
Ponsel Riana berdering, ia melihat ponselnya, di sana tertulis nama Kenan. Aku terkejut melihatnya, apa mereka memiliki hubungan? Sebelum kembali ke masalalu, Kenan tidak pernah saling kontak dengan Riana begituan dengan ku.
"Halo," jawab Riana setelah mengangkat ponselnya. Ku pandangi dia dan berusaha mendengarkan percakapan mereka.
"Apa Keysha sama lo? Dia belum pulang juga, padahal sudah setengah jam berlalu," kata Kenan dari seberang telepon.
Aku agak kaget mendengarnya, 'apa dia benar-benar menanyakan keberadaan ku?' pikirku dalam hati.
"Iya. Dia sama gue, gue dia cerita dulu. Dia akan pulang beberapa jam kemudian. Gue enggak terima penolakan seperti biasa. oke!" kata Riana, lalu ia menutup teleponnya begitu saja.
"Apa Kenan tidak akan marah padaku?" tanyaku pada Riana.
Lagi-lagi Riana terheran-heran melihatku. "Tentu saja tidak, kita kan selalu seperti ini," katanya sambil berjalan menuju kasir. "Ayo cepat-cepat kita selesaikan belanja di sini. Aku ingin kita minum kopi, sebelum pulang," lanjutnya lagi.
"Oh iya, Aku cukup membeli ini saja." jawabku sambil mengikutinya berjalan menuju kasir.
__ADS_1
Setelah membayar belanjaan kami, kami pun keluar dari swalayan dan menuju penjual kopi instan, lalu ke taman yang tadi siang ku tempati duduk sendirian dan bertemu dengan wanita itu. Rasanya sangat berbeda, aku seakan sudah biasa ke sini dengan Riana, padahal tadi siang aku merasa sangat asing pada tempat ini.
"Kita duduk di bangku itu saja, lagian kita sudah memiliki kopi untuk diminum," kata Riana sambil menunjuk kursi panjang yang berada di dekat taman.
"Iya," jawabku sekenanya saja. Rasanya ingin cepat-cepat menanyakan pada Riana bagaimana diriku saat ini menurutnya.
Setelah kami duduk di bangku panjang yang Riana tunjuk sebelumnya, Riana menatap ku dengan rasa heran, terkejut, serta banyak pertanyaan yang terpancar pada wajahnya, "Kenapa Raina? Kau terlihat ingin menerkam ku dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di wajahmu itu," kataku padanya.
"Aku benar-benar merasa heran pada mu. Saat kita pertama kali bertemu, kau terlihat sangat terkejut melihatku. Padahal kita memang selalu bertemu pada malam hari. Kau juga seperti seseorang yang amnesia," jawabnya padaku.
"Hmmm. Mungkin ini karena Kenan yah, jadi kau seperti ini," jawab Raina menebak-nebak kenapa aku seperti ini.
"Maksud mu? Aku dan Kenan memangnya kenapa?" kataku pada Reina.
"Kalian kan sering bertengkar, juga Kenan hanya berperilaku baik padamu jika dia sedang ingin berhubungan. Laki-laki itu memang sangat brengsek, dia baru memperlihatkan dirinya setelah menikah," jawab Reina yang seakan-akan mengulang kembali kata-kata yang selalu dia ucapkan setiap malamnya ketika kami bertemu.
__ADS_1
"Iya benar, dia memang laki-laki brengsek yang pernah ku temui. Aku harus bagaimana jika dia memarahi ku saat kembali ke rumah nanti?" tanyaku padanya.
"Kau cukup menolak saja yang dia inginkan. Buat dia frustasi karena kau menolaknya," jawabnya ragu-ragu. Namun, ia cepat-cepat merubah kalimat yang ia ucapkan itu, "Jangan menolak, kau harus mengikuti apa yang dia inginkan. Aku teringat dulu saat kau menolaknya. Aku jadi takut jika itu terjadi lagi," katanya padaku.
"Apa maksudmu? tanyaku padanya yang benar-benar tidak tahu apa-apa.
"Keysha, aku menjelaskan ini padamu karena kau seperti melupakan semuanya. Jadi dengar baik-baik yah. Dulu kau pernah melawan padanya dan menolak apa yang dia inginkan karena kalian baru saja berhubungan dan kamu merasa sangat lelah. Tapi, saat itu juga dia marah besar padamu. Katamu dulu dia melempar semua barang di dekatmu. Sampai kamu mengatakan akan meladeninya lagi, karena kamu ketakutan. Setelah kamu meladeninya, dia benar-benar tidak tahu diri karena mengurung mu seharian di rumah dan kalian hanya berhubungan selama kau di rumah. Hingga malamnya, kau terlihat pucat saat berbelanja dengan ku. Malam itu juga, kau ke rumah ku karena Kenan ke luar kota setelah puas bersama mu. Setelah malam itu, aku berpikir kalau Kenan itu sepertinya terkena Maniak S**s," jawab Reina panjang lebar padaku.
Semuanya sangat berbeda sebelum aku kembali ke masalalu, dia se akan-akan tidak tertarik padaku. Bahkan, dia hanya berhubungan dengan ku jika dia sudah tidak bisa membendung nafsunya. Sedangkan saat ini, dia berbeda bukan Kenan yang selalu saja marah dan memecahkan perabot rumah.
"Jika, semua yang kau katakan benar. Aku harus pulang sekarang Riana," kataku pada Riana.
"Iya. Aku setuju denganmu. Aku antar sampai depan rumahmu," kata Riana, kemudian kami berjalan beriringan sampai depan rumahku.
Sepanjang perjalanan, kami hanya diam menikmati suara-suara pada malam hari. Sebenarnya, banyak yang ingin ku ketahui, perbedaan apa saja yang terjadi di masalalu. Tapi, aku enggan menanyakannya malam ini. Aku belum siap melihat wajah Kenan. Wajahnya seperti trauma berat untuk ku.
__ADS_1