Pacar Pungutku Rupanya Bos Global

Pacar Pungutku Rupanya Bos Global
Bab 6 Pria Brengsek


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Victoria pulang kerja agak malam, jadi dia dengan cemas menunggu bus di stasiun bus dekat perusahaan.


Kerjaan malam ini terlalu banyak, dia sudah berusaha menyelesaikannya dengan secepat mungkin. Tapi, orang yang menunggu di rumah mungkin sudah lapar.


Victoria merasa sedih ketika teringat pria setinggi 1,88 meter seperti Erick yang meringkuk lapar dan lesu seperti anjing besar yang tidak diinginkan siapa pun.


Semakin memikirkan ini, dia pun semakin cemas.


Tepat pada saat ini, sebuah mobil putih berhenti di sampingnya.


Jendela mobil itu diturunkan, lalu manajer yang satu departemen dengan Victoria menatapnya dengan tersenyum. "Victoria, aku antar kamu pulang saja."


Victoria tersenyum, lalu menolak dengan sopan. "Nggak usah, Pak. Bus sudah mau tiba kok."


"Duduk bus sangat repot, juga sempit. Biar aku antar kamu pulang saja."


Victoria tidak melihat manajer, bersikeras menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sejak dia masuk ke perusahaan ini, manajer departemen ini sering menatapnya dengan tatapan yang membuat orang tidak nyaman, bisa dikatakan dia akan menggunakan tatapan ini untuk melihat semua gadis lajang di perusahaan.


Hanya saja, dia tidak pernah melakukan perbuatan yang keterlaluan, jadi Victoria bisa terus bertahan kerja di sana.


Ketika manajer melihat Victoria menolak, dia pun membujuknya, "Victoria, aku nggak ada niat jahat, aku hanya ingin berteman denganmu, seperti aku memberimu bunga di hari Natal juga nggak ada maksud lain. Hanya ingin berteman denganmu."


Victoria sedang menahan kesabarannya, tapi suaranya sudah sedikit dingin. "Manajer, aku sudah bilang, nggak usah."


Manajer itu masih ingin mengatakan sesuatu, ketika terdengar suara mobil. Victoria segera berjalan ke sana. "Bus sudah tiba, aku pergi dulu."


"Eh, Victoria ..." Manajer masih tidak mau menyerah, tapi Victoria sudah naik ke dalam bus.


40 menit kemudian, Victoria buru-buru turun dari bus, lalu berjalan cepat menuju area perumahan yang bobrok.


Dia tidak punya banyak uang. Ketika dia datang ke sini sebulan yang lalu, dia buru-buru ingin mencari tempat tinggal, jadi dia hanya bisa menyewa rumah seperti itu. Lantai pertama agak lembab, tapi harga sewa rumah sangat murah.


Terpikir saat ini Erick belum makan, Victoria pun berjalan masuk dengan cepat.


Ketika dia sampai di pintu, lalu ingin mengeluarkan kunci untuk membuka pintu. Tiba-tiba terdengar suara bangga dari belakang. "Kali ini, nggak bisa menolakku lagi, 'kan?"

__ADS_1


Victoria pun tercengang, lalu dia berbalik badan, kemudian melihat manajer yang berdiri beberapa meter darinya dengan tangan dilipatkan dan menatapnya dengan sombong.


Manajer itu maju selangkah lagi sambil tersenyum. "Victoria, aku sudah susah payah mengawalmu sepanjang jalan, apakah kamu nggak mau mengundangku masuk dan minum teh?"


Mengawal sepanjang jalan? Mengawal atau mengikuti?


Victoria mengadang di depan pintu, tidak membuka pintu. "Manajer sebenarnya nggak usah, karena sudah malam."


Wajah manajer itu sedikit muram di bawah lampu yang remang-remang. Dia berjalan maju selangkah demi selangkah, ekspresinya tersenyum, tapi berniat jahat. Hal itu membuat orang menolaknya secara naluriah.


"Victoria, seharusnya kamu tahu akan ada penilaian karyawan berprestasi di akhir bulan. Kamu juga tahu, kamu akan mendapatkan bonus besar dengan bantuan ucapanku, juga setiap bulan bisa menjadikanmu sebagai karyawan berprestasi."


Victoria menatapnya dengan dingin dan mencibir, "Pak, kamu terlalu melihat tinggi diriku. Meskipun aku nggak ada uang, juga nggak akan begitu serakah."


Kata-kata ini membuat manajer itu terlihat tidak senang. "Kamu!"


Pada saat ini, tiba-tiba pintu di belakang Victoria terbuka.


Victoria pun terkejut, lalu menoleh ke belakang.

__ADS_1


Manajer juga terkejut, lalu melihat seorang pria berjalan keluar dari pintu dengan lambat.


__ADS_2