
"Palupi!? Ini kenapa nilai kamu hancur hah?" ucap mama Citra dengan suara yang melengking keras.
"Mama, jangan berteriak-teriak mama! Sedikit pelan kan volume mama nya! Lagipula aku naik kelas kok. Walaupun nilainya pas-pasan seperti itu," sahut Palupi.
"Kamu ini! Mama sudah sering bilang pada kamu kan? Kamu harus rajin belajar, Palupi! Tapi nyatanya malah sibuk bermain game terus menerus," kata mama Citra.
"Mama, sudah seribu kali mama mengatakan itu. Bosan ma! Lagipula aku tidak lupa ingatan dengan nasihat mama!" ucap Palupi.
"Kamu ini kalau dibilangin mama selalu saja membantah dan banyak alasan. Bagaimana kalau papa Thomas mengetahui nilai kamu yang hancur itu, hah?" kata mama Citra.
"Biarkan saja, papa Thomas tahu. Lagipula dia bukan papa kandung ku. Selain itu mana selama ini papa Thomas mana perduli dengan ku," ucap Palupi.
"Palupi!? Kita sekarang sudah tidak bisa seenaknya sendiri di rumah ini? Sewaktu-waktu, papa Thomas akan mengusir kita jika kita banyak tingkah," kata mama Citra.
"Bukan aku, ma!? Tapi mama!?" sahut Palupi.
"Eh, kamu ini?" kata mama Citra sambil mendengus kesal.
*****
"Di mana Palupi, putri kesayangan kamu itu Citra?!" kata tuan Thomas.
"Maaf, mas!? Palupi lagi di luar bermain dengan teman-teman nya. Bukannya Palupi sudah selesai menerima rapot. Jadi dia butuh refresing, pa!?" ucap mama Citra.
"Bagaimana rapor nya?" tanya tuan Thomas.
"Palupi selama ini terbilang sangat cerdas dan rajin, pa! Jadi Palupi mendapatkan peringkat pertama, pa!?" ucap mama Citra bohong. Padahal peringkat pertama bukanlah Citra.
"Hem, begitu yah?!" sahut tuan Thomas. Tuan Thomas segera bangkit dari tempat duduknya, lalu bergegas meninggalkan mama Citra.
"Mas Thomas?! Mau kemana mas?" tanya mama Citra.
"Aku akan ke rumah papa ku dulu. Aku ingin menjumpai putri ku, Paula!?" jawab tuan Thomas.
"Paula, Paula terus!? Kapan kamu memperhatikan aku, mas?!" teriak mama Citra.
__ADS_1
*****
Di rumah eyang Edson. Tuan Thomas kini sedang bersama dengan eyang Edson. Di ruang makan, mereka sedang duduk bersama. Mereka terlihat santai berbincang-bincang dan tidak seperti biasanya yang selalu bertikai kalau berjumpa.
"Paula mendapatkan peringkat pertama. Apakah kamu juga belum mengetahuinya, Thomas? Kamu tidak ingin memberikannya hadiah kah?" kata tuan Edson.
"Benarkah? Putri ku Paula memang patut dibanggakan. Sekarang dia ada di mana pa? Aku akan mengajaknya jalan-jalan dan membelikan apa saja yang Paula minta," ucap tuan Thomas.
"Paula lagi sedang bersama teman-teman nya. Ada acara perpisahan dengan teman-teman sekelasnya nya. Nanti saat Paula kelas XI teman-teman Paula akan berbeda lagi. Mungkin teman-teman di kelas Paula sekarang tidak lagi bertemu lagi di kelas XI nanti," ucap tuan Edson.
"Oh, begitu yah!" sahut tuan Thomas.
"Kalau begitu, biar aku mencarikan hadiah terlebih dahulu untuk. putriku itu. Peringkat pertama itu benar-benar luar biasa," kata tuan Thomas.
"Iya dong!? Kecerdasan Paula menurun dari ku, eyang nya. Beruntung tidak menurun pada sifat malas kamu, Thomas. Saat kamu sekolah dulu, selalu ada di urutan paling belakang. Walaupun kamu tidak pernah tinggal kelas," ucap tuan Edson.
"Hahaha, astaga papa! Kenapa sih papa selalu saja mengingat aku yang jelek-jelek saja?" ucap tuan Thomas.
