Paper Dream

Paper Dream
Chapter 10


__ADS_3

Aku keluar dari restoran dan meninggalkannya sendirian di sana setelah aku menolaknya. Apa masa depan ku sekarang sudah berubah? Aku pikir setelah menolaknya aku langsung kembali ke masa depan. Ternyata salah, aku masih tinggal di sini dan tidak tahu harus kemana.


"Riana, benar katamu. Dia menyatakan perasaannya padaku, tapi aku menolaknya saat itu juga," ku kirimkan pesan itu pada Riana.


Tidak pelu menunggu lama, Riana langsung mengetikkan pesan balasan untuk ku. "Kenapa kau menolaknya? Bukannya kemarin kau mulai luluh dengannya?"


"Aku berubah pikiran, Na."


"Kenapa? Sekarang kau ada di mana? Ayo bertemu, kau harus menjelaskannya padaku!"


"Aku di depan indoapril samping restoran yang ku datangi tadi. Kamu di mana? Biar aku saja yang ke sana."


"Aku ada di rumah, datanglah. Aku panggil Lenca juga."


"Kirimkan alamat mu, aku sedang pusing," jawabku. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku melupakan dimana letak rumahnya. Dia langsung mengirimkan alamat dan tidak menanyakan apa-apa lagi. Riana memang teman yang bisa diandalkan.


...****************...


"Riana? Aku sudah datang," panggil ku di depan pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam. "Riana? Aku Key." Apa dulu Riana seperti ini, dia tidak membukakan pintu pada orang yang tidak di kenalnya. "Riana? Riana?"


"Siapa ya Mbak?" Keluar laki-laki yang tidak ku tahu siapa orang itu. Tapi, seingat ku Riana tidak memiliki saudara laki-laki.


"Saya mencari Riana teman saya, saya pikir ini rumahnya."


"Riana? Oh bukan, ini bukan rumahnya Riana."

__ADS_1


"Loh, di Maps benar ini rumahnya."


"Coba telepon temennya Mbak, soalnya saya juga kurang tahu orang-orang sini."


Aku mengambil ponsel ku, lalu menelepon Riana orang ini pasti salah. "Halo, Riana aku sudah di depan rumahmu."


"Loh, langsung masuk saja."


"Tapi, ada laki-laki di rumah mu. Dia bilang ini buku rumah mu."


"Laki-laki? Tunggu, aku ke luar." Aku mendengar suaranya yang berjalan, lalu membuka pintu rumah. "Key, kau salah rumah!"


"Maaf Mas, ternyata rumah teman saya di depan rumahnya Mas. Sekali lagi, maaf telah mengganggu tidurnya."


"Untuk apa Mas?


"Siapa tahu kita bisa berteman." Dia tersenyum di balik wajah bantalnya yang barusan ku ganggu itu. "Bolehkan? Kalau boleh saya masuk ambil Hp dulu."


"Saya aja yang langsung telepon Masnya. Jadi, Mas saja yang kasi nomornya ke saya."


"Oh boleh-boleh. 082xxxxxxxxx. Nama saya Damar"


"Saya sudah telepon yah Mas. Saya mau ke rumah teman saya. Maaf mengganggu."


"Eh eh, namanya siapa Mbak?"

__ADS_1


"Keysha, panggil Key saja." Aku menuju rumahnya Riana. Sial, aku malu sekali dan apa yang harus ku katakan pada Riana jika bertanya kenapa aku lupa rumahnya.


"Siapa orang itu Key?"


"Enggak tahu, salah rumah aku."


"Apa kau sudah menyesal menolak Kenan?


"Ha, maksud mu?"


"Yah, karena kamu tiba-tiba lupa rumah ku."


"Bukan karena itu aku lupa."


"Lalu apa?"


"Loh, Lenca enggak datang?" kataku, mengalihkan pembicaraan padanya. Aku tidak ingin terus-terus di tanya. Jangan sampai, aku keceplosan bahwa aku datang dari masa depan.


"Enggak datang katanya. Dia ada urusan. Akhir-akhir ini dia itu sibuk banget tahu." Seingatku, Lenca dulu tidak pernah sibuk. Bahkan, waktunya hanya untuk shoping atau perawatan. Kalau hari libur, memang sih dia biasa kerja paruh waktu. Tapi, tidak setiap minggu dan bisa dibilang dia memiliki banyak waktu luang. Apa Lenca yang dulu berubah yah semenjak aku kembali ke masa lalu.


"Oh, sayang banget yah. Padahal aku kangen Lenca."


"Apaan sih, baru aja kemarin ketemu." Riana menoyor kepala ku. Memang, harusnya tidak usah bilang seperti itu. Tapi, di masa depan Lenca tidak pernah ku lihat. "Jadi kenapa kau menolak Kenan?"


Rasanya ingin ku katakan saja, bahwa di masa depan dia sangat kejam. Dia menyiksaku setiap harinya, aku tidak ingin melihatnya di masa depan. Namun, ku urungkan karena kalimat itu bisa jadi hanya dianggap candaan olehnya.

__ADS_1


__ADS_2