Paper Dream

Paper Dream
Chapter 6


__ADS_3

Hampir 15 menit aku berdiam diri di dapur memikirkan, 'apakah aku harus kembali ke masalalu'. Aku merasa harus pergi saat itu juga, namun batin ku mengatakan jangan saat ini. Aku bimbang pada pikiran ku, di lain sisi aku sudah tidak sanggup bersamanya, di sisi lain aku takut kembali ke masa lalu karena terkejut terhadap apa yang akan aku lihat di sana atau sepulang ku dari masalalu.


"Key, ke mana kau?" Terdengar suaranya dari dalam kamar yang parau, aku yakin dia belum sepenuhnya sadar. Akan tetapi, dia akan sepenuhnya sadar jika tidak mendengar ku bersuara atau melakukan apa yang dia inginkan.


"Aku di luar, kenapa? jawabku, sambil berjalan memasuki kamar dan mendekat padanya.


"Kau tidur di kasur sana yah, aku sedang tidak ingin diganggu saat tidur. Ah satu lagi, besok jangan bangunkan aku. Juga siapkan sarapan untuk ku, aku akan langsung berangkat kerja jika sudah bangun," katanya lagi menjelaskan panjang lebar apa yang dia inginkan saat itu juga esok harinya.


"Iya. Tapi, kita tidak memiliki bahan makanan," jawabku lagi dengan nada datar. Jika memang dia akan marah kembali pada ku. Aku akan langsung pergi dari rumah ini.


Matanya membulat dan kesadarannya pun sudah penuh. "Ambil di dompet ku, di sana ada uang. Ambil Rp200.000 saja, beli bahan makanan sekarang. Aku harus makan sebelum berangkat kerja," katanya dengan datar. Lalu kembali menenggelamkan dirinya ke dalam selimut.


"Iyya. Aku pergi dulu," jawabku kemudian sambil ke luar dari kamar.

__ADS_1


Aku meraih dompetnya dan melihat lima lembar uang kertas Rp100.000 dan beberapa kartu atm yang sebelumnya tidak pernah ku lihat sebelum kembali ke masalalu. Pada tempat foto, tidak lagi ku dapati foto ku dengannya yang tersenyum saat menikah. Foto itu, digantikan oleh kartu-kartu atm, timezone (padahal dia tidak pernah mengajakku jalan-jalan ke sana), serta ku lihat sebuah kunci hotel yang berbentuk kartu. Mungkin, saja dia pergi bermalam di sana karena hari ini kami bertengkar. Lalu, tiba-tiba ibu ku menelepon nya, jadi terpaksa harus pulang ke rumah. Setelah itu aku ke luar rumah dan berjalan menuju swalayan di dekat rumah tadi, kebetulan aku melihatnya saat ke luar tadi siang


...****************...


Saking lamanya tidak ke luar rumah (selain tadi siang), ternyata sudah banyak perubahan di dekat rumah kami. Aku berjalan-jalan melihat buah dan sayur, yang harganya lumayan melonjak menurutku. Mungkin ini dikarenakan aku yang sudah lama tidak belanja di swalayan. Aku biasanya hanya belanja di pasar yang biasa ditawar.


Aku membeli sayuran-sayuran segar yang cocok dijadikan sarapan pada pagi hari dan beberapa buah untuknya setelah sarapan. Aku juga membeli daging yang lumayan murah yang masih bisa ku beli dengan sisa uang ku.


"Keysha? Apa hari ini kamu baik-baik saja?" Aku melihat Riana berada di depanku. Apa aku bermimpi? Ku pikir, Riana tidak berada di kota ini.


"Maksud kamu? Bukannya, kita memang sering bertemu di sini? Ini kan jadwal belanja kita setiap malamnya," katanya lagi.


Aku mengkerutkan keningku kebingungan, bukannya 'dia tidak berada di sini,' pikirku dalam hati. Perubahan di sekitar ku terlalu besar ketika aku dari masalalu. "Ah, apa kita sering bertemu di sini? Aku benar-benar lupa Riana. Maafkan aku, akhir-akhir ini pikiran ku sedang kacau," jawabku padanya.

__ADS_1


"Hmm. Iya Key, aku tahu kamu sangat menderita karena Kenan. Tapi, aku harap semuanya akan berlalu dan membuat mu bahagia suatu saat nanti," katanya sambil berjalan dan melihat-lihat sayuran dan bahan makanan. Ia seakan tahu semua tentang ku.


"Iya. Terimakasih Riana, tapi kenapa kamu bisa tahu semuanya?" jawabku kebingungan kembali.


Riana berhenti berjalan dan melihat ku, ia menempelkan tangannya di dahiku. "Tidak panas. Apa kau amnesia karena perlakuan Kenan padamu?" Ia menatap mata ku dengan lekat, seakan takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi padaku.


"Yah, aku melihat pesan dari seorang wanita yang ia panggil sayang. Tapi, aku tidak tahu siapa wanita itu," jawabku seakan mengeluarkan semua unek-unek yang telah lama ku pendam, yang telah lama tidak bisa ku ungkapkan pada semua orang. Namun, kali ini ku katakan pada Riana, karena dia adalah sahabat lama ku dan begitu baik padaku.


Wajah Riana terlihat sangat terkejut, "Siapa kira-kira wanita itu? Kenapa kau tidak periksa foto profil atau nomornya" tanyanya padaku.


"Handphone nya terkunci, jadi aku tidak bisa melihat foto dan nomor nya," jawabku.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan ke depannya? Aku sangat ingin tahu wanita ****** itu" katanya padaku.

__ADS_1


"Kita lihat saja dulu, aku belum memikirkan apapun harus bagaimana ke depannya," jawabku.


Telepon Riana berdering, ku lihat nama Kenan di sana. Kenapa Kenan menelponnya? Apa mereka memiliki hubungan? Apa tadi, dia hanya berpura-pura terkejut?


__ADS_2