
Aku sudah sampai di Cafe tempat janjian ku dengan Kenan. Sebelum memasuki area Cafe, di samping tempat bebas merokok melihat sepasang kekasih yang saling bermesraan di sana. Setelah memasuki area dan lebih mendekat dari mereka, aku seperti mengenal mereka berdua. Yah mereka adalah Lenca dan Kenan, sahabat ku dan orang yang ingin melamar ku. Aku semakin mendekat agar mendengar pembicaraan mereka. Namun, mereka tidak bisa melihat ku karena terdapat pintu yang hanya di buka sedikit.
"Aku sangat mencintai mu Lenca!" kata Kenan, lalu ia mendekatkan wajahnya pada Lenca
"Aku juga tapi kamu ingin melamar Keysha hari ini kan." Aku terkejut dengan pengakuan Keysha, apa sebelum aku kembali ke masalalu. Lenca tetap menyukai Kenan?
"Iya. Keysha adalah wanita pekerja keras, aku bisa mengambil uangnya terlebih dahulu. Lalu aku akan meninggalkannya dan menikahimu."
"Kenapa tidak sekarang saja kau langsung menikahi ku? Kau bisa memutuskannya nanti jika kamu bertemu." Lenca ternyata kamu sangat jahat padaku. Kenapa kamu seperti ini Lenca? Air mataku mengalir mendengar apa yang diucapkan sahabat ku.
"Belum bisa satabg, aku harus mendapatkan harta Keysha dulu. Aku dengar dia memiliki warisan yang lumayan banyak dari orang tuanya. Kamu harus bersabar yah!" Kenan berusaha meyakinkan Lenca, lalu aku melihat wajah mereka semakin mendekat.
"Iya baiklah. Aku percaya padamu." Mereka berciuman di tempat itu. Aku rasanya tidak ingin percaya bahwa orang yang di dalam itu adalah Lenca sahabaku. Namun, dia benar-benar Lenca dan Kenan, aku telah melihat baik-baik wajah mereka.
Aku meninggalkan tempat itu, ingin rasanya aku pulang saja ke rumah. Hatiku sangat sakit mendengarkan apa yang mereka ucapkan. Namun, aku harus tetap pura-pura tidak tahu, karena mereka yang bermain lebih dulu. Aku juga harus akting di depan mereka. Tapi, aku akan menolak lamaran Kenan bagaimana pun caranya.
...****************...
"Aku harus menelpon Keysha, dia tadi sudah berangkat. Jangan sampai dia melihat kita," kata Lenca pada Kenan.
"Tapi, aku masih ingin bersamamu sayang." Kenan mengecup manja bibir Lenca, ia masih terus ingin bersama Lenca meskipun dia tahu hari ini dia akan melamar Keysha.
"Jangan sampai kita ketahuan sayang, kalau ketahuan rencana mu enggak akan berjalan dengan baik," kata Lenca agak kesal pada Kenan. Ia mengambil ponselnya dari saku celananya.
Kenan menepis ponsel Lenca dari tangan Lenca. "Sebentar lagi, aku ingin bersamamu sebentar lagi." Kenan menundukkan badannya dan menyandarkan wajahnya pada bahu Lenca. Dia berdiam disana sambil memejamkan matanya.
Lenca mengangkat wajah Kenan dan melihatnya baik-baik. Ia tidak tega melihat wajah lesu Kenan, tapi ia juga tahu apa yang diperbuatnya akan membuat dirinya dengan sahabatnya bisa bertekar. Namun, ia terlalu menyukai Kenan calon suami sahabatnya itu. Ia mengecup bibir Kenan agak lama lalu mundur saat Kenan ingin lebih lama menciumnya. "Aku harus menelpon Keysha, hanya sebentar." Ia mengambil ponsel dan mencari nama Keysha. "Halo," katanya setelah Keysha mengangkat telepon.
"Halo. Aku sudah ada di Cafe nih. Aku enggak lihat kalian."
"Kamu di lantai berapa?" Ia mengode Kenan untuk naik ke lantai dua secepatnya melewati jalur belakang yang mereka lalui sebelumnya. Kenan memilih lantai dua untuk Pertemuan mereka karena takut ketahuan jika dia ingin bersama Lenca terlebih dahulu.
__ADS_1
"Aku di lantai satu, aku duduk disalah satu meja di sini."
"Oh kamu naik ke lantai dua, di sana Kenan sudah menunggu. Aku lagi ada di Wc."
"Oh, kenapa enggak di lantai satu aja? Aku udah pesan minum."
"Enggak, enggak, kamu naik ke lantai dua yah. Soalnya, tadi kata Kenan ada sesuatu yang ingin dia kasi ke kamu. Jadi naik yah! Okay!"
"Iyya aku naik sekarang."
...****************...
