
Victoria menatap pandangan penuh kecaman Brigitta yang tidak dia sembunyikan. Pandangan itu sangat berbeda dengan apa yang Brigitta tunjukkan di hadapan ayahnya. Dia baru teringat bahwa sepertinya selama ini, Brigitta hanya akan bersikap penuh perhatian pada dirinya di depan ayahnya.
Tiana berdiri di samping Brigitta dan menatap si pembawa sial itu dengan penuh kebencian, "Kita benar-benar sial hari ini! Kenapa bisa bertemu dengan orang yang menyebalkan ini!"
Victoria mengepalkan tangannya. Dari kecil sampai besar, ibunya selalu bersikap begini terhadapnya. Saat dia diusir dari rumah dua tahun yang lalu, ibunya ini yang tidak berhenti membakar-bakar ayahnya sehingga dia diusir dari rumah!
Saat itu, Victoria tidak dapat melihat jelas kedok mereka. Sekarang, saat dia sudah keluar dari rumah Keluarga Wijaya, dia baru dapat melihat dengan jelas betapa konyolnya dirinya saat masih berada di rumah itu.
Dia menghela napas dan menatap mereka dengan dingin, "Ada sesuatu yang selalu ingin aku tanyakan, apakah aku anak kandung Keluarga Wijaya?"
Begitu kalimat itu dilontarkan, pandangan Tiana sedikit berubah.
Senyum Brigitta penuh ejekan, "Kamu tentunya berharap bahwa kamu adalah keturunan Keluarga Wijaya, 'kan? Tapi apakah kamu pantas? Kamu sudah mempermalukan Keluarga Wijaya! Kalau aku jadi kamu, lebih baik aku mati saja!"
Brigitta sengaja berkata dengan suara yang keras. Orang-orang yang melewati tempat itu sudah mulai berhenti untuk menonton mereka. Victoria dapat merasakan dengan jelas merasa bahwa semua pandangan orang-orang itu tertuju padanya.
Sebuah emosi yang tidak berhenti bergejolak di dalam hati Victoria bertambah intens. Dia menatap ibu dan anak Keluarga Wijaya itu dengan pandangan yang berapi-api, "Justru karena kalian mengharapkan hal itu, aku nggak akan mati! Nggak peduli aku pantas atau gak, kalau perlu, aku pasti akan pergi tes DNA. Aku nggak percaya ada Kakak dan Ibu kandung seperti kalian di dunia ini!"
Tiana menatap Victoria dengan tenang. Dia tahu Victoria tidak akan bisa melakukannya karena dia tidak akan menyetujui hal itu.
Dia sengaja menatap Victoria dengan penuh kebencian, "Kamu sekarang sudah bukan lagi bagian dari Keluarga Wijaya. Aku bahkan merasa berbicara denganmu hanya buang-buang waktu saja."
Tiana sudah bermaksud untuk pergi, tetapi Brigitta malah tidak ingin melepaskan Victoria begitu cepat, "Ibu, jangan buru-buru pergi dulu."
Dari kecil sampai besar, Brigitta sangat membenci adiknya itu karena Victoria selalu lebih unggul dari dirinya dalam segala hal! Ayah hanya menyayangi Victoria dan bahkan sudah berencana untuk menikahkan Victoria dengan Keluarga Gunawan. Ayahnya sama sekali tidak pernah memikirkan dirinya!
Semakin dia memikirkannya, Brigitta semakin merasa bahwa ini adalah kesempatan yang sangat langka baginya untuk bisa memandang rendah Victoria yang sedang kesusahan itu!
Brigitta sengaja memikirkan sesuatu, lalu berkata dengan manja, "Ibu, menurutmu apakah Ayah akan merasa sakit hati kalau dia melihat Victoria yang seperti ini?"
Tiana mencibir, "Sakit hati apanya! Sudah untung Ayahmu nggak memberinya pelajaran. Kalau bukan karena hubunganmu dengan Tuan Mark, bagaimana mungkin Keluarga Wijaya dapat terlepas dari bahaya. Saat ini, kamu adalah anak kesayangan Ayahmu!"
Mata Victoria sedikit bergetar. Brigitta dan Mark sudah bersama?
Brigitta merasa sangat puas setelah melihat ekspresi Victoria. Dia sengaja berkata dengan suara yang nyaring, "Apakah kamu nggak tahu? Aku dan Kakak Mark sudah bersama. Kakak Mark selalu memberitahuku betapa beruntungnya dia nggak menikahimu. Nggak lama lagi, Kakak Mark akan resmi menikahiku ..."
__ADS_1
Tiana melirik Victoria dengan jijik, "Dia sendiri yang nggak tahu diri. Dia jelas-jelas sudah tahu bahwa kamu dan Tuan Mark saling menyukai, tapi dia malah berebut denganmu dan menjadi orang ketiga. Mampus jadi seperti ini!"
Kata-kata itu jelas mempunyai makna lain.
