
Lima hari berlalu semenjak Lewis bertemu dengan Jack. Tak terasa perjalanan yang dilalui oleh mereka berdua sebentar lagi akan selesai, dengan sampainya mereka di kota Barren Desert.
Dari kejauhan Lewis dapat melihat sebuah kota dengan dinding kokoh setinggi lima belas meter yang mengelilinginya.
"Kiakk!!!" Jack memekikkan suaranya dan membentangkan kedua sayapnya sebelum pergi terbang meninggalkan Lewis.
Lewis yang melihat Jack pergi tidak berusaha untuk mengejar burung elang tersebut, sebab paham kalau Jack tidak ingin masuk ke dalam kota dan memilih untuk berkeliaran diluar sambil menunggu Lewis selesai dengan urusannya di kota Barren Desert.
Sesampainya didepan gerbang masuk yang dijaga oleh beberapa prajurit, Lewis segera mengantri untuk mendapatkan ijin masuk dari pos penjaga.
"Tolong tunjukkan plat ijin masukmu!" Pinta seorang prajurit yang berjaga didalam pos penjaga dengan raut wajah malas.
Dari dalam saku Lewis mengeluarkan plat besi yang tempo hari ia temukan saat tengah mengorek barang-barang milik para korban dari kedua monster sebelumnya.
Lewis kemudian menunjukkan plat yang ia bawa kepada penjaga, tetapi tampaknya penjaga itu tidak terlalu perduli dan tak melihat plat yang ia bawa, seolah perintah dari penjaga tadi untuk menunjukkan tanda pengenal hanya formalitas saja.
"Letakan sepuluh koin perak disini dan kamu boleh melanjutkan perjalanan mu ke dalam!" Ucap sang penjaga dengan malas dan bosan.
Sepuluh koin perak lalu Lewis letakkan di atas meja sebelum ia masuk kedalam kota Barren Desert untuk mencari perbekalan dan informasi.
Beberapa pejalan kaki yang melihat kedatangan Lewis merasa sedikit penasaran karena memakai pakaian lusuh dan sobek-sobek.
Mendapat tatapan dari pejalan kaki yang lain, Lewis memilih untuk mengabaikan mereka dan mengalihkan pandangannya kearah bangunan kota yang masih banyak terbuat dari tanah liat dan kayu.
Ini mengingatkan Lewis dengan bentuk peradaban kuno yang sering ia pelajari, namun bedanya orang-orang yang ada di dunia Eternal memiliki kekuatan sihir.
Lewis kemudian menyambangi sebuah bar. Pandangan dari beberapa petualang seketika tertuju kearah Lewis yang terlihat seperti seorang gelandangan.
__ADS_1
"Tolong segelas bir dan satu porsi daging kambing panggangnya!" Pinta Lewis sambil melihat kearah papan menu yang ada diatas.
Seorang wanita muda yang bertugas menjadi pelayan segera memberikan segelas bir terlebih dahulu kepada Lewis dan menyiapkan daging panggang yang pria itu pesan.
Ketika makanan pesanannya datang Lewis langsung menyantap makanannya dan tidak mengatakan sepatah katapun, yang membuat pelayan wanita serta dua orang pelanggan di dekatnya menjadi penasaran dengan sosok Lewis.
"Hei, aku belum pernah melihatmu sebelumnya di kota ini. Dari mana asalmu, apa kamu seorang musafir?" Tanya pelayan wanita dengan raut wajah ceria sambil menyangga kepalanya menatap Lewis.
Ditanya oleh wanita eksotik khas timur Tengah itu, Lewis lalu berhenti makan dan meletakkan kembali daging yang sedang ia makan keatas piring.
"Maaf nona, seharusnya Anda mengerti aturan untuk tidak mengajak berbicara kepada orang yang sedang makan..." Balas Lewis dengan tetap menundukkan kepala dan menyembunyikan wajahnya menggunakan tudung kepala.
"Eh? Maaf aku hanya penasaran saja karena melihat seorang pendatang baru. Kalau begitu silahkan di lanjutkan dan maaf sudah mengganggumu!" Ucap pelayan wanita tersebut sambil tertawa canggung.
Mendengar permintaan maaf dari sang pelayan, Lewis hanya berdehem dan mengangguk pelan sebelum melanjutkan waktu makannya.
