Paper Dream

Paper Dream
Chapter 13


__ADS_3

Kepalaku terasa sangat sakit, beberapa adegan terputar dalam kepala ku. Laki-laki di foto yang masih berada dalam genggaman tangan Riana muncul dalam kepala ku. Dia menggenggam tangan ku lalu mengucapkan, "Aku pergi sebentar yah. Aku enggak akan lama. Aku janji akan kembali pada mu," katanya dalam ingatan ku yang sekilas itu. Aku melihat diriku menangis di bandara. Lalu ia menghapus air mata dan memeluk ku.


"Keysha, kau baik-baik saja?" Lenca menyadarkan ku dari sesuatu yang tidak benar-benar ku tahu darimana asal ingatan itu.


"Aku tidak tahu, aku melihat laki-laki yang ada difoto ini di bandara. Aku melihat dia memelukku dan aku menangis. Apa aku gila?"


"Key, kau baru kemarin menyuruh mencari tahu di mana dia sekarang. Tapi, kau seakan lupa sama semua hal," kata Riana tidak enak padaku. "Apa kau sedang sakit?" Dia menempelkan tangannya pada keningku dan keningnya. "Sepertinya, suhu badan kita sama." Dia terlihat kebingungan dengan ku.


Aku baru menyadari, setiap aku kembali dari masalalu, maka semua masalaluku setelah aku kembali akan berubah juga. Saat kembali di masalalu sebelumnya, aku tidak pernah menerima Kenan, apa aku tidak pernah berpacaran dengannya? Apakah orang yang ada di foto ini adalah seseorang yang memiliki hubungan dengan ku? Aku tidak tahu.


"Ah, aku hanya lupa dengan beberapa hal. Bisakah kamu memberitahu aku, kenapa aku ingin mengetahui keberadaan dia?"


Alis Riana berkerut, dia seperti ingin bertanya lagi namun dia sepertinya tahu kalau aku tidak akan memberitahukan jawaban apa yang dia mau. "Kalian berdua kehilangan kontak tiga tahun yang lalu. Karena Damar ke Luar Negeri hampir empat tahun lalu. Tapi, aku tidak tahu kenapa Damar tiba-tiba tidak bisa di hubungi," katanya yang hanya menjawab pertanyaan ku meskipun masih kebingungan dengan ku yang tiba-tiba seperti amnesia.


Damar? Aku seperti pernah mendengar nama orang ini. Siapa yah dia? Seberapa keraspun aku berpikir aku tidak bisa mengenalinya dan tidak ada tanda-tanda yang bisa aku ingat dia sebenarnya siapa dan orang seperti apa. "Lalu, di mana dia sekarang?" tanyaku lagi pada Riana, kemudian aku mengambil foto itu dan melihatnya lebih jelas untuk mencari tahu orang yang ada di foto ini sebenarnya siapa.


"Dia ada di Korea, dua tahun lalu dia pindah ke Korea melanjutkan S3 nya. Aku tidak tahu lebih jelasnya kenapa dia bisa tidak dihubungi, dan kenapa dia tidak memberitahukan padamu dua tahun lalu kalau dia akan pindah ke Korea."


Aku melihat sekilas kembali diriku bersama orang tersebut. Dia memasangkan cincin pada tangan ku, begitupun dengan ku memasangkan cincin pada tangannya. Aku melihat kejadian itu di pantai dan kami berfoto setelah itu.


"Apa aku sudah tunangan dengannya?"


"Belum, tapi cincin yang pernah kamu pakai itu tanda bahwa dia telah mengikat mu," kata Riana padaku. Ia menjelaskan kembali apa yang telah aku lalu bersama laki-laki itu. Aku yakin bahwa dia masih saja penasaran kenapa aku melupakan segalanya.


"Lalu di mana cincin itu?"


"Aku juga tidak tahu. Aku hanya pernah mendengar dari mu, bahwa kamu menyimpannya di sebuah kotak. Lalu kamu akan memakai kembali cincin itu jika dia kembali melamar mu."

__ADS_1


"Apa kamu tahu dia akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat?"


"Iya. Setahu ku dia akan kembali bulan depan," kata Riana Tegas. "Jadi, apa kau benar-benar baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa kau terlihat khawatir seperti itu?"


"Kemarin kamu demam tinggi, aku pikir kamu jatuh di rumah mu lalu kepalamu terbentur, sehingga kamu melupakan segala hal penting dalam hidup mu."


"Aku juga tidak tahu Riana, seingat ku aku hanya pergi ke meja makan dan lalu aku melupakan segalanya," kata ku. Hal ini aku lakukan demi menghindari pertanyaan berikutnya dari Riana.


"Mungkin saja kepala mu memang benar-benar terbentur saat aku pergi dari rumah mu. Yah sudah kamu pulang saja, besok biar aku tanya karyawan mu kalau kamu masih harus istirahat." Aku bahkan tidak ingat kalau Riana menjaga ku semalaman di rumah. Lalu, aku punya karyawan? Aku bahkan tidak tahu itu.


