Pacar Pungutku Rupanya Bos Global

Pacar Pungutku Rupanya Bos Global
Bab 9 Marah


__ADS_3

Tiba-tiba Victoria tertawa, lalu berteriak dari luar, "Hei! Erick, apa kamu keberatan dengan kata 'kalau kamu nggak melepaskannya, aku akan meninggalkanmu'?"


Terdengar suara dari dalam, seperti suara memukul benda, tampaknya dia masih marah!


Ini menyatakan dugaannya benar.


Victoria tersenyum tak berdaya. "Aku itu nggak sengaja berkata begitu, aku merasa ... meskipun kamu nggak pintar, tapi fisik dan kekuatanmu sangat kuat. Kalau kamu memukulnya sampai babak belur, kita nggak sanggup ganti rugi!"


Victoria mendengar lebih jelas, beberapa detik kemudian terdengar suara dari dalam. Kalau didengar dengan seksama, itu suara langkah kaki berjalan ke depan pintu, tapi dengan rasa ragu.


Victoria terus berusaha membujuknya, "Jadi, kamu harus percaya padaku, aku nggak akan meninggalkanmu. Kalau gak, ngapain sebulan lalu aku membawamu kemari, benar gak?"


Setelah diam sejenak, suara langkah kaki semakin dekat, tampaknya sudah mendekat dengan pintu.


Victoria merasa suasana hatinya semakin baik. "Jangan khawatir, meskipun suatu hari kita berpisah, aku pasti akan mencarikanmu keluarga yang baik, dengan begitu aku baru bisa membiarkanmu pergi dengan tenang!"


Langkah kaki itu tiba-tiba berhenti!


Kemudian terdengar suara benturan yang keras! Kali ini, amarahnya lebih besar dari sebelumnya!


Victoria sakit kepala, dia hanya bisa memelototi pintu. "Yang aku bilang nggak salah, ya. Apakah kamu ingin terus mengikutiku hidup susah?!"


"Bang!" Terdengar suara kursi jatuh.


"Beraninya kamu emosi?!"


"Bang!" Terdengar suara meja lampu jatuh.


Victoria menggertakkan gerahamnya, lalu menunjuk pintu sambil berteriak, "Oke. Kamu nggak mau keluar, 'kan? Kalau begitu, jangan keluar lagi, kalau aku menghiraukanmu lagi, aku adalah anak anjing!"

__ADS_1


Dia berbalik badan dengan marah!


Kemudian, dia berjalan selangkah sambil berteriak sekali, "Ada lagi, kalau kamu menghiraukanku, kamu juga anak anjing!"


Siapa takut siapa! Hmm!


Victoria masuk ke dapur dengan marah.


Ketika dia masak, dia tidak bisa menahan dirinya untuk melihat pintu yang tertutup itu. Beberapa menit kemudian, dia menghela napas dengan tak berdaya.


Baiklah.


Untuk apa dia keberatan dengan anak kecil sepertinya, nanti aku sebaiknya mengantar makanan yang sudah dimasak ke sana.


Ketika tidak fokus, pisau di tangannya pun menyayat jarinya.


Setelah kembali ke dapur, Victoria entah kenapa tiba-tiba merasa sedih.


Dia mana pernah memasak, dulunya di rumah dia bahkan tidak pandai membuka telur, tapi sekarang ...


Dia menggigit bibirnya, tiba-tiba merasa lelah, lalu dia meluncur ke bawah dan duduk.


Dia menyadari, meskipun sebulan ini dia sengaja mengabaikan masalah itu, tapi masalah yang terjadi selalu muncul di dalam benaknya. Bahkan mengingatkannya, dulu dia pernah diejek oleh seluruh orang Indonesia.


Dia benar-benar dalam satu malam dari seorang nona menjadi gadis miskin.


Benar-benar sangat lelah.


Victoria bersandar di dinding sambil memejamkan mata, lalu air matanya menetes tanpa terasa.

__ADS_1


Tiba-tiba dia mendengar suara yang samar.


Victoria mengerutkan dahi sambil mendengar dengan cermat.


"Gong ..."


Apa?


Kapan di rumah ada anjing kecil?


Victoria membuka matanya dengan bingung.


Kemudian, dia melihat Erick yang setinggi 1,88 meter duduk di sampingnya.


Pupil matanya yang hitam terlihat sangat jernih, saat ini dia sedang menatap Victoria, seperti anjing besar yang kasihan dan lucu.


"Gong!"


Dia menatapnya, lalu pelan-pelan membuka mulutnya, memanggil dan mengeluarkan suara.


Victoria tiba-tiba teringat sesuatu.


Kalau aku mau menghiraukanmu, aku adalah anjing kecil, lalu kalau kamu menghiraukanku, aku juga anjing kecil.


"..."


Hahaha!


Tiba-tiba Victoria tertawa!

__ADS_1


__ADS_2