
Acara perlombaan malam itu telah selesai. Para peserta kemah sabtu minggu telah kembali ke tenda masing-masing. Ketua regu mengkondisikan anggota regu nya masing-masing untuk makan malam, sholat isyak.
Kakak pembina beserta semua panitia perkemahan sabtu minggu telah mempersiapkan acara berikut nya yaitu renungan malam dilanjutkan dengan jeritan malam.
Di tenda Paula, semua anggota regu nya kompak menikmati makan malam bersama-sama dengan menu yang sederhana. Apalagi malam ini Kety dan juga Monika mendapatkan kiriman banyak makanan dari orang tua nya dengan mengirimkan sopirnya untuk mengantarkan berbagai jenis makanan ringan, minuman susu kemasan dan juga lauk pauk.
Walaupun mereka memiliki banyak bekal makanan masing-masing, mereka tetap saling berbagi makanan. Tidak ada yang menyembunyikan makanan. Semuanya bisa dibagi rata sesama regu di tenda nya. Berbeda dengan regu Palupi, Ita dan juga Dina. Mereka bertiga suka sekali makan sendiri makanan miliknya. Apalagi Ita dan Dina yang mendapatkan kiriman makanan yang lezat.
"Hem, mama ku dan juga papa Thomas seperti lupa kalau ada anaknya berkemah di sini. Aku tidak mendapatkan kiriman makanan dari mereka. Kalian berdua sangat beruntung diperhatikan seperti itu," keluh Palupi dengan bibir yang cemberut. Ita dan Dina mengerutkan dahinya menatap Palupi.
"Sudahlah, Palupi! Lagipula makanan dari kami sudah banyak sekali dan berlebih-lebihan seperti ini. Jangan dipikirkan. Mungkin saja papa mama kamu lagi sibuk," ucap Ita.
"Iya, benar kata Ita!?" sahut Dina.
__ADS_1
"Oh, iya! Bagaimana rencana kamu selanjutnya, untuk mengerjai Paula saat di jeritan malam nanti? Bukannya nanti satu-satu dari kita akan mendapatkan giliran, dites mental kita berjalan sendiri melalui arahan dari petunjuk kakak pembina. Sampai kita bisa menemukan suatu kotak misteri tujuan dari jeritan malam ini. Masing-masing peserta persami akan diberi waktu sepuluh menit untuk diberikan kesempatan mencari kotak misteri itu di area yang sudah ditentukan oleh panitia pelaksana," terang Ita.
"Hem, aku diam-diam sudah menyuruh seseorang untuk mengerjai Paula saat giliran nya tiba. Orang suruhan ku itu akan berpenampilan pocong untuk menakuti Paula. Supaya apa? Supaya Paula tidak bisa menemukan kotak misteri yang dimaksudkan. Kalian bisa membayangkan kalau Paula akan lari terbirit-birit saat mencari kotak misteri yang dimaksudkan tapi dia melihat pocong palsu dari orang suruhan ku itu," kata Palupi.
"Hahaha, aku tidak menyangka jika otak jahat kamu lebih cerdas memikirkan hal seperti ini," sahut Dina.
"Hahaha, diam kamu!? Rasanya aku sudah benar-benar sakit hati jika Paula selalu menjadi nomer pertama dalam segala perlombaan maupun kegiatan. Kali ini aku ingin akulah yang menjadi pemenangnya dalam menemukan kotak misteri itu," sahut Palupi.
Sementara di tenda Adam, diam-diam Adam menaruh curiga dengan seorang laki-laki asing yang mengendap-endap dari kejauhan memperhatikan tenda Paula. Adam mulai berpikir setelah melihat laki-laki asing itu yang diduga bukanlah peserta kemah.
"Siapa laki-laki itu sih? Apa dia salah satu anggota keluarga dari peserta kemah? Tapi dia ingin bertemu dengan siapa? Sebaiknya aku datangi dia, siapa tahu benar kalau dia ingin menjenguk adik atau saudaranya yang berkemah di sini," gumam Adam yang segera mendekati laki-laki asing yang dia duga bukanlah salah satu peserta dari kemah kali ini.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1
"Maaf, bang!? Abang mencari siapa? Siapa tahu saya bisa membantu," ucap Adam.
"Eh?" laki-laki asing itu tentu saja terkejut dengan kedatangan Adam. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya, dia berbohong.
"Saya ada titipan dari orang tua Paula, salah satu anggota peserta kemah kali ini," ucap laki-laki itu asal. Adam mengerutkan dahinya.
"Titipan apa, abang bisa menitipkan nya pada panitia. Atau mau dititipkan ke saya," kata Adam.
"Eh, boleh saja," sahut abang itu sambil merogoh saku celananya. Dia menarik uang di amplop coklat miliknya lalu memberikannya beberapa lembaran uang kertas berwarna merah itu pada Adam.
"Waduh, jadi berkurang dong bayaran ku dari non Palupi. Tidak apalah daripada dia mencurigai aku," batin laki-laki asing itu yang ternyata adalah suruhan Palupi yang ditugaskan untuk mengerjai Paula nanti saat jeritan malam. Adam mengerutkan dahinya menerima uang lembaran seratusan itu.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan laki-laki asing ini. Aku rasa, om Thomas maupun eyang Edson tidak mungkin menitipkan uang pada Paula. Apalagi kondisi perkembangan kita di hutan pinus, dimana peserta sulit menemukan penjual di hutan pinus ini," batin Adam sambil menimang-nimang uang pemberian laki-laki itu terhadap nya.
__ADS_1