Lenca menelpon ku saat aku memperbaiki diri dan mood ku untuk bertemu dengan mereka. Sebenarnya, Kenan telah memberitahu ku bahwa aku dan dia akan bertemu di lantai dua. Namun, aku pura-pura saja tidak tahu pada Lenca. Ini ku lakukan agar mereka merasa bahagia karena telah berpikir bahwa rencana mereka berhasil, juga mereka tidak ketahuan olehku. Kenan juga ternyata lupa kalau sebelumnya dia memberitahukan padaku untuk langsung naik di lantai dua dan bertanya pada resepsionis untuk pertemuan kami.
Aku membereskan tas ku dan menuju meja resepsionis, "Mbak, saya mau pindah ke lantai dua dengan pesanan tempat atas nama Kenan. Tempatnya di bagian mana yah?" Lantai dua merupakan tempat bagi orang-orang yang memiliki ruang pribadi dengan teman maupun keluarga mereka. Lantai dua ini mirip dengan lantai VIP pada beberapa restoran. Bayaran pada tempat ini pun lumayan mahal karena tamu yang makan di sini akan dihitung perjam mulai kedatangannya.
"Sebentar saya cek dulu yah Mbak."
"Mbak, pesanan atas nama Kenan di lantai dua berada pada ruangan 215. Mbak, akan ditemani rekan saya Reka. Silahkan ikut dengan Mbak."
"Iya. Terimakasih Mbak." Aku mengikuti resepsionis laiin yang telah ditunjuk oleh Mbak sebelumnya.
"Mbak, pasangannya Mas Kenan yah?"
"Belum, kamu kenal Kenan?"
"Iyya Mbak, temannya saudara. Jadi, kenal juga. Katanya pas pesan tempat ini, hari ini hari spesial kalian." Senyum lelaki yang berperawakan tinggi dan berkulit sawo matang itu. Untung saja, sebelumnya aku lebih memilih diam dibandingkan berbicara dengannya. Ternyata dia mengenal Kenan dengan baik.
Pembicaraan kami terhenti setelah itu, kami tidak terlalu banyak berbicara saat naik ke ruangan yang telah dipesan. Setelah sampai di depan ruangan dia membukakan pintu untuk ku, Sedangkan dia langsung pergi meninggalkan ruangan.
Aku melihat Kenan duduk menghadap pintu dan tersenyum padaku. Sebenarnya, hatiku sangat ingin berkata kasar padanya. Namun, ku urungkan karena aku ingin terlihat tidak mengetahui apa-apa di depannya. Aku hanya ingin mengakhiri hubungan kami.
__ADS_1
"Kesyha, Will You Marry me?" Ia berdiri dan menghampiri ku, ia membuka kotak kecil yang berisikan cincin. Aku juga baru sadar, bahwa dibelakang ada kalimat Will You Marry Me juga. Apa sebenarnya ini untuk Lenca? Dia datang sebelum aku sampai kan.
"Apa kita bisa duduk dulu?" Wajah Kenan langsung terlihat cemas ketika aku tidak memberikan jawabanku terlebih dahulu. Aku memilih duduk dan meninggalkannya yang tengah berdiri di tengah-tengah ruangan. "Lenca kenapa belum datang?"
"Ah, dia... Dia.."
Lenca membuka pintu masuk dan tersenyum padaku, "Key, kamu sudah sampai? Gimana nih?" Dia melihat Kenan dan aku dengan penuh tanda tanya.
"Apanya yang gimana?"
"Loh, Kenan kamu belum bilang?" katanya dan ia melihat Kenan dengan heran.
"Udah ko. Tapi, Key belum jawab." Kenan memperlihatkan wajahnya yang sedikit sedih. Dasar, laki-laki buaya.
"Aku pikir, persiapan ini untuk kamu Ca," kataku langsung karena tidak bisa membendung keamarahanku pada dua orang yang ada di depanku ini.
"Maksud kamu apa Key?" kata Lenca yang sedikit pucat, namun ia sangat pintar menyembunyikan emosinya. Sedangkan wajah Kenan terlihat pucat dan tanpa emosi.
"Tidak, kan kamu yang duluan datang."
"Lenca membantu ku Key, dia teman mu yang sangat baik." Dia berjalan ke arahku dan duduk di samping ku. "Jadi bagaimana jawabanmu?"
Aku melihat Lenca yang memaksakan senyumannya, "Maafkan aku Ken, aku tidak bisa menerimamu!" Wajah Lenca terlihat sedikit bahagia, namun ia berusaha keras untuk menyembunyikan kebahagiannya itu.
"Kenapa Key? Bukannya kalian saling mencintai?" kata Lenca.
"Ia Key, aku-aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu seperti ini padaku? Kita hanya perlu menentukan tanggal nikah dan setelah itu bahagi seumur hidup. Kenapa kamu malah seperti ini?"
"Maafkan aku Ken, aku benar-benar tidak bisa bersamamu."
Mataku terpejam setelah mengatakan kalimat itu, lalu ku dapati diriku berada di tempat sebelum aku kembali ke masa lalu yang sebelumnya. Apa aku sudah kembali di masa sekarang? Semoga saja, hidupku mulai baik-baik saja Tuhan.
__ADS_1