
Aku kembali ke rumah dengan berpikir, "aku benar-benar bodoh karena telah memercayai orang itu". Meskipun mengatakan seperti itu, aku tetap berjalan ke dapur lalu mengambil piring (diisi air) untuk membuang abu kertas yang ku pegang saat ini jika memang yang dikatakan orang yang barusan aku temui tidak benar. Sebelum menulis aku ingin kembali ke masa apa, aku mengambil gelas lau mengisi air dan meminumnya, karena sejujurnya aku sangat berharap tapi aku juga takut jika harapanku ini benar-benar tidak terjadi. Aku akan mengutuk diriku karena telah memercayai orang yang baru aku kenal selamat kurang lebih 5 (lima) menit di taman.
Setelah menenggak habis air dari gelas yang baru saja ku ambil. Aku kembali di dekat meja yang terdapat kertas yang telah diberikan tadi. Akupun, mulai menulis 'Kembali pada masa waktu kuliah, hari pertama mengenal suamiku'. Setelah itu, aku mengambil korek api lalu mengangkat kertas diatas piring yang telah ku sediakan tadi. Aku pun mulai membakar kertas itu, saat aku membakarnya tidak ada yang terasa aneh, pun saat itu aku juga melihatnya tulisanku dibakar api.
Aku tidak tahu, kapan aku meninggalkan rumahku, yang ku tahu saat ini aku sedang berada di kantin. Sebentar, apa aku benar-benar kembali pada masalalu? Aku melihat orang yang di depan ku, ia teman kuliah ku Riana yang sedang berbicara dengan Lenca. Aku terus menatapnya, sampai ia berkata, "Kau kenapa?" Riana bertanya santai padaku, mungkin karena aku sudah sedari tadi memperhatikan nya tanpa mengatakan apa-apa.
"Aku-aku tidak apa-apa", aku mengucapkannya dengan terbata-bata. Lalu aku melanjutkan kalimat ku, "sekarang tanggal berapa?"
Lenca yang duduk di samping Riana memandangku lekat dan kebingungan, "Apa kau tiba-tiba sakit? Bukannya barusan kau sedang membahas tanggal saat ini 1 (satu) November dan tanggal 5 (lima) nanti kita akan jalan-jalan karena sudah melewati ujian tengah semester?" jawabnya panjang lebar.
__ADS_1
Wah, aku benar-benar kembali ke masalalu. Sebenarnya, tidak menanyakannya pun harusnya aku sudah tahu bahwa aku kembali ke masalalu karena aku bertemu dengan Lenca hari ini. Yang di masadepan aku tidak tahu kemana dan pergi kemana dia setelah kuliah, dia menghilang begitu saja. Ada rasa beruntung karena aku bertemu dengan teman lama, tapi aku juga khawatir bagaimana jika aku tidak bisa benar-benar mengubah masalaluku.
"Hei, Key. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Riana tiba-tiba. Rian memang temanku yang paling peka diantara yang lain.
"Tidak ada, aku hanya berpikir kita harus melakukan apa jika kita pergi berjalan-jalan sabtu nanti. Aku juga harus membawa apa. Aku hanya memikirkan itu," elakku untuk menghindari Pertanyaan-pertanyaan berikutnya atau sesuatu yang membuat mereka binging.
"Kau barusan mengucapkannya, mungkin baru 5 (lima) detik yang lalu kau mengatakannya!" kata Riana heran.
"Apa kau ingin pulang saja? Aku khawatir dengan kesehatanmu," kata Lenca kemudian. Sejenak aku berpikir apa aku harus pulang atau bagaimana? Aku tetap tidak akan menghindari pertemuanku dengan dia (suamiku di masa depan).
__ADS_1
"Ah tidak usah, aku mungkin sembuh sebelum masuk kelas," kataku pada mereka.
"Baiklah, tapi jika kau sakit, kau harus cepat mengatakannya pada kami," kata Riana kembali dengan nada khawatirnya, di masa depan aku akan merindukan Nada khawatir dari Riana.
"Yah, aku janji. Oh iyya, ayo kita ke kelas sebentar lagi dosen kita akan masuk," kataku pada mereka. Ini ku lakukan, agar dapat mengambil tempat dimana aku bisa menghindari dia.
Setelah sampai di kelas, kami menempati tempat duduk di bagian tengah. Ini, kita lakukan karena tidak ingin terlalu menonjol pun ingin sedikit dilihat oleh dosen.
Sekitar 15 menit kami duduk di ruangan sambil bercerita apa yang akan kita pelajari nanti. Aku melihat dia memasuki ruangan, mata kami bertabrakan dan saling melihat selama beberapa detik. Aku pun teringat, dulu aku juga melakukannya seperti ini hingga ia duduk di kursinya. Kali ini aku harus melakukan hal yang berbeda, maka akupun cepat-cepat melihat hal lainnya.
__ADS_1
Kelas kami selesai dengan cepat, karena dosen kami ingin keluar kota hari ini. Katanya, ada keperluan mendadak. Kami merasa senang, seperti mahasiswa biasanya, kami akan senang karena cepat pulang dan juga tidak akan mengganti kelas di lain waktu.
"Hai Keysha, aku boleh mengambil nomormu?" kata lelaki di depanku dengan senyumnya yang manis. Namun, aku merasa ingin muntah karena sudah tahu dia akan seperti apa nantinya.