"Aku juga pernah mendapatkan mendali juara satu dalam perlombaan silat, kan pa!? Selain itu aku pernah mendapatkan juara pertama di kejuaraan pidato juga. Apakah ini tidak diingat oleh papa? Gini-gini aku juga berprestasi, pa!?" kata tuan Thomas.
*****
Sementara itu di acara perpisahan kelas, di sana ada sedikit pesta kecil teman-teman satu kelas dengan Paula.
"Wah, selamat yah Paula!? Kamu akhirnya bisa mengalahkan aku. Dulu aku yang peringkat pertama jadi peringkat kedua," kata Adam seraya menyodorkan beberapa batang coklat yang diikat dengan pita. Paula menerimanya dengan tersenyum lebar.
"Kamu tidak apa-apa kan, aku kalahin?" sahut Paula.
"Tidak apa-apa dong!? Aku senang pacarku peringkat pertama. Cuma yang membuat aku sedih adalah, nanti kita sudah tidak satu kelas lagi. Karena nanti di kelas XI kita akan diacak dan teman-teman satu kelas kita berubah. Mungkin saja kamu juga tidak satu kelas lagi dengan Kety, Monika dan juga Catarina," ucap Adam.
"Itu belum tentu, Adam!? Mungkin saja diantara kita ada yang satu kelas kembali. Lagipula kita kan masih satu sekolah yang sama. Jadi kita masih bisa saling bertemu. Jangan sedih dong!?" sahut Paula.
"Benar!?" kata Adam.
"Cie, cie yang lagi pacaran!?" tiba- tiba saja Monika dan Kety menghampiri Adam dan Paula.
__ADS_1
"Eh Monika, Kety!?" kata Adam. Paula tersenyum lebar.
"Paula, selamat yah kamu bisa mengalahkan Adam. Kamu jadi peringkat pertama," ucap Kety.
"Hehehe terimakasih banyak! Semuanya juga karena Adam. Kita belajar bersama sehingga saling tanya jawab dengan kesulitan yang dihadapi di mata pelajaran. Aku yang sangat lemah di bidang studi matematika jadi bagus nilainya," kata Paula.
"Pokoknya kamu dan Adam adalah pasangan yang keren deh," ucap Kety.
"Oh iya, ayo kita bergabung dengan teman-teman kita yang lainnya. Karena acara perpisahan ini akan segera di mulai," ajak Monika.
"Ayo kalau begitu!?" sahut Adam seraya menarik lengan Paula.
"Cie, cie bisa tidak sih, tidak nempel nempel seperti perangko?" ucap Kety. Adam dan Paula sama-sama menjulurkan lidah nya ke arah Kety.
*****
Di pojokan ada kelompoknya Palupi sedang asyik mengibah atau membicarakan tentang Paula.
"Kamu lihat, Paula saat ini sedang menjadi primadona di kelas kita. Karena dia menjadi peringkat pertama di kelas kita. Menyebalkan sekali," ucap Diana pada Ita dan juga Palupi.
"Iya, menyebalkan sekali! Rasanya aku ingin melihat Paula menangis karena ketakutan. Sekarang ini dia masih bisa tertawa dan tersenyum lebar. Coba nanti kalau kita jebak di hutan pinus saat acara persami. Paula pasti akan menangis haha," ucap Palupi.
"Iya nih, kapan sih acara persami nya?" tanya Ita.
"Hari sabtu nanti," jawab Palupi dan Diana secara bersamaan.
"Oke, kita jalankan rencana kita itu! Aku lama-lama juga tidak menyukai Paula yang sok cantik sekali," kata Ita.
"Kalau aku sudah sejak dulu tidak menyukai Paula. Makanya rasanya lega bisa mengeluarkan Paula dari rumah nya sendiri, Sekarang dia ini tinggal bersama eyangnya," sahut Palupi.
"Oh kalau kamu sih benar-benar jahat! Mungkin saja kejahatan kamu itu menurun dari mama kamu, Palupi," kata Ita.
"Eh, kamu Ita!? Jangan lagi suka menjelekkan mama ku! Awas saja kamu kalau kamu mengulangi nya. Akan aku tarik mulut kamu itu yang sembarangan menjelekkan mama ku," sahut Palupi.
"Nyatanya benar kan? Kamu dan mama kamu memang jahat!?" kata masih tidak mau kalah.
__ADS_1
"Sudah, sudah jangan bertengkar dong!? Ayo lebih baik kita bergabung dengan teman-teman kita yang lainnya," sahut Diana berusaha mendamaikan Palupi dan Ita.