
Jarinya yang bergaris tegas sedang mengetuk pelan di sandaran kursi dengan bermalasan. Tatapan matanya yang dingin dan tajam tertuju pada layar televisi.
Di layar TV, belasan preman sedang mengelilingi Brigitta dan Tiana.
Badan Tiana lemas saking takutnya, sedangkan Brigitta diseret oleh beberapa preman itu dengan kuat sampai berlutut di lantai. Walau itu di TV, teriakan wanita di sana juga terdengar dengan jelas.
Ada dua preman yang menginjak badan Brigitta, sedangkan beberapa preman lain sedang tertawa dengan sombong di sekelilingnya.
Brigitta dan Tiana berlutut sambil memohon ampun. Wajah mereka pucat karena ketakutan.
Seorang pria gemuk bertato sedang mengatakan sesuatu. Ekspresi Brigitta tampak enggan, tapi perlahan dia menundukkan kepalanya dan mengelap sepatu pria itu.
Pria bertato langsung tertawa terbahak-bahak.
Kemudian, beberapa pria lain langsung merobek baju Brigitta sambil tertawa dengan semena-mena. Jeritan Brigitta yang histeris seakan hampir menembusi layar televisi.
Ekspresi Tuan Denny cuek dan muram. Perlahan dia menyipitkan matanya yang dingin.
Saat ini, manager mall sedang menjelaskan dengan waswas, "Aku sudah berpesan pada mereka untuk memberi pelajaran pada dua wanita itu dan jangan sampai melampaui batasnya. Harus bagaimana menindaklanjuti mereka, tentu tergantung pada perintah Tuan Denny."
Ivan menoleh pada Tuan Denny dan menunggu perintah darinya.
Senyuman perlahan menghiasi bibir tipisnya yang sempurna. Lalu dia berkata dengan suara dingin, "Aku baru saja pulang, nggak seru kalau mereka mati sekarang. Waktunya masih banyak, pelan-pelan saja."
Ivan paham dan mengangguk dengan hormat. "Baik."
Dia melambaikan tangan, lalu membawa manager mall pergi keluar untuk melakukan pengaturan.
Di ruang monitor, tatapan Tuan Denny perlahan-lahan dialihkan pada ruangan lain. Saat melihat sosok perempuan yang mungil dan ramping di ruangan itu, matanya yang dingin memancarkan secercah cahaya lembut.
…
Di suatu ruangan di dalam mall, Victoria melihat ke sekelilingnya dengan heran.
Awalnya dia kira dia akan dikurung di ruang bawah tanah atau yang sejenisnya, tapi setelah menunggu sesaat, dia malah dibawa ke dalam ruangan ini.
Tempat ini tampak mewah seperti kamar suite.
Suasananya nyaman dan hening.
Dia duduk di sofa beludru emas yang empuk. Matanya yang besar dan jernih sedang menatap ke arah pintu.
Pintunya terbuka.
Benar, pintunya dalam keadaan terbuka.
Jendelanya juga terbuka.
Victoria kebingungan.
__ADS_1
Sambil melihatnya, dia merasa otaknya tidak cukup pakai.
Apa mereka tidak takut dia akan kabur?
Mereka langsung pergi setelah membawanya masuk dan tidak mengatakan apa-apa. Aksi macam apa ini?
Kalau benar-benar tidak ada yang menghiraukannya, dia akan … pergi, ya?
Berpikir demikian, Victoria menggigit bibirnya, lalu bangkit berdiri dan berjalan ke pintu. Baru sampai di depan pintu, badannya menegang karena mendengar ada suara.
Kemudian, seseorang yang tampak seperti karyawan muncul di depannya sambil membawa nampan makanan yang mewah.
"Maaf, maaf membuat Anda menunggu."
Karyawan itu menunjukkan ekspresi maaf, lalu meletakkan nampan makanan di meja dengan hati-hati.
Victoria terbengong melihat makanan di nampan tersebut yang mewah dan berlimpah, serta memiliki tampilan yang estetik.
"Ini untuk apa?"
Karyawan itu tersenyum menyanjung sambil menggosok tangannya. "Ini tentu adalah makan siang untuk Anda. Sekarang sudah jam makan."
Victoria terdiam dan melihatnya. "Lalu?"
"Lalu … Anda sudah boleh pergi …" Senyuman karyawan itu sangat profesional dan was was.
Victoria tampak kebingungan. "Aku sudah boleh pergi?"
"Iya." Karyawan itu tersenyum. "Kalau begitu, silakan menikmati makan siang Anda."
Selesai bicara, karyawan mall itu langsung pergi.
