
"Aduh, kenapa Nona turun? Itu sangat berbahaya!" teriak sopir taksi.
Victoria menyibakkan sejumput rambut di dahinya dengan keras kepala, "Aku akan jatuh dalam bahaya kalau hari ini nggak bisa menghadiri acara tender."
"Nona, jangan bertindak gegabah. Cepat kembali ke sini. Kalau gak, nanti aku harus panggil mobil ambulans untukmu!"
"Aku memang mau mencari mobil ambulans, tapi aku nggak sebodoh itu sampai melukai diriku untuk memanggil mobil ambulans."
Oleh karena itu, dia berencana nebeng mobil ambulans.
Mata Victoria yang besar dan jernih berputar dengan cepat. Setelah berjalan beberapa langkah, dia melihat ada kecelakaan lalu lintas di tak jauh di depan.
Tampaknya baru saja terjadi. Sebuah mobil putih menabrak mobil Bentley extended warna hitam.
Mobil itu adalah model edisi terbatas di seluruh dunia dan sepertinya hanya ada beberapa buah. Itu sangat mahal. Victoria pernah melihatnya di majalah.
Mungkin pemilik mobil Bentley hitam turun dari mobil untuk memeriksa sesuatu, tapi pemilik mobil putih tidak memperhatikannya sehingga langsung menabraknya. Sekarang pemilik Mobil Bentley hitam berbaring tak sadarkan diri di permukaan jalan, tapi tidak banyak darah yang mengalir keluar.
Mungkin karena tahu apa yang telah ditabraknya, pemilik mobil putih berdiri di samping dengan wajah pucat dan sekujur tubuhnya gemetaran.
Tatapan mata Victoria tampak licik karena membawa tujuan tersendiri. Dia mengatur kondisinya saat ini dan menguatkan diri untuk maju ke depan.
Selama dua tahun ini, dia tidak mempelajari apa pun selain bermuka tebal untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Tidak peduli apa itu, langsung maju saja!
"Ah? Aku nggak salah lihat, 'kan? Kok bisa kamu? Ayo bangun. Kenapa kamu bisa kecelakaan?" Victoria memasang wajah terkejut, langsung menyerbu ke sisi orang yang pingsan itu dan meninggikan suaranya.
Mendengar teriakannya yang melengking, orang yang tidak mengetahui keadaannya bahkan akan mengira ini adalah tempat berkabung.
Dua pria berpakaian jas hitam hitam yang sedang bertelepon di samping mobil Bentley tercengang saat melihat Victoria yang muncul tiba-tiba.
"Nona, kamu …"
Victoria fokus berakting tanpa menghiraukan hal lain. Saat ini kemampuan aktingnya sangat hebat. "Argh! Kita baru saja ketemu, kenapa kamu bisa mengalami hal seperti ini? Tolong! Tolong!"
Dia terus berteriak minta tolong sambil menoleh ke sekeliling.
"Apa Nona kenal dia?" tanya pria jas hitam.
"Bagaimana bisa gak kenal? Dia teman masa kecilku. Hubungan kami begitu dekat, tapi tak disangka kondisinya malah seperti ini saat kami kembali bertemu setelah sekian lama! Kenapa bisa begini? Apa Tuhan enggan membiarkan orang unggul hidup?" Victoria berusaha meneteskan beberapa butir air mata.
__ADS_1
"Kepalanya menghadap ke bawah, Nona juga bisa mengenali kalau ini teman masa kecilmu?" Pria jas hitam tampak curiga.
"Tentu saja! Walau terbakar menjadi abu pun bisa kukenali!" Victoria langsung menuju topik utamanya agar dirinya terkesan tegas. "Cepat panggil mobil ambulans, kenapa masih bengong saja?"
Sebelum selesai bicara, dia langsung mengambil ponselnya. Dia bertekad ingin nebeng mobil ambulans untuk pergi dari jalan tol yang tidak macet dan pergi ke Kota Bandung dengan lancar.
Waktunya sangat mendesak. Dia tidak punya pilihan selain berbuat seperti ini. Setelah pulang nanti, dia pasti akan membeli keranjang buah untuk menjenguk korban kecelakaan ini.
Saat telepon tersambung, dua pria jas hitam di samping langsung mencegat, "Permisi … Nona, nggak perlu panggil mobil ambulans. Tenang saja, kondisinya nggak parah. Kami pasti akan menyelamatkannya. Dia adalah rekan kami. Kami semua adalah pengawal. Dia hanya turun untuk memeriksa …"
"Nggak perlu panggil mobil ambulans?" Setelah menutup telepon, Victoria langsung berteriak pada mereka, "Kenapa kalian begitu berdarah dingin? Apa karena kondisinya nggak parah? Dia adalah rekan kalian dan sekarang berbaring di sini dengan begitu kasihan, tapi kalian malah nggak mau panggil mobil ambulans. Apa-apaan kalian ini?"
