Pandora System

Pandora System
Terbunuhnya Caesar


__ADS_3

Para penonton kini dibuat tegang saat melihat peserta terakhir hanya tersisa dua orang saja. Melihat salah satu peserta terakhir hanya seorang anak kecil membuat beberapa orang menjadi kasihan terhadapnya.


Tentu pertarungan terkahir ini sangat tidak adil karena seorang anak kecil akan melawan seorang pria dewasa yang telah membunuh monster Minotaur bahkan pahlawan kota itu sendiri.


Meski pria dewasa tersebut kini terlihat sedang terluka parah, tetapi tak menutup kemungkinan kalau ia bisa sewaktu-waktu menyerang anak kecil itu.


Sementara itu Alvin yang disuruh oleh Lewis untuk membunuhnya tentu tidak dapat melakukan hal ini. Alvin merasa takut apalagi saat melihat Lewis yang sudah terluka dan sedang sekarat.


Meski mudah bagi Alvin untuk membunuh Lewis yang sudah terkena racun, ia tidak berani untuk membunuh Lewis karena masih membutuhkan bantuan pria tersebut.


Melihat Alvin yang tidak bergeming sedikit pun membuat Lewis merasa heran, masalahnya anak tersebut bisa saja membunuhnya agar mendapat hadiah utama.


"Jika kamu tidak mau bergerak jangan salahkan aku kalau nanti melukaimu, Alvin..." Ucap Lewis sambil menatap tajam kearah Alvin seolah dirinya sedang marah.


Alvin menggelengkan kepalanya lagi dan masih tidak mau menyerang. Alhasil Lewis langsung berlari dengan sangat cepat menuju dirinya dan langsung memukul bagian perutnya hingga dia tak sadarkan diri.


Tubuh kecil Alvin seketika rubuh ke tanah dan membuat semua orang yang melihat kejadian tersebut langsung memaki Lewis karena telah membunuh seorang anak kecil.


"Dasar biadap, teganya kamu membunuh seorang anak kecil!" Maki seseorang dari bangku penonton yang merasa kesal dengan sikap Lewis.


"Kamu seharusnya mengalah kepada seorang anak kecil, apalagi kamu sendiri sudah sekarat terkena racun!" Ucap penonton lain yang menganggap Lewis adalah pria pengecut.


Hujatan dan makian terus dilontarkan dari berbagai penjuru tempat duduk para penonton. Beberapa dari mereka bahkan melempari Lewis menggunakan apa saja yang bisa mereka lempar.


Lewis tidak merespon makian dari para penonton. Ia memilih diam sambil memperhatikan tubuh kecil Alvin yang tergeletak ditanah.


'Kenapa mereka bertingkah seolah perduli kepada anak ini? Padahal mereka juga yang membiarkan anak sekecil ini tinggal di jalanan...' Batin Lewis merasa semua orang di sana memiliki sifat yang sangat busuk.

__ADS_1


Para penonton yang mencaci Lewis seolah tidak mau bercermin mengenai sikap mereka sendiri. Padahal banyak anak kecil yang bernasib sama seperti Alvin di kota ini tetapi mereka bertingkah seolah hanya melihat hama saja.


Walikota Caesar lalu turun dengan didampingi oleh seorang pria yang menjadi assisten pribadinya untuk memberikan Lewis hadiah utama, karena telah memenangkan pertarungan.


"Selamat atas kemenanganmu, Tuan?" Ucap Caesar dengan raut wajah senang dan bertanya siapa nama dari pria yang ada dihadapannya saat ini.


"Lewis, Lewis Austin..." Balas Lewis dengan nada dingin karena tidak menyukai pria yang memiliki penampilan mencolok seperti Caesar.


Caesar bertepuk tangan dan memuji-muji Lewis. "Bagus tuan Lewis dan selamat telah memenangkan pertarungan tahun ini!" Ucap Caesar sambil menepuk-nepuk pundak Lewis.


"Terimakasih tuan Caesar, bisakah aku meminta hadiah ku sekarang?" Tanya Lewis yang merasa racun di tubuhnya sudah menyebar dan ia memerlukan potion dari hadiah tersebut.


Menyadari kalau Lewis benar-benar sudah keracunan parah, Caesar lalu menyuruh asistennya yang bernama Marko untuk memberikan kantung berisi hadiahnya.


Lewis menerima kantung tersebut dan langsung mencari botol potion. Botol kaca berisi cairan merah sebanyak 500 ml yang merupakan potion penyembuh kemudian Lewis ambil dan minum.


