Paper Dream

Paper Dream
Chapter 9


__ADS_3

Sinar matahari sudah terasa panas hingga ke wajah ku. Aku masih berada di kamar, setelah tadi malam sibuk memperbaiki perasaan dan mengatur nafas. Aku pikir Kenan tidak akan melalukan hal gila seperti itu, namun nyatanya dia lebih gila dari yang ku pikirkan.


Aku pun bangun dari tidur ku dan menuju ke dapur untuk memasak makanan untuk sarapan pagi. Setelah melahap makanan ku, mataku tertuju pada laci meja. Di sana telah ku simpan kertas dan beberapa peralatan yang harus dipakai saat kembali ke masalalu. Aku membuka laci itu dan mengeluarkan peralatan tersebut.


'Kembali pada masa Kenan menyatakan perasaannya padaku' tulis ku pada lembar kertas itu. Ku mantapkan pada hati ku, aku akan menolaknya sebisa mungkin agar tidak sesusah ini jika aku kembali.


Aku menyalakan korek dan membakar kertas itu seperti sebelumnya. Huruf-huruf yang telah ku tulis tadi telah terbakar sedikit-demi sedikit, hingga ketika tulisan itu akan habis terbakar, mataku pun mulai terpejam.


...****************...


Air hujan turun begitu derasnya, sedangkan aku berada pada mobil taxi yang telah berhenti di depan restoran. "Mbak, hujannya tetap deras ini. Apa Mbak tidak bisa berlari saja? Saya butuh penumpang lagi," kata supir taxi yang sudah risih karena aku tidak turun dari mobil.


"Maaf Pak, ini bayarannya," kataku lalu menyerahkan atm kemudian membuka pintu mobil dan segera berlari ke depan pintu restoran.


Sebelum masuk, aku mengecek terlebih dahulu ponsel ku. Aku melihat beberapa pesan di sana, tapi pesan Kenan lah yang ku baca terlebih dahulu. 'Kita ketemu di restoran X jam empat sore. Kamu harus datang yah, baru aku kasi buku kamu yang kemarin ku pinjam. Aku sudah pesan tempat, sebut saja Kenan Kentana di meja resepsionis.' Tulisan pesan itu pun membawaku masuk untuk bertanya pada meja resepsionis. Apakah benar Kenan sudah datang, karena saat ini sudah lewat beberapa menit pukul empat.


"Mbak, teman saya sebelumnya sudah memesan meja. Namanya Kenan Kentana, mejanya disebelah mana yah?"


"Saya cari sebentar yah Mbak"


"Mejanya nomor 49 berada di ujung kiri sebelah sana Mbak, namun Mas Kenan Kentana belum mengkonfirmasi kedatangannya. Apakah Mbak ingin memesan makanan langsung di sini atau setelah teman Mbak datang?"

__ADS_1


"Saya tunggu sebentar yah Mbak, pesannya pas dia datang saja."


"Baik Mbak, mejanya di ujung sebelah kiri. Silahkan"


Akupun berjalan menyusuri meja-meja dan mencari angka 49 yang terdapat pada meja. Ku pikir, Kenan sudah datang dan tidak perlu membuatku menunggu. Baik di masa depan maupun di masa lalu, Kenan selalu saja menjengkelkan menurutku. Aku muak dan sangat membencinya, apalagi jika seperti ini aku sudah capek menunggu.


Lima belas menit berlalu aku duduk di meja ini. Seorang pelayan datang pada ku, untuk menanyakan pesanan. "Mbak, apa Mbak sudah mau memesan sesuatu?" kata pelayan yang menghampiri ku itu.


"Iya, boleh saya lihat menunya terlebih dahulu?" Pelayan itu menyerakan buku menu padaku, aku membolak-balik buku menu itu sambil melihat ke pintu masuk memerhatikan siapa tahu saja Kenan sudah ada di sana. "Saya pesan red velvet (ice) saja Mas," kataku sambil menyerahkan buku menu itu kembali.


"Baik, tunggu sebentar yah."


