
"Kenapa belum selesai juga sih, kalian memasaknya? Sebenarnya kalian memasak apa sejak dari tadi? Masak batu? Atau masak kayu, hah? Aku, Dina dan Ita sudah lapar, tau!?" ucap Palupi dengan berkacak pinggang. Anggota kelompok nya yang masih menyelesaikan memasaknya itu menjadi geram melihat Palupi, Dina dan Ita yang baru saja datang ke tenda, marah-marah.
"Memangnya lo doang yang lapar, hah? Kami semuanya juga lapar. Tapi kami sabar sampai masakan selesai di masak," kata salah satu anggota regu Palupi itu yang bernama Juminten.
"Bukannya apa? Setengah jam dari sekarang ada lomba membaca puisi. Jadi setelah isoma alias istirahat sholat makan, ada acara lomba baca puisi. Semua peserta diharapkan berkumpul di lapangan membentuk lingkaran besar. Dan jangan lupa, diantara kita harus ada yang ikut lomba membaca puisi mewakili kelompok regu kita," ucap Palupi beralasan.
"Bukannya kemarin sudah disepakati kalau yang ikut lomba membaca puisi adalah Dina?" sahut Exel.
"Eh, kenapa aku sih? Tidak, tidak! Aku tidak mau! Aku tidak bisa membaca puisi dengan bagus. Apalagi dilihat banyak orang pasti aku akan gemetaran dan panas dingin seluruh badan," ucap Dina. Palupi dan Ita langsung menatap ke arah Dina. Demikian juga anggota regu itu.
__ADS_1
"Dina, masak membaca puisi saja tidak bisa loh! Dasar mental tempe kamu itu, Dina Dina!?" umpat Palupi.
"Biarin! Coba saja kamu yang tampil ikut lomba membaca puisi mewakili kelompok regu kita ini," sahut Dina.
"Haduh, itu sangat mudah sekali bagiku, Dina!? Tapi aku disini ketua regu nya loh. Masak semuanya akan aku borong sendiri," kata Palupi.
Semua anggota Palupi tidak ada yang berani unjuk gigi untuk tampil mewakili lomba baca puisi. Akhirnya dengan sombongnya Palupi lah yang akan mewakili lomba membaca puisi untuk kelompok regu nya.
"Siapa takut?!" sahut Juminten.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu kita harus siap-siap. Tapi sebelum itu kita harus lebih dahulu makan malam. Kalau tidak, bisa-bisa pingsan karena kelaparan," kata Palupi.
Beberapa anggota Palupi mulai menyiapkan hasil olahan mereka. Piring-piring plastik dan sendok mulai disiapkan untuk tempat makan mereka semua nya. Palupi mengeluarkan lauknya yang ada di tas khusus makanan. Lauk seperti daging rendang kering dan juga sambal teri kacang. Namun Palupi tidak membiarkan teman-teman nya mengambil makanan nya. Teman-teman nya hanya makan dari hasil masakan nya tadi. Hanya Dina dan Ita pun juga membaca lauk sendiri. Ketiga orang itu bisa makan enak sementara anggota yang lainnya tidak.
"Katanya perkemahan seperti ini bisa menciptakan dan menumbuhkan solidaritas dan rasa kekeluargaan yang tinggi. Tapi nyatanya ketua regu kita malah mengajari kita sifat egois dan pelit," ucap Exel pelan. Juminten hanya bisa tersenyum sinis melihat sikap dan watak ketiga orang itu.
"Jangan khawatir! Sebentar lagi, orang suruhan mama ku akan datang kemari mengantarkan makanan yang enak. Nanti giliran kita gak usah membaginya pada ketiga manusia pelit teman kita itu," sahut Juminten pelan mendekat ke telinga Exel.
"Hehehe," Exel tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ayo kalian cepetan makannya! Sebentar lagi peluit dari kakak pembina akan di bunyikan. Itu artinya acara apel malam dan dilanjutkan acara lomba akan segera dimulai," kata Palupi pada anggota kelompok nya yang masih belum selesai menikmati makanan nya.