
Untuk mencari sebuah senjata Lewis berusaha menemukan tempat pandai besi karena menurutnya ia bisa membeli senjata sekaligus meminta sedikit modifikasi nantinya.
Beberapa menit setelah menyusuri kawasan pasar yang sangat ramai, Lewis akhirnya menemukan sebuah kios yang dimiliki oleh seorang pandai besi.
Lewis menghampiri kios yang dijaga oleh seorang pandai besinya sendiri. Lewis mulai melihat-lihat berbagai senjata di kios dan mencari senjata yang cocok untuk dia gunakan.
Dari banyaknya senjata yang ada disana, tidak ada satupun yang ia suka meski penampakannya sangat mencolok sekalipun. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah pedang yang ditaruh bersama pedang-pedang rusak didalam tong.
Lewis mengambil pedang hitam yang masih lengkap dengan sarungnya itu dan memperhatikan baik-baik senjata tersebut.
"Meski kelihatan cukup besar ternyata pedang ini ringan juga..." Gumam Lewis sambil mengayunkan pedang ditangannya. "Paman, berapa harga pedang ini?"
Pandai besi yang kelihatan sudah berumur lima puluh tahun dan tengah menempa sebuah pedang kemudian menoleh kearah Lewis.
"Sepuluh koin emas, belum termasuk sarung pedangnya!" Balas pandai besi yang tampaknya ingin melakukan penipuan kepada Lewis.
Mendengar nominal yang harus ia keluarkan hanya untuk sebuah pedang usang dan berdebu tentu saja Lewis merasa ditipu. "Yang benar saja. Masa harga pedang usang seperti ini sepuluh koin emas dan belum termasuk sarungnya?!"
"Hei, nak... Pedang ini bukanlah sembarang pedang. Meski kelihatan usang dan berkarat tetapi pedang ini pernah digunakan oleh seorang petualang terkenal!" Ucap pandai besi yang mencoba mengakali Lewis.
Lewis yang dulu bekerja sebagai seorang arkeolog tentu saja tidak dapat ditipu begitu saja oleh pandai besi. "Meski pernah digunakan oleh seorang petualang terkenal sekalipun, percuma saja kalau tidak bisa digunakan. Lihatlah, bahkan pedang ini tidak bisa dikeluarkan dari sarungnya, Paman..."
"Cih! Kamu membuat semuanya menjadi berat, Nak... Baiklah, lima koin emas dan kamu boleh membawa pedang itu pergi. Bagaimana?" Ucap pandai besi.
Untuk sejenak Lewis memikirkan apakah ia akan mengambil pedang usang tersebut atau tidak karena harganya cukup mahal dengan apa yang didapatkan.
[ DING! Host sebaiknya membeli pedang tersebut. Ada hal menarik dari pedang ini sendiri dan jika Host membelinya, maka Anda akan sangat diuntungkan! ]
Mendengar perkataan dari sistem tentu saja membuat Lewis merasa penasaran apalagi yang mengomentari pedang itu sendiri adalah sistemnya.
'Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh pedang ini. Bahkan aku sangat yakin jika pedangnya dicabut dari dalam sarung akan langsung patah?' Tanya Lewis sambil menimbang-nimbang untuk membelinya atau tidak.
[ DING! Sistem akan memberi satu bocoran saja kepada Host dan selebihnya Anda bisa mencari tahunya sendiri. Pedang ini memiliki resistensi terhadap semua jenis serangan sihir! ]
Mendengar kalau pedang ditangannya memiliki resistensi terhadap segala jenis serangan sihir tentu saja membuat Lewis merasa terkejut.
__ADS_1
Lewis tidak menyangka bahwa ada pedang semacam ini apalagi dibiarkan tergeletak dalam waktu lama bersama pedang-pedang tak terpakai lainnya.
Penemuan ini seperti jackpot tersendiri untuk Lewis, karena hanya dengan mengeluarkan lima keping emas, dirinya bisa mendapatkan pedang sebagus ini.
Dengan senang hati Lewis mengeluarkan lima keping emas dan membayar pedang usang tersebut sebelum pergi meninggalkan kios.
Pandai besi seketika tersenyum licik dan tidak menyangka masih saja ada seseorang yang akan termakan akal busuknya, padahal dikota ini dia sangat terkenal karena suka menipu pembelinya.
Pandai besi tidak sadar bahwa sebenarnya dialah orang yang dirugikan dalam transaksi ini, karena tak melakukan penelitian pada pedang usang yang telah berada di tokonya selama 20 tahun lebih.
Pria berusia lima puluh tahun itu, mendapatkan pedang usang tersebut saat masih menjadi petualang dan tak sengaja mendapatkan nya didalam sebuah dungeon.
Awalnya ia sangat senang, namun karena tidak dapat menemukan fungsi dan tak bisa mencabut pedang itu dari sarungnya, akhirnya pandai besi itu hanya menyimpan nya saja.
Disisi lain Lewis yang sangat diuntungkan merasa senang meskipun kini pedang usang berwarna hitam ditangan nya tidak dapat dicabut dari sarungnya.
"Asalkan bisa menghalau semua jenis serangan sihir, rasanya sudah sangat cukup untukku..." Gumam Lewis sembari mengaitkan sarung pedang di pinggul nya sebelum berlari menuju arena tempat pertarungan di adakan.
Sesampai disana Lewis dibuat takjub saat melihat penampakan sebuah Koloseum yang mirip dengan di Italia. Lewis tersenyum lebar dan segera bergegas menuju tempat pendaftaran karena melihat pertandingan tak lama lagi akan segera dimulai.
