Pandora System

Pandora System
Kematian di depan mata


__ADS_3

Rasa panas yang Lewis rasakan di sekujur tubuhnya membuat ia merasa seperti terbakar dalam cairan lava di sebuah gunung berapi aktif.


Perlahan mata Lewis mulai berubah menyala berwarna keunguan. Guratan tipis sedikit demi sedikit menyerupai urat nadi berwarna hitam, mulai menjalar diarea wajah Lewis.


Asap hitam tiba-tiba muncul di sekeliling Lewis dan membungkus tubuh pria tersebut rapat-rapat, sebelum akhirnya menghilang bersamaan dengan ledakan energi yang keluar dari tubuh Lewis.


Kejadian itu seketika membuat Lewis tidak sadarkan diri selama satu jam. Kondisi tubuhnya yang sebelumnya sempat mengalami perubahan, terlihat kini sudah kembali seperti sedia kala dan tidak menyisakan luka sedikitpun.


Beberapa waktu kemudian Lewis akhirnya kembali sadar dan merasa tubuhnya tidak lagi terbakar, namun ia kini merasa tenggorokannya sangat kering yang membuatnya kehausan.


Pandangan Lewis lalu tertuju ke arah kotak hitam di dekat nya. Lewis mengeratkan giginya dan mengambil kotak hitam tersebut. "Ini semua salahmu dasar benda tidak berguna!!!" Ucap Lewis dengan geram sebelum melempar kotak hitam tersebut menjauh darinya.


Lewis benar-benar tidak habis pikir mengapa ia sebelumnya malah memilih kotak hitam yang isinya permen pembuat masalah.


Apa yang Lewis lakukan dengan melempar kotak hitam tersebut tampaknya tidak terlalu bagus. Tiba-tiba Lewis merasa area disekitarnya berguncang hebat.


Hingga sebuah kejadian yang terduga terjadi dihadapan mata Lewis langsung. Kotak hitam yang ia lempar sejauh tiga puluh meter justru menimbulkan mala petaka bagi dirinya sendiri.


Pasir yang ada disekitar kotak hitam tesebut seketika tersedot ke bawah, beberapa saat kemudian muncul monster cacing raksasa yang menelan kotak hitam hitam tadi.


Begitu menelan kotak hitam, monster cacing raksasa kembali ke dalam tanah dan membuat Lewis yang melihatnya menjadi sangat terkejut.


Lewis tiba-tiba menjadi berkeringat dingin, tubuhnya tampak pucat dan bergetar hebat. Bahkan untuk berdiri sekarang pun ia tampaknya sangat kesulitan akibat kakinya yang bergetar.


'Cacing itu yang aku lihat tadi dari cermin sebelumnya, kenapa bisa ada di sini?' Batin Lewis yang masih belum menyangka akan bertemu dengan monster cacing raksasa saat baru sampai di Dunia Eternal.


Merasa ada yang janggal, Lewis kemudian mencoba sesuatu yang baru untuk membuktikan teori di kepala nya saat ini tentang kemunculan monster cacing raksasa tadi.

__ADS_1


Sebuah batu seukuran tangan Lewis ambil dan lemparkan menjauh. Benar seperti apa yang Lewis pikirkan, saat batu tersebut menyentuh permukaan pasir monster cacing raksasa langsung muncul dan menelannya.


'Pria tua itu sepertinya ingin membuat ku langsung mati untuk kedua kalinya!!!' Batin Lewis saat menghadapi kematian yang sudah didepan mata.


Tidak mau mengalami kematian yang menyakitkan dengan cara digiling menggunakan ratusan gigi runcing menyerupai duri dalam mulut monster cacing sebelumnya, Lewis segera memutar otaknya untuk mencari solusi agar selamat dari panasnya gurun serta monster cacing yang membayang-bayanginya.


'Kalau tidak salah sepertinya cacing raksasa tadi sangat sensitif dengan getaran. Semoga saja ini benar...' Batin Lewis hendak mencoba teori barunya lagi.


Dengan hati-hati Lewis mulai berjalan dengan menyeret kakinya agar selalu berpijak di tanah. Merasa tidak ada pergerakan dari monster tadi, akhirnya Lewis melanjutkan berjalan dengan cara itu menyusuri padang pasir.


Teriknya sinar matahari semakin membuat Lewis kesusahan. Ia sudah benar-benar merasa kehausan dan bisa pingsan kapan saja, dimana hal tersebut akan sangat berbahaya karena memancing perhatian monster cacing.


