
"Maaf, bang!? Abang mencari siapa? Siapa tahu saya bisa membantu," ucap Adam.
"Eh?" laki-laki asing itu tentu saja terkejut dengan kedatangan Adam. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya, dia berbohong.
"Saya ada titipan dari orang tua Paula, salah satu anggota peserta kemah kali ini," ucap laki-laki itu asal. Adam mengerutkan dahinya.
"Titipan apa, abang bisa menitipkan nya pada panitia. Atau mau dititipkan ke saya," kata Adam.
"Eh, boleh saja," sahut abang itu sambil merogoh saku celananya. Dia menarik uang di amplop coklat miliknya lalu memberikannya beberapa lembaran uang kertas berwarna merah itu pada Adam.
"Waduh, jadi berkurang dong bayaran ku dari non Palupi. Tidak apalah daripada dia mencurigai aku," batin laki-laki asing itu yang ternyata adalah suruhan Palupi yang ditugaskan untuk mengerjai Paula nanti saat jeritan malam. Adam mengerutkan dahinya menerima uang lembaran seratusan itu.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan laki-laki asing ini. Aku rasa, om Thomas maupun eyang Edson tidak mungkin menitipkan uang pada Paula. Apalagi kondisi perkemahan kita di hutan pinus, dimana peserta sulit menemukan penjual di hutan pinus ini. Tidak mungkin kan, om Thomas dan eyang Edson titip uang," batin Adam sambil menimang-nimang uang pemberian laki-laki itu terhadap nya.
Sementara itu Palupi memastikan orang suruhannya sudah bersiap untuk menjalankan tugasnya. Memastikan tidak salah orang atau salah mengenal sasaran nya yaitu Paula.
🌲🌲🌲🌲🌲
Saat acara jeritan malam dimulai, semua panitia atau kakak pembina telah mempersiapkan segala sesuatu nya. Satu persatu peserta perkemahan sabtu minggu akan mendapatkan giliran tes mental tanpa terkecuali. Urutan awal adalah ketua regu baik laki-laki maupun perempuan yang masing-masing peserta akan mendapatkan giliran dan waktu selama kurang lebih sepuluh menit karena mengingat banyak peserta perkemahan sabtu minggu yang ikut saat ini.
Kini giliran Paula yang maju setelah peserta yang berbaris di depannya telah selesai melakukan tugasnya. Namun belum sampai sepuluh menit, sudah menyerah karena sudah menjerit ketakutan terlebih dahulu lantaran situasi gelap dan ada yang berusaha mengganggu dirinya.
Paula mulai menyusuri jalan yang sudah ada petunjuk nya. Di balik pohon ada kakak pembina bersembunyi di sana. Tentu saja Paula tahu karena kakak pembina memang ada yang ditugaskan mengawasi semua gerak-gerik peserta dan jalur yang dilewati nya. Jika salah, kakak pembina itu pun akan memperingatkan supaya kembali ke jalur sesuai dengan instruksi yang sudah diberikan.
__ADS_1
"Di mana kotak misteri itu di sembunyikan yah?" gumam Paula. Paula berusaha mencari nya dengan menggunakan feeling dan praduga nya.
"Oh, aku rasa di bawah pohon itu, dimana di sana ada seseorang mengenakan kostum putih-putih supaya bikin takut peserta jerit malam. Jika itu hantu, dia tidak akan menggigit kita bukan? Jika orang itu salah satu kakak pembina, tentu saja akan tetap diam saja. Sebenarnya ketakutan hanyalah muncul karena dalam pikiran kita sendiri," gumam Paula yang kini mulai mendekati pohon di mana di sebelahnya ada sosok dengan mengenakan pakaian putih-putih.
"Ayo Paula!? Jangan takut!? Ini sangat mudah!? Semua makhluk di dunia ini adalah ciptaan Tuhan," pikir Paula.
Sosok yang berdiri di sebelah pohon itu berusaha menakut-nakuti Paula. Paula semakin yakin kalau sosok itu adalah manusia yang sama dengan dirinya. Paula tetap mencari kotak misteri di sekitar itu. Hingga pada saat itu Paula berhasil menemukan kotak misteri itu dengan cepat dan bahkan sebelum waktu yang ditentukan belum habis.
"Aku menemukan!? Syukur lah!?" dengan senang Paula membawa kotak misteri itu dan bergegas meninggalkan tempat itu. Sementara sosok yang berusaha menakut-nakuti dan menahan Paula supaya lebih lama dari tempat itu tidak berhasil.
"Waduh, gagal tugas ku untuk membuat gadis itu takut dan tidak berhasil. Bahkan gadis itu menemukan kotaknya yang aku sendiri tidak mengetahui di sembunyikan di dekat ku berdiri," gumam seseorang yang ditugaskan oleh Palupi untuk menakut-nakuti Paula.
__ADS_1