Paper Dream

Paper Dream
Chapter 12


__ADS_3

Aku berada di dapur, namun dapur yang ku tempati saat ini bukanlah dapur ku yang dulu bersama Kenan. Aku berada di rumah yang lumayan besar. Tapi, tidak ku tahu di mana aku. Aku juga masih melihat Paper Dream yang ada di dekatku. Aku ke luar dari dapur dan berkeliling melihat rumah yang ku tempati saat ini. Tidak ada satupun foto pada ruang tamu dan tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah ini selain aku.


Aku mengambil ponsel ku, ku cari nama Lenca. Namun, tak ku dapati namanya di ponsel ku. Kemudian, ku cari nama Riana dan ternyata nomornya masih ada. Ku telepon dia, untungnya nomornya tersambung. Tut... Tut... Tut... Nada dering teleponnya tersambung, namun tidak ada yang mengangkat telepon itu. Aku kembali meneleponnya, namun di tolaknya dan ada pesan yang masuk. "Aku sedang meeting, sebentar aku telepon kembali yah." tulis pesan yang masuk itu.


Aku kembali menyusuri rumah yang ku tempati sekarang, ku periksa satu per satu ruangan yang ada di sana, bahkan aku naik ke lantai dua, tidak ada tanda-tanda yang membuktikan kalau aku tinggal dengan seseorang.


Apa di masa sekarang aku tidak memiliki pasangan? Kenapa seakan-akan tidak ada yang tinggal di rumah ini selain diriku.


Tringggg.... Tringgggg... Tringgggg...... Telepon berdering dengan nyaring di dapur yang sebelumnya ku tempati. Aku berlari menyusuri tangga, dengan cepat aku menuju dapur dengan berharap yang menelepon ku bisa memberikan ku sebuah petunjuk.


'Ibu' tertulis namanya di sana. Aku mengangkat telepon itu dengan cepat, berharap ibu memberikan beberapa kalimat yang membuat ku tahu keadaan ku saat ini.


"Halo?"


"Halo Nak? Apa Ayah mengganggu mu?" Suara serak yang masih seperti dulu terdengar di telingaku.


"Tidak Ayah. Ada apa?"


"Ibu ingin ke rumah mu minggu depan, tidak apakan? Ibu ingin berbelanja baju, soalnya anak tetangga mau menikah minggu depan," kata ibu yang mengambil alih telepon.


"Ayah sudah bilang pada ibumu, kalau dia akan mengganggumu," sambung Ayah yang terdengar agak jauh.

__ADS_1


"Nggapapa ko Yah, aku enggak terlalu sibuk kalau weekend"


"Benarkah? Kamu bisa menemani ibu?"


"Iya. Key bisa ko Bu"


"Kamu enggak sekalian mau nemenin Ayah jalan-jalan? Ayah kan yang antar Ibu ke sana," Ayah tiba-tiba terdengar sangat dekat dengan telepon.


"Enggak usah, Ayah tinggal di rumah aja. Ini aja udah syukur banget Key mau temani Ibu belanja baju." Apa aku setidak dekat itu dengan Ibu? Sebenarnya aku ini orang seperti apa sehingga mereka bereaksi keheranan seperti itu.


"Kalau Key mau kan enggak papa kita sekalian jalan-jalan. Iya enggak Key?" kata Ayah kembali mengambil alih telepon.


"Iya boleh ko Yah. Nanti Key ajak makan di luar deh."


"Ibu tutup teleponnya jangan sampai kamu berubah pikiran. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Balasan salam yang ku ucapkan, tidak ada yang mendengarnya. Seakan mereka baru pertama kali melihat reaksi ku seperti itu. Aku semakin keheranan mendengar Ibu dan Ayah. Sebenarnya, aku ini orang seperti apa saat ini?


Aku melihat kertas yang sebelumnya masih tergeletak di atas meja. Aku ingin kembali ke suatu masa. Tapi, rasanya aku tidak ingin, menyia-nyiakan waktu ku. Siapa tahu sajakan, jika aku berbicara dengan salah satu teman ku mereka bisa memberitahukan aku ini orang seperti apa.


...****************...

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, ponsel ku berdering dan kudapati nama Riana memanggil disana. "Halo Key, ke Supermarket dekat rumah Lo yah! Gue ada di sini. Cepetan!" Telepon itu pun ditutup sepihak olehnya. Tanpa ada kata apapun dari ku, meski sebenarnya aku sangat ingin menanyakan saat itu juga padanya. Namun, nyatanya dia lebih sibuk dari yang ku bayangkan.


Aku naik ke lantai atas terlebih dahulu mengambil jaket yang ku lihat di lemari. Lalu, turun kembali dan memakai alas kaki terlebih dahulu. Aku membuka pintu dengan hati-hati, ternyata aku tidak megenali tempat ini. Tapi, aku merasa pernah mendatangi tempat ini. Aku lupa, tapi ku rasa tempat ini sangat indah.


Aku memerhatikan terlebih dahulu sekeliling ku dan mencari Supermarket terdekat yang ada di sekitar rumah. Aku melihat Supermarket di sebelah kiri rumah ku dan ku dapati seseorang yang tampak ku kenal berada di teras sedang menggeledah sesuatu.


"Riana!"


"Hei!" Dia mendongak melihat ku sambil tetap menggeledah tasnya. "Duduklah di depanku, aku lagi mencari sesuatu nih," lanjutnya.


"Apa yang kau cari?"


"Ta-da, foto yang kau minta kemarin." Dia mengeluarkan selembar foto seseorang yang nampak ku kenali. Tapi, aku tidak tahu ada hubungan apa aku dengan orang yang berada di foto.


"Kenapa Lo ngasi foto ini ke gue?"


"Bukannya kemarin Lo yang minta? Katanya, Lo lagi kangen sama ni orang. Padahal sampai sekarang belum ada kejelasan. Dia juga udah enggak hubungin Lo lagikan setelah itu?"


"Apa maksudmu? aku lupa orang ini siapa. Aku enggak ingat sama sekali," kataku dengan kebingungan.


"Apa kau sedang sakit?" tanyanya khawatir padaku.

__ADS_1


"Tidak. Tapi, aku seperti melupakan sesuatu." Lalu kepala ku terasa sangat sakit, dan sekilas aku melihat diriku dengan orang yang di foto ini. Tapi, aku merasa tidak pernah melakukan hal yang ada dalam pikiran ku itu. Sebenarnya, kenapa aku seperti ini?


__ADS_2