Paper Dream

Paper Dream
Chapter 8


__ADS_3

Kami sampai di depan rumah, dengan suasana hening. Fokus dengan isi pikiran masing-masing, entah kenapa kami tidak saling bercerita atau mungkin saja Riana yang dewasa memang seperti ini.


"Kita sudah sampai Riana, mampirlah sebentar," kataku padanya.


"Tidak usah Key, aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan istirahat," jawabnya.


"Jika kamu kesulitan, aku siap untuk mendengarkan cerita mu," kataku lagi padanya.


"Iya, Key. Kamu juga jika memiliki kesulitan tetaplah cerita padaku. Jika ada yang kamu lupa, tetaplah bertanya padaku. Aku selalu bersedia untukm," jelasnya padaku.


"Tentu, sampai jumpa." Riana pun melanjutkan perjalanannya sambil melambaikan tangan pada ku. Aku pun membalas lambaiannya dan menunggu punggungnya sudah menghilang karena ditelan gelapnya malam.


...****************...

__ADS_1


"Kenapa kamu lama sekali?" kata Kenan yang telah duduk di sofa samping pintu masuk.


"Aku bertemu Riana di Supermarket, lalu kami berbincang-bintang bersama," kataku padanya.


"Oh. Aku harus pergi sekarang juga," katanya lagi.


"Apa harus sekarang? Ini sudah hampir tengah malam," kataku padanya.


Dia melirik ku dengan tatapan tajamnya seperti dulu, ternyata dia tidak berubah. "Tidak bisa, harus hari ini juga. Sudahlah kau tidak usah mengatur ku," jawabnya dengan nada membentak. Lalu ke luar dari rumah dan memakai sepatunya.


" Apa harus besok?" tanyanya hampir tidak terdengar olehku.


"Iya. Ibuku memanggil ku pulang," kataku berbohong padanya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengantar mu pulang hingga tiga hari ke depan. Jadi kita pergi, setelah urusan ku selesai," jawabnya.


"Tapi, aku takut di rumah sendirian jika lama begitu," kataku, berbohong lagi padanya. Agar di izinkan cepat pulang ke rumah orang tua.


Dia berdiri dan menghentakkan kakinya, "Apa kau tidak bisa pergi di rumah Riana, jika kau takut? Biasanya juga seperti itu," jawabnya lagi-lagi dengan nada tinggi dan menatap tajam mataku.


Aku mengingat kata-kata Riana, bahwa sekarang di ingatan Kenan aku selalu membangkang padanya. Biarlah aku memberanikan diri kali ini, meskipun tangan dan kaki bergetar, "Aku bisa sendiri pulang ke rumah!" kataku datar dan menatap matanya tajam seperti dia menatap ku saat ini.


Wajah Kenan seakan-akan ingin meledak, tiba-tiba dia mencekik dan mendorong ku ke arah pintu. "Ku bilang jangan kemana-mana, kalau kau takut ke rumah Riana saja. Mengerti!" dia menguatkan cekikannya pada leher ku. Aku tidak bisa berbicara. "Jawab iya! Atau setidaknya kau berikan tanda setuju dengan apa yang ku katakan!" sambungnya lagi.


Aku berusaha melepaskan cekikannya dan berusaha untuk mengeluarkan suara namun tidak mampu. "Hei, cepat setuju dengan ku!" katanya kembali padaku dengan cekikan yang lebih erat. Aku berusaha keras untuk mengangguk yang memberikan tanda padanya bahwa aku setuju.


Ia melepaskan tangannya dari leher ku, lalu ke luar menuju bagasi dan menyalakan mobilnya. Aku mendengar mobilnya ke luar dari bagasi menuju jalanan yang tidak aku tahu dimana ia akan pergi, malam-malam begini.

__ADS_1


Sedangkan aku, hanya duduk pada daun pintu yang meratapi nasib ku. Setelah kembali ke masalalu pun, aku tidak bisa langsung mengubah hidup ku. Sepertinya, aku harus kembali di masalalu lagi saat ini.


Aku ke dalam rumah dan membuka kertas ajaib itu kembali. Aku tidak tahu harus kembali pada tahun apa atau peristiwa apa. Tapi, aku tidak bisa berpikir jernih. Leher ku masih sakit dan nyawa ku seakan ingin habis. Maka, ku urungkan dulu malam ini, biarkanlah aku berpikir jernih dan kembali di esok hari agar aku kembali pada masa yang tepat.


__ADS_2