Pacar Pungutku Rupanya Bos Global

Pacar Pungutku Rupanya Bos Global
Bab 17 Tentu Saja Orang Miskin Nggak Sanggup Bayar


__ADS_3

Rombongan mereka berjalan menuju lapangan kuda. Setelah berjalan sepanjang jalan, baru disadari bahwa bisnis utama dari lapangan kuda ini tidak hanya sekadar kuda, tapi juga ada lapangan seni bela diri, lapangan duel, dan hotel resort.


Lara sangat bersemangat di sepanjang jalan. Sesampainya di kandang kuda, dia berseru dengan kaget, "Victoria, banyak sekali kudanya. Inikah kuda Akhal-Teke?"


Victoria menoleh ke sana seperti yang lainnya. Di kandang kuda yang luas itu, ada banyak kuda yang berdiri dengan bersemangat tinggi. Sesekali mereka mendengus dan mengibaskan rambutnya.


Karyawan lapangan kuda maju dan berkata dengan sopan, "Bagi yang bisa menunggang kuda, silakan ganti pakaian menunggang. Bagi yang nggak bisa, kalian bisa pergi ke area latihan dan akan ada staf khusus yang mengajari kalian."


Mendengarnya, para rekan kerja langsung bergerak. Rekan kerja wanita dari keluarga kaya yang biasanya disanjung-sanjung pun pergi ke area tunggu dengan sombong.


Melihat mereka semua yang congkak, Lara merasa kesal dan berkata, "Apa hebatnya kalau bisa menunggang kuda? Apa perlu begitu congkak?"


Selesai bicara, ada yang tertawa sinis di belakang, "Dia mampu belajar menunggang kuda karena keluarganya kaya. Sementara kamu? Kamu hanya orang miskin yang nggak punya uang dan latar belakang!"


Lara benar-benar bukan iri, dia hanya nggak suka tampang mereka yang sombong. Biasanya mereka seperti itu di perusahaan, seolah-olah mereka berkedudukan lebih tinggi daripada orang lain.


Dia menemukan di antara orang-orang yang bisa menunggang kuda, ada dua perempuan yang sudah diberi pelajaran oleh Victoria pada beberapa hari yang lalu, yaitu Maria dan Wendy Sutanto.


Sejak kecil mereka dibesarkan dalam keluarga yang lumayan berduit sehingga mereka begitu sombong dan suka menganiaya orang biasa. Tampaknya mereka belum jera setelah ditabok. Sekarang mereka sedang menoleh kemari dengan tatapan mengejek.


Maria sengaja berteriak dengan nyaring, "Aduh, ternyata ada begitu banyak orang di perusahaan kita yang belum pernah menunggang kuda."


Wendy mendongakkan kepalanya dengan sombong, "Sepertinya ada orang yang bahkan baru pertama kali melihatnya, 'kan? Benar gak, Lara Liner?"


Wajah Lara merah padam. Lalu Maria mengungkit-ungkit Victoria, "Nggak apa-apa, bukankah ada Victoria yang senasib denganmu?"


"Hahaha!" Mereka pun tertawa.


Lara mengepalkan tangan dengan erat. Selugu-lugunya dia, dia juga ingin maju dan menabok mereka. Namun, dia dihentikan oleh Victoria yang bersikap tenang.


Dengan cuek Victoria menoleh ke sana. "Nggak apa-apa kalau ada yang nggak bisa, takutnya ada orang yang akan jatuh dari kuda walau dia bisa menunggang kuda. Sebaliknya akan lebih memalukan."

__ADS_1


Tatapannya jelas tertuju pada Wendy dan Maria.


Mereka semakin menjadi-jadi karena tertantang, lalu mencibir, "Kamu yang bahkan nggak pernah menyentuh kuda, apa hakmu untuk berkomentar di sini?"


Victoria berkata dengan suara pelan dan datar sambil melihatnya, "Bagaimana kalau aku pernah?"


Detik berikutnya, mereka langsung tertawa terbahak-bahak. "Kamu pernah sentuh? Kamu kira kuda semahal ini bisa disentuh oleh orang miskin sepertimu?"


Lara benar-benar ingin membela Victoria, tapi dia dicegat oleh Victoria yang bersikap tenang.


Victoria tahu bagaimana cara paling spontan untuk memberi pelajaran pada orang lain.


Tadi saat mengenakan pakaian dan sepatu menunggang, gerakan mereka tampak kaku dan tidak mahir. Jelas bahwa mereka adalah pemula. Bahkan jika pernah menunggang kuda, mereka juga tidak akan bisa menaklukkannya.


