
Sudah berjam-jam aku masih membongkar-bongkar foto-foto pernikahan ku. Aku sudah melupakan bahwa sedari tadi aku sangat lapar. Aku hanya fokus mencari keanehan-keanehan pada foto-foto yang lain. Ku selami satu-satu foto yang ada, ku buka kembali beberapa album dan ku cari apakah ada orang yang ku kenal juga menghilang seperti Lenca. Namun, nihil tidak ku temukan satupun foto yang berubah. Hanya foto Lenca yang hilang dalam album yang segitu banyaknya pada album pernikahan kami.
"Keysha? Kamu kemana? Kenapa kau tidak ada di rumah? Hey, wanita ****** dimana kau bersembunyi?" Terdengar suara Kenan yang sangat lantang dan marah-marah. Aku pikir, diakan bermalam di luar sana dan tidak akan kembali untuk beberapa hari ke depan.
Aku pun keluar dari gudang dan menghampirinya yang sedari tadi membanting-banting pintu karena marah melihat ku tidak ada di rumah. "Kenapa?" Hanya kata itu yang sanggup ku ucapkan padanya.
"Kau dari mana? Aku sibuk mencarimu, apa kau ingin pergi dari ku? Kau memang selalu membuatku kesal yah!" katanya sambil menunjuk-nunjuk bahaku dengan kesal dan marah.
"Aku di gudang belakang," kataku singkat tanpa melihat raut wajahnya.
"Apa yang kau lakukan di sana? Harusnya, kau hanya diam di kamar, tidak usah kemana-mana. Ini makanan untuk mu." Ia masih terdengar kesal, makanan yang ia berikan pun dilempar begitu saja ke atas meja. "Makan!" Ia menunjuk makanan yang tergeletak di atas meja, lalu masuk ke dalam kamar.
Aku pun duduk melahap makanan yang ia bawa, karena memang rasa lapar sudah tidak tertahankan lagi setelah melihat makanan itu. "Ibu mu menelpon, kau ambil Hp ku di dalam tas lalu telpon ibumu!" kata Kenan yang masih terdengar kesal. Aku jadi tahu kenapa ia pulang.
__ADS_1
Aku mengambil Hp seperti apa yang di katakannya lalu menelpon ibuku. Tut, tut, tut, "Halo ibu, ibu ada apa menelpon?" kataku setelah mendengar ibu mengangkat teleponnya.
"Tidak apa Nak, apa kamu baik-baik saja di sana?" kata ibuku, dari seberang telepon yang terdengar khawatir.
Ingin rasanya aku mengatakan semuanya pada ibuku, tapi ku urungkan karena takut ia merasa khawatir. "Tidak apa Bu, aku baik-baik saja di sini," kataku dengan pasrah. Kami pun, membicarakan hal-hal lain yang tidak penting. Mungkin, ini dikarenakan kami sangat saling merindukan.
Sudah lima belas menit berlalu, ibu pun menutup teleponnya. Aku juga sudah mulai merasa cemas pada hidup ku saat ini. Aku takut jika di marahi atau apapun lagi, aku merasa sangat trauma jika itu bersangkutan dengan suamiku.
"Keysha? Kamu sudah selesai menelpon dengan ibumu?" Suaranya sudah mulai halus, aku mengerti jika begini.
"Masuklah, aku ingin bicara dengan mu. Simpan kembali Hp itu di dalam tas," katanya lagi dengan suara yang halusnya.
Aku berjalan menuju meja yang di atasnya dan ingin menyimpan Hpnya. Namun, aku melihat sebuah chat masuk, 'Sayang, aku enggak bisa melakukannya sendirian. Kamu akan pulang kan?' Aku sudah tahu ia memiliki hubungan dengan wanita lain, tapi tidak ku suka wanita itu bahkan sangat mengejarnya. Apa dia tidak tahu kalau Kenan memiliki istri.
__ADS_1
"Key? Kenapa kamu lama sekali?" katanya yang mulai kesal.
Aku masuk ke dalam kamar dan melihatnya sudah telentang di atas kasur. Ia menepuk-nepuk kasur di sebelah yang biasanya aku tempati tidur. Aku hanya melangkah seperti suruannya. Lalu, masuk ke dalam selimut bersiap untuk tidur.
"Layani aku malam ini!" bisiknya, tanpa memberikan aku waktu untuk menolak. Dia mulai mengangkat baju ku, yang ku berikan sedikit perlawanan karena aku tidak ingin melakukannya. "Aku sudah memakai pengaman, jadi layani aku selayaknya suami mu, karena aku memang suami mu." Aku hanya pasrah mendengarnya. Lalu ku izinkan dia melakukan semaunya pada tubuh ku. Aku hanya diam mengikuti kemauannya.
Biasanya saat dia sangat ingin melakukannya bersamaku, dia biasanya melakukan persiapan yang bisa membuat gairah ku juga meningkat. Namun, kali ini ia tidak melakukan itu. Setelah dia membuat ku telanjang dengan pasrah ku. Ia langsung menaiki ku begitu saja dan meremas payudara ku dengan kerasnya. "Kenapa kau tidak mengeluarkan suara apapun?" katanya karena aku hanya diam dan menahan segalanya.
"Aku tidak tahu," jawab ku lagi dengan singkatnya. Aku yakin, sebelum pulang dia telah melakukannya dengan wanita lain sebelumnya.
"Bersuaralah sedikit, biarpun kau tak kesakitan atau merasakan apapun. Aku hanya ingin menikmati apa yang sedang ku lakukan. Dengarkanlah, perintah suamimu!" katanya kesal.
"Iya." Akupun melakukan apa yang dia suruh. Meskipun, aku benci melakukannya dengan dia yang seperti ini. Aku tahu bahwa aku hanya pelariannya. Tapi, aku harus melakukannya karena dia selalu mengatakan perintah suami atau apapun itu yang berkaitan dengan kewajiban. Padahal, aku yakin dia hanya menganggapku wanita ****** yang selalu dia temui di berbagai tempat itu dan melakukan seperti ini. Suami istri mana yang bersetubuh tapi selalu memakai pengaman padahal belum memiliki anak dan sudah lama menikah.
__ADS_1
Selama satu jam lebih aku meladeninya seperti yang ia perintahkan. Aku muak dan mulai lelah seperti ini. Aku keluar dari kamar setelah dia tertidur pulas. Aku ke kamar mandi membersihkan diriku. Rasanya aku ingin kembali ke masalalu saat ini juga. Aku ke dekat dapur dan melihat kertas itu kembali. Apa aku harus melakukannya sekarang? Apa aku tidak akan terkejut jika sesuatu terjadi setelah aku kembali pada masa lalu?