"Yah, sepertinya aku memang harus pulang istirahat." Aku pun berdiri dari meja ku dan segera pulang.


"Key!" Aku berbalik melihatnya ketika Riana memanggil ku. "Kamu punya buku catatan harian, kamu menulis di sana setiap hari apa yang kamu lalui. Bisa saja kamu dapat petunjuk ingatan mu di sana. Karena aku rasa, kamu tidak melupakan segalanya, kamu hanya melupakan sebagian hidup mu," sambungnya.


"Kamu tahu di mana catatan harian ku berada?"


"Gapapa Ria, aku baik-baik saja ko."


"Ketika kamu membacanya, aku harap kamu tidak terkejut yah. Telepon aku jika kamu merasa hati mu sangat sakit." Dia berdiri lalu memeluk ku erat. Sebenarnya, hal apa yang terjadi yang dia maksudkan itu? "Aku tahu kamu kuat, tapi gapapa ko kalau kamu mau bercerita pada ku."


"Iya. Aku akan memberitahukannya pada mu. Aku pergi dulu yah Ria." Aku melonggarkan pelukannya dan berusaha meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa dan akan mencarinya jika butuh sesuatu.


"Iya hati-hati." Aku berjalan meninggalkannya dan ketika aku menengoknya dia melambaikan tangannya padaku. Begitupun aku membalas lambaian tangannya.


...****************...

__ADS_1


Sampai di rumah aku memasuki kamar dan menuju ke meja rias. Aku membongkar laci-laci meja dan berusaha menemukan buku catatan yang di maksud Riana. Namun, aku tidak menemukan apa-apa. Sepertinya, aku memang harus kembali ke masalalu sekarang agar aku tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Aku berjalan ke dapur kembali melihat Paper Dream yang masih tersimpan rapi di atas meja serta pemantik api yang akan membakar kertas itu. Aku berpikir keras harus menulis masa kapan yang paling bagus aku datangi. Karena kertas Paper Dream in ini adalah kertas terakhir yang bisa ku gunakan kembali ke masalalu.


Ku pilih suatu masa yang paling berkesan dan paling tidak ingin ku jalani saat ini. Aku menulis pada Paper Dream, 'Kembali ke lamaran Kenan'. Aku mengambil alat pemantik itu lalu kunyalakan dan membakar kertas yang telah ku tulis tadi.


Kertas mulai terbakar sedikit demi sedikit, hingga semua terbakar. Aku memejamkan mataku dan di sini lah aku. Di kamar kos yang sedang berdandan. Aku mengambil ponsel yang berada di dekatku. ku lihat tanggal 10 Oktober tanggal lamaran yang dia lakukan padaku di sebuah Cafe dekat Pantai.


Tringgg... Tringgg.... Tringggg. "Halo?" Aku mengangkat telepon dari Lenca.


"Kamu di mana?"


"Masih di rumah, kenapa Ca?"


"Enggak. Aku udah sampai di Cafe nih. Tapi, aku belum liat kamu jadi aku telepon kamu."


"Iya ini baru mau pergi. Aku on the way sekarang." Aku mengambil tas ku dan bergegas ke luar.


"Okay. See you di sini yah." Telepon pun di tutup oleh Lenca.


Tet.. tet. tet.. Pesan masuk dari Riana, "Aku enggak jadi ke sana soalnya harus pulang, mamaku katanya sakit. Maaf yah Key, aku enggak temenin kamu ke sini. Padahal kita juga mau sekalian jalan-jalan kapan lagi kan ke pantai😭"


"Gapapa Ria, santai aja. Di sana udah ada Lenca. Yang penting aku ada teman kan. Aku enggak mau berduaan aja makanya aku ajak kalian," balas ku pada pesan Riana.


"Oke. Thank yah udah ngerti. Have fun yah🫶"


Setelah melihat pesan Riana, aku melihat aplikasi Ojol yang bisa mengantar ku ke pantai. Setelah mendapatkan ojol, aku hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di pantai yang telah kami janjikan bertiga.

__ADS_1


Dari kejauhan aku melihat Cafe tempat aku dan Kenan janjian. Sebelum masuk ke area Cafe, mata ku melihat sesuatu yang tidak mengenakkan pandangan ku. Lalu saat sedikit mendekat ke tempat itu, walaupun aku tidak akan terlihat oleh mereka. Aku bisa melihat wajah mereka berdua, dia adalah Kenan dan Lenca. Memang wajar mereka bertemu karena tempat ini, tempat merokok.


Tapi, mereka membuat ku benar-benar kecewa. Rasanya, aku langsung ingin pergi dari Cafe. Tapi, aku juga tidak ingin ketahuan melihat mereka bersama. Aku memutar badanku dan menuju pintu masuk Cafe.


__ADS_2