
Kota Bandung.
Setelah menyelesaikan kasus penawaran, manajer pun memuji isi penawaran Victoria karena telah dikerjakan dengan sangat baik dan berharap investor bisa direkrut sehingga kekuatan perusahaan akan meningkat dengan pesat.
Victoria hanya menunjukkan sikap tenang dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya dan mengabaikan tatapan para rekan lain yang menusuk bagai pisau yang tajam.
Setelah berjalan keluar dari club, Victoria pun langsung mendengar suara obrolan orang lain di belakangnya.
"Sial, ternyata dia telah mengetahui alamat aslinya dan berhasil datang kemari!"
"Seseorang pasti telah memberitahunya. Jangan sampai ketahuan olehku atau akan kubereskan orang itu!"
"Sudahlah. Jangan cemas, ini baru permulaannya! Aku akan membereskan wanita rendahan yang telah mencuri pusat perhatian kita ini!"
"Benar, manajer juga memperlakukannya dengan berbeda. Siapa tahu kalau dia pernah diajak tidur bersama sebelumnya!”
Langkah Victoria tiba-tiba berhenti setelah mendengarnya.
Wajahnya yang sebelumnya terlihat sumringah itu berubah menjadi dingin.
Sebuah seringaian muncul di sudut bibirnya dan berbalik menuju kedua orang itu.
"Co ... coba kalian katakan itu sekali lagi!"
Suaranya terdengar sangat dingin.
Setiap kata yang dia ucapkan terdengar seolah kesabarannya sudah hampir mencaai batasnya.
Kedua orang itu mungkin saja tidak mengira Victoria akan berbalik untuk mencari mereka dan jelas melihatnya dari dekat, tetapi mungkin saja dia tidak akan berani melawan mereka.
Bagaimanapun juga, Victoria lebih banyak diam saat bekerja di perusahaan dan sepertinya tidak memiliki hubungan dan koneksi dengan orang lain,
Victoria tertawa sinis sambil berkata, "Sepertinya aku terlalu diam di perusahaan biasanya, jadi kalian merasa yakin kalau aku akan mudah untuk ditindas? Kenapa nggak coba tanya, mungkin saja karena aku sama sekali nggak suka pada kalian, apalagi menghirup udara yang sama dengan kalian!"
"Apa katamu?" Wajah kedua wanita itu seketika terlihat sangat marah dan hendak mengangkat tangan untuk menamparnya.
"Ini yang kukatakan!" Sebelum mereka bisa menamparnya, Victoria pun menyerang lebih cepat dan langsung meraih kepala salah satu dari mereka dan membenturkannya ke arah dinding dengan kecepatan tinggi.
"Ah!!" Terdengar suara teriakan kesakitan setelah itu.
Tanpa membuang waktu untuk mengatakan sesuatu, wanita lain yang melihatnya langsung bergegas menyerangnya. Victoria pun maju tanpa rasa takut sedikit pun.
__ADS_1
Alhasil, setelah pertarungan selesai, seluruh tubuh kedua wanita itu terlihat penuh dengan luka. Wajah Victoria juga terluka.
Dia memanfaatkan waktu luang di tempat kerja untuk pergi ke gym dan sesekali belajar tinju. Meskipun teknik pukulannya masih tidak begitu terampil, tetapi kekuatannya cukup untuk melawan kedua wanita lemah yang hanya tahu cara untuk berdandan ini.
Saat Victoria hendak pergi, dia menyeka darah di sudut bibirnya seperti anak nakal dan berkata, "Ini adalah harga yang harus kalian bayar karena telah mempermainkanku dengan memberiku alamat yang salah! Satu hal lagi, berhati-hatilah dengan ucapan kalian! Lain kali kalau berani membuat rumor lagi di hadapanku, jangan salahkan aku kalau kalian harus dioperasi plastik karena wajah dan bibir kalian menjadi miring!"
"Kamu!" Kedua wanita itu memelototi Victoria dengan tatapan mematikan.
Victoria terlalu malas untuk berbicara lebih banyak dengan mereka dan langsung berbalik pergi.
Setelah Victoria pergi meninggalkan tempat, para rekan yang datang untuk melihat keributan itu langsung berpura bersikap baik dan membantu mereka.
Kedua wanita telah kehilangan muka di hadapan semua orang dan masih dipukul oleh Victoria dengan begitu menyedihkan sampai seluruh tubuh mereka bergetar hebat.
"Aku pasti nggak akan pernah mengampuninya!"
"Tenang saja." Salah satu rekan berkata dengan tatapan garang, "Aku mengenal seorang pria kuat dari pasar gelap. Berani memprovokasiku, maka cepat atau lambat aku pasti akan membereskannya!"
...
Setelah kembali dari Bandung, Victoria pun dipromosikan oleh manajer departemen karena desainnya yang begitu luar biasa.