Namun sejauh mata memandang, Lewis tidak menemukan pemukiman penduduk atau setidaknya sebuah Oasis untuk dirinya bisa beristirahat.


Kejadian ini jelas membuat Lewis sedikit frustasi dan memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri saja, tetapi secercah harapan muncul ketika ia melihat bekas konvoi kereta kuda yang sebelumnya di serang oleh monster cacing sebelumnya.


Lewis langsung meminum persediaan air tersebut dan juga roti kering yang ia temukan dengan rakus seolah tidak pernah makan dalam jangka waktu lama.


Saat tengah menikmati makanannya pandangan mata Lewis segera menyisir daerah sekitarnya. "Kemana semua orang, kenapa tidak ada satupun dari mereka yang tersisa. Bahkan potongan tubuh mereka juga tidak ada?" Gumam Lewis.


Ketika sedang melihat kondisi puing-puing kereta kuda, tak sengaja mata Lewis melihat kilauan yang berasal dari koin-koin emas tak jauh darinya.


Rasa ingin tau di dalam diri Lewis seketika muncul saat melihat kepingan koin emas yang tergeletak di tanah. Ia kemudian meletakkan makanannya dan berlari untuk menghampiri kepingan koin emas tersebut.


Namun akibat getaran yang ditimbulkan Lewis saat berlari seketika memancing perhatian monster cacing raksasa. Melihat monster yang sedang mengarah kepada nya dari kejauhan, Lewis seketika berhenti dan bingung antara harus lari atau mengambil koin emas itu terlebih dahulu.


"Hei, kalau kamu tidak mau mati sekarang lebih baik pergi dan tinggalkan kepingan koin emas itu..." Suara seseorang seketika terdengar ditelinga Lewis.

__ADS_1


Mendengar bisikan suara itu Lewis langsung menoleh kearah sekitarnya untuk mencari siapa orang yang baru saja berbisik kepadanya.


"Siapa itu?!" Teriak Lewis panik sambil berusaha mencari keberadaan orang tersebut, yang tak terlihat sama sekali.


"Kita berkenalan nanti saja, lebih baik sekarang kamu segera lari kalau tidak mau mati tercincang oleh cacing itu..." Balas suara misterius dengan santai.


Lewis mengepalkan tinjunya dan langsung bergegas pergi menjauh tanpa melirik sedikitpun ke arah benda-benda berharga yang ada di puing-puing keret kuda.


Tempat dimana Lewis sempat beristirahat sebelumnya kini langsung dilahap oleh monster yang mengejarnya dari belakang tanpa menyisakan apa-apa.


Raut wajah Lewis semakin pucat saat melihat monster tersebut kini berada tidak jauh dibelakangnya. Jika ia tersandung sekali saja, maka dapat dipastikan itu adalah langkahnya yang terakhir di Dunia Eternal.


"Hoi! Apa kamu bisa membantuku. Aku bisa mati sekarang!" Teriak Lewis dengan suara yang hampir habis dan serak.


"Kamu masih punya tangan dan kaki yang utuh, gunakanlah sebaik mungkin dan jangan meminta bantuan begitu saja..." Balas suara misterius.


"Tapi aku mau mati sekarang! Bantu aku!" Ucap Lewis yang merasa geram dengan bisikan suara misterius di telinganya.


Suara misterius itu tampaknya tidak lagi menggubris perkataan dari Lewis dan memilih untuk diam yang membuat pria tersebut tambah merasa frustasi.


Hingga pada akhirnya karena terlalu lelah berlari Lewis akhirnya terjatuh dan membuat tubuhnya berguling-guling diatas gunungan pasir.


Lewis terbatuk dan menatap kearah langit. Ia kini benar-benar sudah pasrah menghadapi kematiannya dan menunggu monster cacing raksasa memakannya hidup-hidup.


Tubuh Lewis bergetar seiring kedatangan monster cacing raksasa yang semakin mendekat dan membuka mulutnya lebar-lebar.


Pria tersebut memejamkan mata dan bersiap menghadapi kematiannya. Namun setelah menunggu cukup lama, ia belum merasakan sakit sedikitpun.

__ADS_1


Merasa janggal dengan kejadian ini Lewis lalu membuka mata dan melihat kalau monster cacing raksasa tersebut tiba-tiba berhenti bergerak sebelum menyelam kembali kedalam pasir.


__ADS_2