
Prangggggg.
Gelas terlempar di samping ku. Pecah. Gelas itu pecah di lantai dekat meja yang ku tempati berdiri saat ini. Laki-laki yang berada di depanku ini semakin geram melihat ku dan semakin banyak yang ia ucapkan.
Aku gemetaran, kaki ku rasanya tidak sanggup berdiri di depannya. Telingaku sudah penuh dengan ocehannya. Mulutku bergetar ingin mengucapkan sesuatu, namun rasanya aku tidak sanggup melawan perkataannya. Benar, aku sangat takut pada laki-laki yang berada di depan ku ini.
"Kenapa makanannya hanya ini? Mana lauk yang lain? Nasi juga hanya segini. Mana yang lain, kau pikir aku kenyang hanya makan segini?"
"Hanya itu bahan makanan yang ada di kulkas, jadi aku hanya membuat makanan seperti itu. Beras juga tinggal segitu Mas."
"Kamu bohong yah! Kau menyembunyikan makanan yang enak untuk kau makan sendiri kan?"
"Enggak. Aku enggak menyembunyikan apapun. Hanya ada sayur jadi aku..." kataku dengan nada terbata-bata.
"Kau pikir aku hewan? Hanya makan daun-daun seperti ini. Kenapa kau tidak pergi membeli bahan makanan di Supermarket," tanyanya lagi padaku dengan geram.
"Aku enggak punya uang."
__ADS_1
"Apa?" Dia melempar piring ke dua yang berisikan nasi ke dekat kaki ku.
"Aku... Aku sudah tidak punya uang." Kataku sambil menangis tersedu-sedu.
"Kamu kemanakan uang belanjaan yang ku berikan padamu minggu lalu?" katanya lagi padaku. Apa dia tidak tahu kalau aku membeli makanan, menyisipkan uang untuk listrik dan tabungan jika sewaktu-waktu aku ataupun dia memerlukan sesuatu.
"Jawab! Apa mulut mu bisu? Aku berikan padamu Rp200.000,- minggu lalu. Harusnya, uang itu bisa bertahan sampai dua minggu ke depan atau beberapa minggu lagi. Tapi, apa-apaan kau ini. Kau meminta uang lagi padaku. Aku tidak punya uang," katanya lagi padaku dengan wajah memerah. Kadang, aku enggan untuk meminta uang. Tapi, bahan masakan sudah benar-benar habis. Akupun baru-baru ini dari dokter untuk mengecek kesehatan ku dan itu merogoh tabunganku.
"Aku membelikan bahan makanan setiap kau memberiku uang," jawabku dengan terpaksa dan bibir setengah bergetar karena rasa takut untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku dari klinik, aku memeriksakan kesehatan ku. Beberapa hari ini aku terus sakit kepala. Aku pikir, aku memiliki penyakit atau semacamnya, jadi aku memeriksakan diri," jawab ku takut dan aku tidak berani memandang wajahnya bahkan matanya saja sudah tidak bisa ku tatap. Aku berani bertaruh, wajahnya pasti sudah memerah.
"Hufttt. Jadi kau menghabiskan uang yang kudapatkan untuk bersenang-senang? Aku saja tidak pernah ke klinik jika sakit. Kenapa kau tidak bisa menahannya sedikit jika kau sakit? Kau akan sembuh jika kau terus menahannya. Kau menghabiskan uang saja." Suaranya semakin besar padaku.
Praaaaannggg...
Dia kembali melempar piring yang sebelumnya dia pegang ke bawah dan hampir mengenai kaki ku. Jika sudah seperti ini aku tidak akan semakin tidak berani melihat wajahnya. Atau ia akan terus melempar sesuatu yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Hari ini aku tidak akan memberi mu uang. Aku akan membeli makanan di luar. Aku tidak peduli padamu, kau mau makan atau tidak. Ini konsekuensi yang kau dapatkan karena uang yang ku berikan kau gunakan hanya untuk dirimu. Dan jangan tunggu aku kembali dalam beberapa hari ke depan aku akan ke luar kota." Dia pun melangkah ke luar dengan tasnya seperti biasa. Tidak mengambil baju meskipun dia telah mengatakan akan ke luar kota. Aku tahu, dia hanya akan berada di tempat-tempat yang membuatnya senang seperti Bar, bersama teman-temannya atau mungkin saja bersama perempuan lain.
"Mas tolong berikan aku sedikit uang untuk memmbeli beras, beras benar-benar sudah habis," kataku dengan ketakutan. Jika tidak ku beri tahu, aku tidak akan bisa makan seharian ini.
"Kamu urus saja dirimu, aku tidak akan memberikan mu uang satu sen pun." Dia kembali melanjutkan langkahnya ke luar dari rumah.
Aku senang jika dia mengatakan akan ke luar kota. Namun, aku tidak memiliki uang saat ini bagaimana caraku untuk makan? Aku tidak memiliki keluarga dan teman di sini. Kami merantau setelah menikah, jadinya kami tidak mengenal seoarang pun di sini. Ia juga tidak pernah memperkenalkan ku pada temannya.
Yah, kami sudah menikah sekitar enam bulan yang lalu dan aku juga sudah menderita selama itu. Dia melarang ku ke luar rumah jika tidak memiliki keperluan. Itulah aku tidak memiliki teman maupun kenalan disini. Aku hanya kenal diriku di tempat yang asing ini, Alfira Keysha. Yah itulah namaku dan suamiku Kenan Kentana yang ku kira akan membuatku bahagia. Namun, nyatanya dia sangat menyiksaku.
Ini pertama kalinya aku akan ke luar rumah. Aku ingin mencari pekerjaan tapi apakah bisa mendapatkan gaji hari ini juga? Aku pikir tidak mungkin. Atau apa aku duduk dan meminta-minta saja? itu juga hal yang paling tidak ingin ku lakukan. Tapi, aku harus melakukan apa agar me dapatkan uang?
Aku melihat taman yang di penuhi dengan orang sebayaku dan anak kecil yang bermain. Banyak pula pasangan yang sedang kencan disini. Jika melihat pasangan yang sedang bahagia rasanya aku iri dengan kehidupan mereka. Bagaimana tidak, hidup ku sekacau ini. Tidak pernah ada kata bahagia di keluarga ku setelah kami meninggalkan kampung halaman untuk mencari uang. Aku benar-benar bernasib sial, karena memiliki keluarga yang seperti ini.
Akupun duduk di salah satu bangku yang panjang di taman ini. Aku hanya termenung memikirkan apa yang harus aku lakukan di sini dan berharap akan ada sedikit keajaiban yang terjadi padaku. Atau setidaknya seseorang memberikan ku makanan agar akuĀ bisa bertahan hidup.
Setengah jam berlalu aku duduk disini. Seseorang yang berpakaian serba hitam menghampiriku dan menawarkan sesuatu yang tidak biasa untukku. Awalnya ku pikir dia hanya bercanda mengatakan hal segila itu. Tetapi, dia seperti mengubah pola pikir ku dan mengambil hati ku serta membuat ku berpikir untuk menerima tawarannya. Apakah aku benar-benar harus mengambil tawarannya? Akankah tawaran ini berguna untuk ku?
__ADS_1