"Bagaimana, apa kamu mau ikut berpartisipasi denganku. Hadiah yang ditawarkan cukup banyak dan bisa membuat kita berdua kaya mendadak jika menang!" Ajak seorang pelanggan pria kekar kepada temannya.
Raut wajah teman dari pria kekar tersebut seketika menjadi cemas dan tampaknya ia takut untuk mengikuti perlombaan yang sedang mereka bahas.
"Walaupun hadiahnya sangat banyak, aku tidak mau ikut. Yang ada nyawaku langsung hilang saat masuk kedalam arena!" Tolak pria itu sebelum meninggalkan temannya.
Pria kekar segera mengejar temannya untuk kembali membujuk agar mau ikut mengikuti lomba bersamanya dan meninggalkan bar tempat makan.
Lewis melirik kearah pria kekar yang tengah berjalan lari mengejar temannya. Mendengar obrolan mereka tadi tentu saja membuat Lewis sangat tertarik, apalagi ini membahas tentang uang.
Pemuda itu lalu meminum bir dan menyeka mulutnya. Lewis lalu meletakkan satu keping koin emas dimeja dan menyodorkan nya kepada pelayan yang berdiri di hadapan.
__ADS_1
"Ini terlalu banyak tuan. Apa kamu tidak punya uang yang lebih kecil?" Ucap sang pelayan saat melihat Lewis membayar dengan satu keping koin emas.
"Tidak masalah ambil saja, tapi bisakah kamu menjelaskan sedikit tentang lomba yang mereka katakan tadi?" Balas Lewis sambil menyinggung tentang obrolan dua pelanggan tadi.
Sang pelayan mengangguk dan memberikan Lewis secarik kertas berisi pengumuman tentang lomba yang dia maksud sebelumnya.
"Lomba yang mereka maksud tadi sebenarnya adalah salah satu dari festival tahunan di kota ini. Hadiahnya sendiri cukup banyak berupa lima ribu koin emas, tiga poison penyembuh dan penambah mana, serta satu senjata kelas A...."
"Meskipun hadiahnya cukup banyak, tetapi hanya satu peserta terakhir yang akan menjadi pemenangnya. Karena sebenarnya perlombaan itu sebagai bentuk persembahan kepada Dewa Matahari...."
"Masyarakat di kota ini percaya, dengan mereka melakukan sebuah pengorbanan maka sang Dewa Matahari akan memberikan mereka hujan. Kamu tau bukan di kota ini sendiri air adalah hal yang paling berharga?" Ucap sang pelayan menjelaskan sebisa mungkin tentang lomba ini kepada Lewis.
Penjelasan yang diberikan oleh pelayan wanita itu seketika membuat Lewis menggelengkan kepala. Ia masih tidak menyangka orang-orang di dunia ini masih menerapkan upacara persembahan dengan menumbalkan korban.
Padahal jika dengan logika mereka sebenarnya bisa menyalurkan air dari aliran sungai yang jaraknya 25 kilometer dari sana tanpa harus melakukan upacara semacam.
Bahkan bisa saja mereka dengan mudah mendapatkan air menggunakan sihir. Tetapi karena upacara ini sendiri adalah tradisi yang dipercaya oleh masyarakat, sepertinya tidak mungkin menghilangkan begitu saja.
'Padahal mereka tinggal pindah dan meninggalkan padang gurun untuk mencari wilayah hijau. Ya, tapi ini juga bukan urusanku. Apa untungnya megurusi hal semacam ini...' Batin Lewis.
Merasa puas dengan informasi yang diberikan oleh pelayan tersebut, Lewis menaruh dua keping koin emas lagi di meja untuknya sebelum pergi.
Pelayan itu tentu saja sangat senang mendapat tiga keping koin emas yang sama dengan upahnya bekerja selama satu bulan dibar.
Melihat hari yang sudah mulai gelap, Lewis memutuskan untuk menyewa satu kamar di sebuah penginapan yang bisa dibilang tidak cukup bagus dengan harga satu koin perak per malam.
Setelah masuk ke dalam kamar Lewis lalu duduk di pinggir kasur dan melepaskan alas kakinya. Saat Lewis membalik sepatunya terlihat banyak pasir yang berjatuhan ke lantai.
__ADS_1
Lewis segera membersihkan sepatunya yang penuh dengan pasir sebelum membaringkan tubuhnya diatas kasur lalu beristirahat malam itu.