Sambil menunggu pesananku maupun Kenan yang belum datang aku membuka kembali pesan-pesan yang masuk. Aku lihat pesan Riana dan Lenca yang mengambil perhatianku. "Akhirnya yah yang kamu tunggu-tunggu tiba juga, semoga Kenan benar-benar menyatakan perasaannya padamu," tulis Lenca dalam pesan singkat itu yang di kirim beberapa menit lalu. Ternyata benar, aku kembali pada hari Kenan menyatakan perasaannya padaku. Lalu, kenapa dia sangat terlambat?


"Yey, bentar lagi Key enggak bakalan jomblo lagi. Traktir yah kalau udah jadian," tulis Lenca dalam pesan singkatnya yang di kirim dua jam sebelum aku sampai di sini. Teman-teman ku masih seperti dulu, masih mendukung apa yang aku inginkan. Namun, hari ini aku tidak akan menerima Kenan. Mungkin, di masa lalu, dia tampan saat aku melihatnya. Tapi, berbeda dengan aku yang datang dari masa depan. Dia hanya laki-laki yang tidak tahu diri dan sangat jahat menurutku.


Aku melihat Kenan masuk dari arah sebelah kiri restoran, padahal kalau dia dari rumahnya dia akan datang dari arah sebelah kanan. Rambutnya agak basah yang membuatnya terkesan sangat tampan. Perempuan-perempuan yang ada di restoran memandangnya begitu kagum. Namun, lagi-lagi aku tidak seperti mereka. Kata 'Hanya Biasa Saja' sangat cocok untuknya.


"Maaf aku sangat terlambat karena ada urusan sebentar, lalu aku menunggu hujan reda," katanya ketika menghampiriku, perempuan yang ada di sekitar kami terlihat iri padaku, karena Kenan ternyata bertemu dengan perempuan.


"Tidak apa-apa. Aku sudah memesan minum, kau pesanlah juga."

__ADS_1


"Aku sudah memesannya di meja resepsionis tadi, dia mengatakan kalau kamu sudah pesan. Jadi, aku juga langsung memesan minum."


"Hmm. Btw, buku ku mana? Kamu tidak lupa membawanyakan?"


"Tidak ko, tunggu yah." Kenan membuka tas ranselnya dan mencari buku ku yang dia janjikan padaku untuk diberikan saat ini. Saat dia mencari, pesanan kami datang, sehingga dia berhenti sejenak menunggu pelayan pergi.


"Ini bukunya, kami buka lembarnya yah," katanya sambil tersenyum manis. Jika, aku tidak datang dari masa depan, aku akan luluh dengannya jika begini. Namun, itu tidak akan terjadi.


'Keysha, aku sudah lama menyukai mu. Meminjam buku mu ini, hanyalah caraku agar bisa bertemu dengan mu di luar kampus. Aku menyukai mu. Jadi pacaraku yah Key!' kata-kata ini tertulis besar di setiap lembar. Aku melihatnya lagi tersenyum manis di depanku. Rasanya aku ingin melemparnya dengan minumanku, tidak tahu Saja dirinya itu sangat jahat jika aku bersamanya di masa depan.


Dia kemudian mengambil tangan ku dan menggenggamnya dengan erat. "Key, aku suka sama kamu sudah lama. Mungkin sejak pertama kali kita bertemu, jadilah pacarku."


Aku mengambil tangan ku dari genggamannya, "Maaf Kenan, aku tidak bisa jadi pacarmu. Aku menyukai orang lain," kalimat ini sudah ku siapkan sejak tadi sebelum dia datang.


Reaksi dia sangat terkejut, mungkin karena pesonanya yang sangat keren hari ini ditambah lagi semua perempuan melihatnya. Sepertinta dia hanya berpikir, kalau aku akan menerimanya.


"Apa Key? Kamu sudah punya pacar"


"Iya. Baru beberapa jam yang lalu aku bersamanya."


Diapun menunduk termenung. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. "Aku pergi dulu yah. Terimakasih karena telah membawakan buku ku." Aku pun pergi meninggalkannya tanpa melihat ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2