Ada yang cemburu dan ada yang iri. Kedua wanita yang telah dia pukul sebelumnya juga menyebarkan desas-desus kalau dia menggunakan cara curang untuk mendapatkan promosi di perusahaan.
Setiap kali mendengarnya, Victoria tidak pernah mempermasalahkannya dan terlalu malas untuk melayani mereka. Mereka selalu mengira kalau dia berasal dari daerah terpencil yang tidak memiliki latar belakang ataupun koneksi, jadi dia bisa dihargai oleh manajer hanya murni sebuah keberuntungannya saja.
Dia terlalu malas untuk berhubungan dengan para rekan yang hanya suka bergosip dan membicarakan orang lain di belakang mereka.
Setelah mengalami pukulan terberat dalam hidupnya dua tahun yang lalu, dia merasa kalau hidup sendiri dalam damai juga tidak begitu buruk.
Akan tetapi, pada akhirnya selalu ada sebuah pepatah yang disebut sulit untuk menghindari musuh.
Sebuah Rolls-Royce edisi terbatas yang diparkir di depan mall lokal terbesar langsung menarik perhatian para pejalan kaki. Victoria juga melihatnya saat berjalan ke arah pintu sambil mengernyitkan dahi beberapa kali, samar-samar merasa kalau mobil ini terlihat tidak begitu asing.
Begitu masuk ke dalam mall, dia langsung mendengar sekelompok wanita sedang berbisik satu sama lain.
"Entah siapa wanita kaya dari keluarga mana yang ada di lantai tiga itu, mereka begitu kaya sampai membeli seluruh barang di semua toko hanya dalam beberapa saat."
"Kurasa mereka melakukannya dengan sengaja untuk memamerkan kekayaannya. Kalau nggak, untuk apa membawa begitu banyak pria berpakaian hitam yang menjinjing tas di belakang mereka dan berjalan di depan seperti burung merak. Dia terlihat seperti wanita kaya yang sedang berbelanja di acara drama saja."
"Haist, orang kaya ..."
__ADS_1
Victoria menyimak percakapan mereka, tetapi tidak begitu menghiraukannya dan pergi untuk menikmati waktu sendiri.
Sesampai di lantai dua, dia melihat kedua wanita yang mengenakan pakaian mahal dengan beberapa pengawal di belakang sedang memasuki sebuah toko mewah.
Victoria hanya sempat melihat punggung kedua wanita itu, tetapi bagian punggung mereka sudah cukup untuk membuat punggungnya sendiri bergidik.
Sudah dua tahun berlalu dan inilah pertama kalinya mereka bertemu kembali.
Merekalah orang itu.
Dia pun teringat kembali pada mobil yang baru saja dilihatnya di luar.
Jadi, plat nomornya saja yang sudah diganti, tetapi dia masih ingat dengan jelas bentuk dari mobil tersebut, karena ini adalah mobil berstatus tinggi yang dirancang secara khusus.
Mobil Keluarga Wijaya.
Jadi, yang ada di sini tidak lain adalah ibu dan anak dari Keluarga Wijaya.
Dia berdiri di tempat selama dua detik, raut wajahnya begitu kelam. Dia pun mengerucutkan bibir bawahnya seerat mungkin sebelum membalikkan badan untuk turun ke bawah.
Sesampainya di pintu masuk lift, dia bisa mendengar suara tawa mengejek yang penuh kesombongan di belakangnya.
"Yo, bukankah ini adalah adikku tersayang?"
Victoria pun langsung mempercepat langkahnya.
Terdengar suara langkah kaki di belakangnya dan suara wanita itu terdengar lebih keras, "Aduh, dia langsung kabur setelah melihat kita. Ibu, apakah menurutmu dia sudah tahu kalau dia ini menyebalkan?"
Mereka pun telah sampai di hadapan Victoria. Kedua wanita ini tidak lain adalah Tiana dan Brigitta, ibu dan anak dari Keluarga Wijaya.
Wajah Victoria menjadi kelam setelah mendengar ucapan Brigitta.
Dia masih memiliki sedikit harapan terhadap mereka saat diusir dari rumah dua tahun yang lalu. Akan tetapi, sekarang dia sudah tahu seandainya kedua orang ini masih memiliki sedikit perasaan terhadapnya, mereka tidak mungkin akan mengabaikannya selama dua tahun.
Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana ibunya memperlakukannya dari kecil hingga dewasa.
Dia pun membalikkan badan dan menatap mereka dengan tatapan dingin.
Brigitta melihat pakaian yang Victoria kenakan saat ini. Dia mengenakan sebuah sweter putih pudar dan rok panjang. Meskipun terlihat bersih, pakaiannya masih bukan pakaian bermerek dan terlihat sangat lusuh.
Lalu, dia berkata dengan tawa mengejek, "Setelah nggak bertemu selama dua tahun, kulihat kamu masih bisa memakai pakaian seperti ini. Victoria sudah berubah, ya? Apa kamu tahu betapa memalukannya dirimu ini?"
__ADS_1