Wendy langsung berkata, "Begini saja, ayo kita lomba. Dalam dua puluh menit, lihat siapa yang jatuh dari kuda lebih dulu. Berani gak? Bukankah kamu bilang kamu pernah, Victoria?"


Victoria melihatnya dengan tenang. Ekspresinya tidak terbaca.


Seketika para rekan kerja berminat, terutama mereka yang merasa dirinya bisa menunggang kuda. "Apa hukumannya?"


Maria dan Wendy saling bertatapan, lalu tertawa dengan penuh keyakinan. Wendy menoleh pada Victoria dengan ekspresi remeh. "Victoria itu orang miskin yang bahkan nggak sanggup taruhan uang. Begini saja, siapa yang jatuh dari kuda harus berlutut dan mengetukkan kepala untuk minta maaf pada semua orang di sini."


Kejahatan terlintas dalam mata Maria. Dalam hati dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk menindas Victoria dengan lebih tragis lagi. Jadi dia memprovokasi, "Bagaimana cukup hanya begini saja? Menurutku, orang yang kalah nggak hanya harus mengetukkan kepala untuk minta maaf, juga harus berlari mengelilingi lapangan kuda dengan badan telanjang, biar semua orang lihat! Siapa suruh dia sok hebat?"


Mendengarnya, orang-orang yang berdiri bersama Maria menjadi bersemangat. Mereka adalah nona keluarga kaya yang dimanjakan dan terbiasa untuk menganiaya orang lain.


Jadi mereka juga menyanggupi.


"Iya, begitu saja. Lagi pula, bukankah ada orang yang sok hebat kalau dia bisa menunggang kuda?"


Wendy menoleh pada Victoria. Dia yakin Victoria tidak memiliki latar belakang, koneksi atau pun uang. Jadi Victoria pasti tidak mungkin pernah menunggang kuda.

__ADS_1


Lara membela Victoria, "Bagaimana bisa kalian memaksa orang seperti ini?"


Sambil berkata, dia menggenggam lengan Victoria dengan erat. "Victoria, jangan setuju. Kamu nggak bisa menunggang kuda. Bagaimana kalau kamu terluka?"


Victoria bersikap tenang dan cuek. Matanya tertuju pada Wendy dan Maria yang sangat sombong dan angkuh.


Setelah hening sejenak, dia menepuk punggung tangan Lara dengan pelan. Dia berkata dengan suara rendah, "Nggak apa-apa, biar aku coba."


Mendengar Victoria setuju, Wendy langsung berkata seakan takut dia akan menyesal, "Kalau begitu, ayo mulai sekarang!"


Dia tersenyum dengan penuh kemenangan. "Victoria, hati-hati ya, jangan sampai mati karena jatuh dari kuda."


Selesai bicara, dia berjalan pelan menuju area persiapan.


Victoria mengangguk pada Lara dan berjalan ke sana.


Setelah berganti pakaian menunggang, dia menggiring seekor kuda ke jalur menunggang kuda. Wendy berdiri di samping sambil melihatnya dengan ekspresi remeh. "Victoria, jangan kira aku akan lupa kalau kamu pukul aku. Cepat atau lambat, aku akan balas dendam. Hmph!"


Selesai bicara, Wendy langsung menunggang kuda dan memasuki lapangan kuda.


Victoria merapatkan bibirnya, lalu mengambil rumput di samping untuk menyuapi kudanya. Dia mengelusnya dengan pelan sebelum menungganginya dengan hati-hati.


Lara berdiri di tempat yang tak jauh darinya. Dia menghela napas lega setelah melihat Victoria menunggangi kuda. "Nyaris sekali. Aku benar-benar khawatir kudanya akan tendang dia saat dia naik."


Maria menoleh padanya dengan tatapan remeh. "Semua orang juga bisa naik kuda!"


Di lapangan kuda, Wendy berjalan di depan. Awalnya dia mengira Victoria sama sekali tidak bisa menunggang kuda atau akan jatuh setelah menaikinya. Namun, tak disangka sampai sekarang Victoria masih mengikuti di belakangnya dengan baik-baik saja dan tampak santai sekali.


Perlahan-lahan, Wendy tidak sempat untuk menghiraukan Victoria yang di belakangnya.


Victoria dapat melihat bahwa dia sudah sedikit kewalahan.

__ADS_1


Kuda tidak lagi menurut dan Wendy tidak begitu mahir sehingga sama sekali tidak tahu harus bagaimana menenangkan kuda yang cemas. Sebaliknya, dia menendang perut kuda dengan kuat dan membuat dirinya jatuh dalam bahaya …


__ADS_2