
Di kediaman tuan Thomas.
"Aku pikir, kamu akan lupa pulang ke rumah ini mas!? Aku pikir kamu akan lupa kalau punya istri," ucap mama Citra dengan ketus. Tuan Thomas terkekeh saja mendengar omelan dan sindiran dari istrinya. Namun kembali tuan Thomas membiarkan istrinya bicara karena kesal. Tuan Thomas kini berjalan ke dapur dan menyuruh salah satu asisten rumah tangga nya untuk membuatkan kopi kesukaan nya.
"Mbak, tolong bikinkan saya kopi dengan sedikit gula," perintah tuan Thomas pada asisten rumah tangga nya.
"Baik, tuan!" sahut mbak-mbak salah satu pembantu di rumah tuan Thomas yang terlihat masih sangat muda.
Mama Citra terlihat semakin sebal karena tuan Thomas biasanya menyuruh dirinya lah yang membuatkan kopi itu.
Tuan Thomas kini duduk santai di teras depan sambil menunggu kopi buatan pembantu nya selesai dibuat. Mama Citra mengikuti tuan Thomas yang duduk di kursi teras rumahnya. Keduanya masih diam dan tidak saling bicara. Tuan Thomas tidak ingin ribut-ribut dan gaduh dengan istrinya. Jadi omelan dan ocehan mama Citra sejak tadi tidak disahuti oleh tuan Thomas. Hanya sesekali tersenyum saja mendengar omelan istri mudanya itu.
Hingga kopi itu diantar kepada tuan Thomas, tuan Thomas lalu mulai menyeruput kopi itu sambil mulai menyalakan batang rokok miliknya.
"Hari ini Palupi ulangan akhir di sekolah nya. Kamu tidak tahu kan, mas? Kamu hanya sibuk dengan putri kesayangan kamu saja, Paula," omel mama Citra lagi.
"Aku tahu Citra! Bukannya mereka satu sekolah. Bahkan satu kelas juga kan? Aku menyayangi keduanya, Citra. Buktinya aku selalu memberikan perhatian pada Paula dan juga Palupi. Bahkan aku rela menyerahkan Paula pada papa supaya kamu hanya mengurus Palupi saja. Aku tahu kalau Paula bukan putri kamu, kan? Mungkin kamu akan lebih condong pada putri kamu sendiri, Palupi," ucap tuan Thomas.
"Eh?! Mana ada aku suka membedakan diantara Paula dan Palupi, mas! Aku bahkan lebih memperhatikan Paula daripada Palupi. Karena apa? Paula butuh mama. Paula butuh aku, mas!?" kata mama Citra. Tuan Thomas tersenyum sinis.
"Sudahlah, Citra! Jangan kau kira aku tidak tahu selama ini yang kamu lakukan pada Paula. Jangan kamu kira, aku tidak mengetahui nya, kamu memperlakukan Paula sangat tidak adil. Bahkan kamu sengaja mengambil dan merampas mobil Paula untuk sekolah dan kamu suruh Paula berangkat sendiri dengan naik angkutan umum. Sedangkan Palupi, putri kamu ke sekolah. dengan mobil milik Paula dan kadang-kadang diantar oleh sopir pribadi," kata tuan Thomas panjang lebar.
"Eh??" mama Citra melebar bola matanya mendengar ucapan tuan Thomas.
"Itu sebabnya Paula terlambat masuk sekolah dan selalu mendapatkan hukuman bukan? Selain itu kamu menyuruh Paula mengerjakan pekerjaan rumah bukan sedangkan Palupi, putri kamu tidak. Kamu membiarkan putri kamu seperti tuan putri di rumah ini. Dan kamu menjadikan dan memperlakukan Paula seperti pembantu. Kamu benar-benar hebat yah!!" kata tuan Thomas. Kembali mama Citra gugup tidak bisa berkata-kata.
"Eh? Mas?! Aku tidak mungkin seperti itu, mas!?" sahut mama Citra. Tuan Thomas mendengus kesal dengan istri mudanya itu.
__ADS_1
"Kamu bisa lakukan apa saja di rumah ini, Citra! Tapi jangan pernah menyakiti putri ku! Bahkan menghina putri ku, Paula! Karena sebelum kamu dan putri kamu datang ke rumah ini, Paula adalah tuan putri di rumah ini. Sekarang, coba introspeksi semua kesalahan kamu. Jika tidak? Aku akan mengusir kamu beserta putri mu dari rumah ini," kata tuan Thomas.
"Mas? Eh astaga mas?! Sumpah mas, kamu salah paham. Kamu mendapatkan informasi dari siapa? Semuanya yang kamu katakan itu tidak benar mas," ucap mama Citra. Tuan Thomas tersenyum sinis.
"Sepertinya, aku tidak akan bisa mempertahankan kamu, Citra. Bagaimana Citra!? Apakah kamu sudah siap untuk aku kembalikan pada orang tua kamu? Aku rasa, dengan sikap dan kelakuan kamu itu, kamu sudah tidak sanggup dan mampu menjadi mama sambung bagi Paula," kata tuan Thomas.
"Mas Thomas!? Sumpah mas, aku sangat menyayangi Paula mas. Sungguh, mas!? Seharusnya, mas percaya aku! Jangan kamu pecat aku menjadi istri kamu, mas!?" ucap mama Citra.