Sudah saling menyukai dari dulu …
Victoria mengerutkan alisnya. Dia mengingat perilaku Mark dan Brigitta saat Mark datang ke Kediaman Wijaya beberapa kali itu.
Saat itu, dia tidak menyadarinya.
Ada suatu hal yang tiba-tiba muncul di benaknya dan Victoria pun tiba-tiba tersadar!
Jadi …
Dia menatap Brigitta dengan mata yang berapi-api!
Dia pernah curiga sebelumnya kenapa ada segelas jus yang disediakan untuknya sebelum dia berangkat. Sekarang, sepertinya dia sudah menemukan alasannya.
Saat ini, dia benar-benar sangat yakin.
Brigitta juga mengerti apa yang dimaksud Victoria, tetapi dia pura-pura bodoh, "Apa? Apakah penyakit gilamu kambuh?"
Mata Victoria seolah-olah hendak meluncurkan bilah-bilah es, "Jus itu! Kamu menaruh obat di dalam jus sebelum aku berangkat ke pesta pertunangan! Itu sebabnya aku hilang kendali!"
Sepertinya kemunculan Erick malam itu juga karena dijebak oleh orang lain. Orang di balik layar itu adalah …
Mark!
Victoria sangat murka. Ternyata dirinya dan Erick sama-sama sudah dijebak!
Brigitta sama sekali tidak merasa bersalah atau takut meskipun kedoknya telah dibongkar oleh Victoria. Dia malah tertawa dengan bengis, "Kenapa! Kamu baru sadar sekarang? Dasar idiot! Kamu memang sudah ditakdirkan untuk tidur dengan si idiot Keluarga Gunawan itu! Dasar pria dan wanita jalang!"
"Plak!"
Sebuah tamparan keras melayang ke wajah Brigitta!
__ADS_1
Ekspresi Tiana berubah seketika setelah melihat wajah Brigitta yang bengkak karena ditampar!
Setelah Brigitta tersadar, tubuhnya gemetar karena marah. Dia melebarkan matanya dan memelototi Victoria, "Kamu berani memukulku!"
Brigitta mengangkat tangannya untuk membalas, tetapi gerakan Victoria lebih cepat. Dia menahan lengan Brigitta dengan satu tangan dan menamparnya sekali lagi dengan tangan lainnya!
"Ah!"
Brigitta langsung jatuh ke atas lantai!
Victoria pernah belajar taekwondo, jadi sangat gampang baginya untuk menghadapi Brigitta! Dia tidak tahu kenapa dia bisa tiba-tiba begitu marah. Dia bahkan tidak begitu lepas kendali saat Brigitta memakinya karena dia pernah curiga bahwa memang Brigitta yang sudah meracuninya.
Namun saat Brigitta memaki Erick, darahnya langsung menyerbu otaknya!
Memangnya dia itu siapa hingga berani memaki Erick!
Setelah melihat kejadian itu, Tiana menjadi murka karena malu. Baru saja dia mau menampar Victoria, Victoria memelototinya tanpa takut atau pun menghindar, "Kalau kamu berani memukulku, kamu juga akan berakhir sama seperti Brigitta!"
Tiana pun gemetaran setelah melihat pandangan Victoria.
Saat ini, Victoria terlihat bagaikan seekor binatang kecil yang sudah murka karena diganggu. Sepasang matanya itu melototi ibu dan anak di hadapannya dengan mata yang haus darah!
Brigitta bangkit dengan malu, rambutnya bahkan sudah berantakan karena ditampar. Orang yang mengerumuni mereka tidak berhenti menunjuk-nunjuk ke arahnya dan bahkan ada yang tertawa.
Penghinaan semacam ini membuat tubuh Brigitta gemetaran. Rambutnya masih berantakan, tapi dia memelototi Victoria dengan ganas, lalu memalingkan kepala dan berteriak, "Kenapa kalian masih diam! Cepat turun tangan dan pukul dia sampai mati!"
Beberapa pengawal yang mengikuti Brigitta baru tersadar dan buru-buru melangkah maju!
Ekspresi dingin di wajah Victoria masih tetap terlihat mengerikan. Dia tidak menghindar, apalagi memohon belas kasihan.
Beberapa pengawal yang telah maju itu pun mundur beberapa langkah setelah melihat pandangan Victoria itu.
Melihat wajahnya yang bengkak, Brigitta sudah tidak memedulikan citranya lagi. Jadi, dia berteriak bagaikan orang gila, "Cepat turun tangan! Bunuh wanita jalang ini!"
Victoria tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Dia melihat sesuatu dari sudut matanya.
__ADS_1
Saat beberapa orang di hadapannya itu hendak menyerangnya, Victoria dengan cepat meraih alat pemadam api yang berada di samping tangga. Dia lalu membukanya dengan cepat dan menembaknya dengan liar ke arah beberapa orang itu setelah membidik dengan tepat.