"…" Dua pria jas hitam itu ragu untuk berbicara.
Tepat ketika itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh di langit.
Victoria mendongak ke atas dengan heran dan terkejut setelah melihatnya.
Sebuah helikopter berlogo hitam sedang memutar baling-balingnya dan terbang kemari dengan ketinggian yang rendah.
Pasir dan kerikil berkepul-kepul dengan dahsyat karena angin yang kuat dari helikopter.
Pria jas hitam tersenyum dengan sangat sopan. "Sudah kami bilang kami akan selamatkan dia. Lihat, inilah cara tercepat."
Cara tercepatnya adalah langsung mengutus sebuah helikopter?
Itu adalah helikopter, memangnya semudah mobil taksi yang bisa dipanggil kapan saja?
Lalu apa maksud mereka yang ragu-ragu tadi? Kalau ada helikopter, siapa yang masih menunggu untuk mencari mobil?
Penumpang dari kendaraan yang terkena macet karena helikopter itu langsung turun untuk menonton. Seketika lokasi kecelakaan menjadi ramai dan hiruk-pikuk. Semua orang sedang menebak tokoh besar mana yang memiliki mobil Bentley dan helikopter pribadi berlogo pribadi ini.
Setelah helikopter mendarat, aparat medis yang profesional langsung turun dan memeriksa kondisi korban luka. Mereka memindahkannya ke atas tandu dan digotong ke dalam helikopter.
Melihat mereka pergi, Victoria sedang dilema sambil meremas tangannya sendiri. Beberapa kali dia ingin berjalan maju, tapi dia mundur lagi dan kembali dilema.
Itu adalah helikopter, apa dia masih bisa nebeng?
Kalau ketahuan, apakah nasibnya akan sangat tragis?
__ADS_1
Dengan kemampuannya yang setengah-setengah, bagaimana mungkin bisa dia mengambil untung dari orang kaya?
Melihat dua pria jas hitam itu hendak pergi, Victoria melangkahkan kaki lagi dan mencoba untuk berjalan maju. "Permisi, bisakah …"
Tepat ketika itu, seorang pria tampan turun dari mobil Bentley hitam. Dia berkata singkat pada pria jas hitam yang hendak pergi, "Biarkan Nona ini ikut."
Mendengarnya, pria jas hitam langsung berhenti dan berbalik badan untuk menjawab dengan hormat, "Baik."
Tanpa perlu ditanya, Ivan Jonathan sang asisten eksekutif ini sedang menyampaikan perintah tuannya.
Salah satu pria jas hitam maju dan memberi gestur tangan dengan hormat. "Nona, mari sebelah sini. Kita bawa Nona ke rumah sakit juga."
Saat Victoria sedang terbengong, Ivan tersenyum dan bertanya dengan sopan, "Nona mau ke rumah sakit mana?"
"Ah?" Victoria terbengong dan menjawab, "Aku bisa pilih? Bagaimana kalau … Rumah Sakit Bandung?"
Tanpa meragukannya, Ivan langsung memberi perintah pada pria jas hitam, "Pergi ke Rumah Sakit Bandung."
"Baik."
Victoria berjalan mengikuti pria jas hitam dengan linglung. Sama sekali tidak terpikirkan olehnya bahwa ini akan berlangsung dengan lancar.
Lalu terdengar lagi suara Ivan yang lembut di belakangnya, "Ini perintah dari Tuan kami. Anda begitu antusias menolong bawahan Tuan, maka Tuan berencana mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Anda setelah Anda selesai sibuk."
"…"
Victoria pun naik ke helikopter dengan linglung.
Setelah helikopter terbang disertai suara gemuruh angin, penonton di sekitar baru bubar perlahan-lahan.
Ekspresi Ivan sangat sopan. Dia berjalan ke samping pintu mobil Bentley dan berkata dengan hormat.
"Tuan Denny."
Di balik jendela mobil warna hitam yang setengah terbuka, seorang pria yang memakai mantel hitam duduk bermalasan di dalam. Meskipun begitu, ini juga tidak dapat menutupi karismanya yang angkuh, dingin, dan tajam bagai pemimpin lahiriah.
Setengah dari wajahnya yang tampan ditutupi oleh kacamata hitam. Dagunya yang tegas tampak seperti ukiran. Di balik kacamata hitam, sepasang matanya yang dingin dengan bermalasan menoleh pada helikopter yang sedang terbang di angkasa.
Kemudian, perlahan muncul senyuman jahat yang samar-samar di bibir tipisnya yang sempurna.
__ADS_1