"Benar! Sepertinya aku akan menceraikan kamu, Citra!?" kata tuan Thomas. Mama Citra langsung bersimpuh di kedua kaki tuan Thomas. Dia memohon sambil menangis atas kesalahan nya.
"Mas Thomas! Bukannya mas Thomas sangat mencintai aku mas? Jangan lakukan ini terhadap ku mas! Aku akan berubah, mas!? Aku tidak akan mengulangi kesalahan ku, mas!? Aku akan menjadi mama sambung yang baik bagi Paula, mas!? Asal mas Thomas, jangan menceraikan aku mas," ucap mama Citra sambil terisak-isak.
"Citra, Citra!? Kamu lupa aku ini siapa? Aku bisa menyuruh anak buah ku untuk mengawasi kamu dan putrimu di rumah ini. Walaupun aku jauh dan berada di luar kota, aku akan tetap mengetahui nya. Karena apa? Aku memasang banyak CCTV-nya di rumah ini selain itu pelayan-pelayan di rumah ini semua sangat setia terhadap ku. Mereka tentu memberikan laporan, tentang semua situasi di rumah ini," urai tuan Thomas panjang lebar.
Mama Citra semakin ciut nyali nya. Dia tidak bisa berbohong lagi dengan tuan Thomas. Mama Citra sudah tidak bisa lagi mencari alasan pada tuan Thomas.
"Aku juga mengetahuinya, semua harta milikku yang kamu sembunyikan. Dan itu sangat membuatku terkejut. Benar-benar serakah kamu, Citra!?" kata tuan Thomas.
"Mas?!" mama Citra benar-benar terkejut tuan Thomas sudah mengetahui nya kalau dirinya selama ini membeli banyak aset berharga dengan uang tuan Thomas. Hal itu mama Citra membelinya tanpa ijin dan sepengetahuan dari Thomas. Saat tuan Thomas bertanya mengenai pengeluaran yang besar setiap bulannya, mama Citra memberikan alasan uangnya untuk memberikan sumbangan anak-anak yatim. dan panti jompo.
"Sudahlah, Lama-lama aku semakin jijik sekali. dengan perbuatan kamu, Citra!?" ucap tuan Thomas yang bergegas meninggalkan tempat tempat duduknya dan melangkah menuju ke kamarnya menyisakan mama Citra yang masih menangis tersedu-sedu.
*****
Saat pulang sekolah, Palupi bersama teman-teman nya nongkrong di sebuah kafe.
"Bagaimana ini? Kita dua kali ketahuan nyontek dan lembar jawaban kita kena sita. Satu bidang studi matematika dan satu lagi bidang studi agama," ucap Palupi.
__ADS_1
"Katanya papa kamu bisa mengurus dan menyelesaikan masalah kecil ini Palupi. Bagaimana sih, kamu?!" kata Diana.
"Beberapa minggu ini, kelihatan nya antara mama dan papa ku hubungan nya kurang bagus. Papa Thomas bukanlah papa kandung ku. Aku anak tiri nya. Putri yang sebenarnya adalah Paula," ucap Palupi yang membuat Diana dan Ita membulat terkejut dengan sempurna.
"What?? Jadi sebenarnya Paula adalah putri. dari tuan Thomas pengusaha yang sukses dan kaya raya itu? Astaga!?" sahut Diana.
"Jadi karena sikap kamu dan mama kamu yang kurang baik terhadap Paula, akhirnya ketahuan oleh tuan Thomas? Wah seperti cerita di sinetron loh," kata Ita.
"Kalian berdua jangan menghina aku dong!?" ucap Palupi.
"Hem, aku jadi paham! Jadi sebenarnya yang benar-benar menjadi seorang putri adalah Paula. Tapi kamu menyingkirkan tuan putri dari istana itu bukan?" kata Diana.
"Benar-benar aku tidak menduganya," ucap Ita.
"Ah sudahlah Ita, aku harus memperjuangkan nasibku sendiri. Aku akan meminta tolong orang tua ku juga. Karena orang tua ku pun orang yang berpengaruh di sekolah ini," kata Diana.
"Bagaimana dengan aku, Diana? Apakah kamu tidak ingin membantu ku?" sahut Palupi.
"Hah, menolong kamu?! Memangnya itu penting?! Ita, ayo lebih baik kita tidak perlu lagi berteman dengan orang jahat seperti Palupi. Kurasa karena Palupi lah kita menjadi jahat dan curang dalam mengerjakan tugas dan ujian," kata Diana.
"Iya,benar banget Diana!. Ayo kalau begitu!!" ucap Ita.
*****
Hari penerimaan rapot telah tiba. Semua siswa-siswa menunggu pembagian rapor oleh masing-masing wali kelasnya. Seperti halnya Paula dan kawan-kawan.
Palupi benar-benar gelisah saat menerima hasil nilainya. Tentu saja Palupi takut dan khawatir jika beberapa bidang studi mendapatkan nilai buruk.
__ADS_1
"Habis sudah riwayat ku! Pasti aku tidak akan naik kelas," gumam Palupi sambil menundukkan kepalanya.