Tidak hanya dari kalangan pria saja yang mengikuti pertarungan ini, tetapi juga para petualang wanita yang tampaknya ingin mengundi nasib disana.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit kini giliran Lewis untuk melakukan pendaftaran. Lewis diminta untuk membayar biaya sebesar lima koin emas kepada pengurus.
Harga yang terbilang mahal untuk melakukan pendaftaran, padahal jelas nyawa dari setiap peserta yang mendaftar adalah taruhannya. Ini seperti kamu harus membayar untuk kematian mu sendiri.
Namun jelas Lewis dan para peserta lainnya tidak memperdulikan hal itu, asalkan menjadi pemenang maka semua ini akan terbayar dan bisa merubah nasib keluarga mereka.
Begitu masuk kedalam, suara gemuruh para penonton langsung terdengar nyaring ditelinga Lewis. Ada ribuan orang dari berbagai kalangan mulai dari bangsawan sampai rakyat biasa yang akan menyaksikan pertarungan gladiator ini.
Sebelum naik keatas arena, Lewis diberi arahan oleh seorang prajurit untuk berkumpul terlebih dahulu dengan para peserta lainnya.
Lewis dibuat heran saat melihat ada seorang peserta yang tampaknya masih berusia sepuluh tahun tengah duduk sendirian dan terlihat gugup.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini, Nak?" Tanya Lewis sambil duduk disamping anak laki-laki yang terlihat gugup sambil memegang sebuah belati.
__ADS_1
Melihat ada seorang pria misterius yang menghampiri dan duduk disebelahnya, membuat anak laki-laki itu menjadi tambah gugup apalagi saat melihat pedang yang dibawa oleh pria misterius tersebut.
Bagi anak kecil itu sendiri meski pedang yang dibawa oleh pria misterius disamping nya tampak usang, tetapi dia yakin kalau itu bukanlah pedang biasa apalagi saat melihat penampilan pria misterius itu sendiri yang terlihat seperti petualang pengelana.
"Te-Tentu untuk mengikuti pertandingan ini, Kak..." Jawab anak laki-laki tersebut dengan gugup sambil terus memperhatikan pedang milik Lewis.
Lewis tertawa mendengar apa yang baru saja anak itu katakan, karena tidak menyangka kalau anak berusia sepuluh tahun akan mengikuti pertarungan yang sangat berbahaya.
"Bukan itu... Maksudku kenapa kamu mau mengikuti pertandingan berbahaya seperti ini. Apa kamu memiliki alasan unutk mengikutinya?" Tanya Lewis sambil memperhatikan para peserta lain untuk melakukan analisa.
Anak kecil yang memiliki nama Alvin langsung menjadi murung saat ditanya alasannya mengikuti pertandingan ini. "Sebenarnya aku terpaksa mengikuti pertandingan ini, karena membutuhkan uang untuk membeli obat temanku yang sedang sakit. Kak..."
"Hm? Lalu kenapa kamu tidak menggunakan uang pendaftaran untuk membeli obat temanmu itu saja daripada membahayakan nyawamu sendiri?" Lewis bertanya dengan heran.
"Harga satu potion penyembuh sangat mahal di toko dan aku tidak punya uang sebanyak itu. Untuk mendapatkan uang pendaftaran saja aku harus bekerja serabutan selama satu tahun..." Balas Alvin sambil tersenyum mencoba untuk tetap tegar.
Merasa ada yang janggal, Lewis tentu saja penasaran tentang orang tua dari anak kecil itu yang memperbolehkan putra mereka bekerja bahkan mengikuti pertandingan berbahaya.
"Memangnya kemana orang tuamu sampai kamu harus bekerja dan memperbolehkan mengikuti pertandingan semacam ini?" Tanya Lewis yang merasa iba dengan anak kecil tesebut.
Alvin mencoba untuk tetap tersenyum saat ditanyai tentang orang tuanya oleh Lewis. "Orang tuaku merupakan seorang petualang dan mereka sudah tewas saat menjalankan misi diluar kota. Bahkan aku tak bisa melihat mereka untuk terakhir kalinya..." Balas Alvin dengan bibir yang bergetar.
Menyadari bahwa anak tersebut merasa sedih, Lewis menepuk pelan punggung anak tersebut dan mencoba untuk menenangkan agar tidak menangis.
"Maaf sudah membuat mu teringat dengan orang tuamu lagi. Namaku Lewis, bagaimana denganmu?" Ucap Lewis.
"Alvin... Alvin Edgar..." Balas Alvin dengan suara bergetar sambil mencoba menahan diri agar tidak menangis. Jujur saja ini pertama kalinya bagi Alvin menemukan orang yang terlihat perduli kepadanya semenjak kematian orang tuanya.
Selama satu tahun lebih Alvin dipaksa untuk menghadapi kerasnya hidup di dunia yang sangat berbahaya ini, dimana kematian adalah hal yang wajar bagi semua orang.
"Alvin Edgar kah... Kalau boleh tau kemampuan apa yang kamu kuasai sampai berani ikuti dalam pertarungan ini?" Tanya Lewis.
Dengan senang hati Alvin menunjukkan sebuah trik kepada Lewis dimana ia bisa menyalurkan aliran listrik yang menyelimuti pisau kecil miliknya.
Melihat trik yang ditunjukkan oleh Alvin tentu saja membuat Lewis merasa kagum, bahkan sistem juga tampaknya kagum dengan kemampuan anak kecil berusia sepuluh tahun tersebut.
__ADS_1
[ DING! Element sihir yang dimiliki oleh anak ini sangat langka Host. Dari setiap sepuluh juta orang, hanya satu dari mereka yang memiliki Element Thunder! ]