Victoria terbengong beberapa detik di tempat. Dia mencoba untuk berjalan ke depan pintu dan melangkah keluar, lalu terus berjalan sampai keluar dari mall.
Di pinggir jalan yang ramai, dia menoleh ke belakang pada mall itu. Wajahnya yang cantik tampak sangat bingung.
Begitu memutar badan, dia melihat ada mobil Rolls-Royce edisi terbatas yang diparkir di pinggir jalan.
Itu adalah mobilnya ibu-anak Keluarga Wijaya.
Victoria mengerutkan alis. Mereka belum pergi?
Tepat ketika itu, terdengar suara bisikan di sekitarnya.
"Serius? Apa kamu nggak salah lihat?"
"Bagaimana mungkin aku salah lihat? Tadi aku baru pulang kerja. Diam-diam aku melihat manager mall menindaklanjuti ibu-anak yang membuat keonaran itu. Kasihan sekali mereka. Itu adalah ruang bawah tanah mall yang khusus digunakan untuk mengurung preman."
"Bukankah mereka bilang mereka adalah investor dari mall ini?"
__ADS_1
"Siapa tahu? Hanya ada satu kemungkinan, yaitu mereka berurusan dengan orang yang lebih hebat!"
"Salah mereka sendiri. Tadi mereka begitu congkak di dalam mall, sungguh membuat orang jengkel!"
"Iya, iya."
Dua orang yang berbicara itu sudah pergi jauh, tapi Victoria masih berdiri di tempat dengan bengong.
Apakah ibu-anak yang dikatakan oleh mereka adalah ibu-anak Keluarga Wijaya?
Ibu-anak Keluarga Wijaya yang ingin memberi pelajaran padanya, tapi malah diberi pelajaran oleh orang lain?
Mengapa?
Victoria melihat ke atas pada mall itu dan teringat akan dirinya yang dilayani dengan meriah di ruang istirahat.
Jadi …
Ibu-anak Keluarga Wijaya kebetulan diserang oleh musuhnya atau karena alasan lain?
Mungkinkah …
Itu adalah ilusinya?
Samar-samar dia merasa sepertinya ada seseorang yang membantunya.
…
Beberapa hari pun berlalu dengan tenang. Perlahan-lahan Victoria juga sudah melupakan kejadian di mall, selain rasa penghinaan setiap kali teringat bahwa dia dijebak dan diberi obat bius oleh kakak kandungnya pada dua tahun yang lalu.
Dia tidak tahu betapa tragisnya pengalaman Brigitta di mall, tapi dia akan membalas dendam sendiri padanya.
Kalau sekarang tidak bisa, suatu hari nanti juga pasti akan terbalaskan.
Di sisi lain, dia juga bersyukur bahwa resepsi tunangan di tahun itu tidak berlangsung sesuai rencana. Kalau tidak, benar-benar sial dia harus menikah dengan Mark yang jahat dan mengerikan, bahkan tega untuk mencelakai kakak kandungnya sendiri.
"Victoria, Victoria, apa yang sedang kamu pikirkan? Halo?" Sebuah tangan dilambaikan di depan mata Victoria.
Victoria tersadarkan dan melihat wajah senyum Lara di depannya.
Lara adalah satu-satunya rekan kerja yang berhubungan dekat dengannya setelah acara tender waktu itu. Victoria tahu dia tidak jahat dan tidak punya niat buruk, maka lama-kelamaan mereka menjadi teman.
Melihat ekspresi Lara yang kebingungan, Victoria menggelengkan kepala, "Nggak ada apa-apa."
Lara juga tidak meragukannya. Dia mengulurkan kepalanya ke luar jendela dengan ekspresi bersemangat. "Katanya sudah mau sampai lapangan kuda. Nggak tahu seperti apa lapangan kuda paling terkenal di negeri kita ini. Dengar-dengar luas permukaannya sekitar 667.000 meter persegi. Di dalamnya nggak hanya terdapat fasilitas yang sangat unggul, juga ada kuda Akhal-Teke yang dikembangbiakkan dengan kualitas unggul. Harga setiap kudanya sangat mahal."
Victoria merespons dengan cuek. Dia tidak terlalu berminat, bahkan hanya datang karena ini adalah pengaturan dari perusahaan.
Lara sangat bersemangat dan terus berceloteh, "Dengar-dengar tempat ini dipilih karena keadaan alamnya yang indah. Banyak selebriti dan orang kaya yang datang. Kali ini perusahaan benar-benar murah hati sampai rela membiayai kita main di sini."
__ADS_1
Di tengah bicara, mobil berangsur-angsur berhenti.
"Sudah sampai, sudah sampai." Lara tersenyum sambil menarik Victoria turun dari mobil.