringaian merekah di wajahnya. Dia juga bukan orang bodoh, jadi tentunya tidak akan bersikap begitu ceroboh dalam berkuda, apalagi bersikap sok pemberani.


Dia hanya orang awam yang bisa menunggang kuda dan sama sekali bukan seorang profesional. Dia juga tahu betapa sulitnya untuk menghadapi kuda kelas atas yang begitu liar.


Karena ada orang yang ingin mendapatkan hadiah miliaran rupiah, siapa pun yang menginginkannya akan dipersilakan untuk mencobanya.


Victoria mengerucutkan bibirnya dengan sebuah ide licik di dalam pikirannya, lalu membisikkan sesuatu di telinga Lara yang berdiri di sisinya.


Lara tercengang sesaat sebelum tersenyum penuh arti dan berkata pada Victoria, "Kamu memang pintar."


Victoria mengangkat bibir merahnya dan tersenyum santai.


Sayembara berhadiah pun resmi dimulai.

__ADS_1


__ADS_2