Tidak cukup satu botol potion, Lewis meminum satu botol lagi karena mengira dengan cara ini racun serta luka yang ada pada dirinya bisa sembuh lebih cepat.


"Kalau boleh tau, tuan Lewis berasal dari mana? Maaf menanyakan hal semacam ini, aku hanya ingin memastikannya saja karena belum pernah bertemu dengan orang seperti Anda sebelumnya..." Tanya Caesar dengan gelagat aneh.


Ditanya soal tempatnya berasal membuat Lewis seketika berpikir keras. "Maaf tuan Caesar, aku tidak bisa memberitahumu karena ada sedikit masalah. Memangnya ada apa?"


"Ah begitu... Sebenarnya aku ingin mengundangmu ke rumahku untuk makan malam, dan mungkin kalau kamu mau aku bisa mengijinkan mu untuk bermalam di tempatku..." Balas Caesar sambil mengusap lembut tangan Lewis.


Merasa risih dan ada yang janggal dengan pria berbadan tambun di hadapannya, Lewis langsung menepis tangan Caesar yang mengusap telapak tangannya.


"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu tuan Caesar..." Ucap Lewis sambil tertawa dengan raut wajah gugup karena menyadari bahwa walikota Caesar ternyata merupakan penyuka sesama jenis.

__ADS_1


"Tentu saja, silahkan memikirkan nya dulu. Tetapi kalau tuan Lewis mau datang bisa langsung masuk kedalam. Gerbang rumahku selalu terbuka untuk tuan Lewis... " Kata Caesar yang berpikir Lewis akan setuju dan bisa menjadikan pria tersebut sebagai simpanannya setelah Marko.


Lewis memaksa untuk sebisa mungkin agar tetap tersenyum meski harus dipaksakan. Jujur saja ia sangat menghindari orang seperti Caesar. 'Mimpi apa aku, kenapa di dunia ini juga ada spesies seperti mereka?!'


"Maaf tuan Caesar aku harus pergi dulu dan apa aku boleh membawa mayat anak ini?" Tanya Lewis sambil menunjuk kearah tubuh Alvin yang sudah tidak bergerak lagi di tanah.


Caesar mengalihkan pandangannya kearah anak kecil berusia sepuluh tahun itu. Ia kemudian menyuruh asistennya Marko untuk mengecek terlebih dahulu apakah Alvin sudah tewas atau belum.


Setelah mengecek nafas dan denyut nadi anak kecil tersebut, Marko memberi kode kepada Caesar dengan menggelengkan kepala setelah melihat kalau Alvin sudah benar-benar tewas.


"Tentu saja tuan Lewis, silahkan saja dibawa..." Balas Caesar sambil tersenyum kearah Lewis yang sudah berhasil membuat hasratnya naik di siang bolong.


Lewis mengangguk dan segera menggotong tubuh Alvin. Ia kemudian meninggalkan arena pertarungan dengan diiringi makian oleh semua orang.


Tepat saat Lewis pergi tiba-tiba sebuah anak panah melesat dengan kecepatan tinggi dan tanpa suara yang langsung menembus jantung milik Caesar.


Caesar yang tidak merasakan ada serangan tertuju kearahnya seketika tewas dan tubuh gemuknya langsung ambruk ke tanah. Hal ini membuat Marko menjadi panik dan mencoba untuk menyelamatkan Caesar meski langkahnya tetap akan sia-sia saja.


Semua penonton yang melihat walikota mereka tewas secara misterius, langsung menjadi panik dan berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing karena menganggap terdapat serangan disana.


Lewis yang belum betul-betul keluar lalu menoleh kebelakang saat mendengar jeritan histeris dari para penonton. Pandangan nya seketika tertuju kearah Caesar yang sudah tewas di atas arena.


Perhatian Lewis kemudian teralihkan kepada dua orang misterius yang tampak masih duduk tenang tidak seperti penonton lainnya.


"Mereka benar-benar melakukannya kah?" Gumam Lewis yang sebenarnya sudah menyadari kehadiran dua orang misterius tersebut.


Sebelumnya Lewis mendapat peringatan dari sistem tentang dua orang misterius yang sempat ingin menjadikannya target pembunuhan jika ikut campur kedalam urusan mereka.

__ADS_1


Lewis tersenyum tipis saat pandangan mereka akhirnya bertemu. Ia menganggukan kepala sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.


Disisi lain dua orang misterius yang melihat kalau Lewis menyadari niat mereka dibuat heran, sebab pria tersebut justru membiarkan aksi mereka.


__ADS_2