
"Ada apa ma? Apa yang telah terjadi? Kenapa mama memasukkan semua barang-barang, perhiasan beserta pakaian mama ke dalam koper?" tanya Palupi pada mama nya, mama Citra. Mama Citra terlihat menangis tersedu-sedu sambil tetap mengeluarkan barang-barang nya yang ada di lemari dan dimasukkan ke koper-koper. Cukup beberapa lama mama Citra terdiam sambil menangis. Sampai ingus di hidung nya keluar.
"Mama, aku bertanya loh ma! Kenapa tidak mama jawab? Apa yang sebenarnya terjadi, ma? Mama nangis sampai seperti itu. Mama, ingus mama di bersihkan dong ma!" ucap Palupi.
"Paula, kita harus mengemasi barang-barang kita, sebelum papa Thomas datang. Kita harus pergi dari sini, Palupi!" kata mama Citra.
"Tapi kenapa mama? Kenapa kita harus pergi dari rumah ini? Kita sudah berhasil mengusir upik abu, si Paula. Kenapa kita harus pergi dari rumah yang megah dan mewah ini?" sahut Palupi.
"Palupi, kalau kamu tidak mau ikut mama keluar dari rumah ini, terserah! Mama harus secepatnya meninggalkan rumah ini sebelum papa Thomas melaporkan mama ke pihak berwajib dan mama kamu akan masuk ke penjara. Kamu mau kalau melihat mama kamu masuk di jeruji tahanan sampai beberapa tahun, hah?" ucap mama Citra.
"Tapi mama? Sebenarnya apa yang telah mama lakukan? Kenapa papa Thomas bisa melaporkan mama ke pihak berwajib? Mama, apa yang sudah mama lakukan, ma?" tanya Palupi mulai geram.
__ADS_1
Padahal Palupi baru saja pulang dari kegiatan perkemahan sabtu dan minggu. Sampai tiba di rumah, Palupi harus menghadapi kenyataan bahwasanya suasana dan masalah mama nya akan berakibat buruk pada dirinya dan juga mama nya. Mereka harus keluar dari rumah itu lantaran keserakahan yang dilakukan oleh mama nya.
"Kamu jangan banyak tanya, Palupi! Segera beresin barang-barang kamu serta baju kamu. Bila perlu bawa semua barang-barang berharga di rumah ini. Jangan lupa mobil milik Paula kamu bawa beserta surat-suratnya. Kita keluar dari rumah ini harus bisa merampok aset-aset berharga milik papa Thomas," ucap mama Citra.
Palupi menyipitkan bola matanya lalu mulai menebak-nebak apa yang sudah dilakukan oleh mama nya sehingga ingin merampas harta benda yang dimiliki papa Thomas.
"Mama, kita sudah bagus selama ini tinggal di rumah ini. Mama sih suka aneh aneh saja. Kalau sudah seperti ini kita hidup di luar bisa menjadi kere lagi, ma!" ucap Palupi semakin geram.
"Ih kamu anak kecil, suka nya menyalahkan mama saja," sahut mama Citra mulai emosi. Palupi melebar bola matanya menatap marah pada mama nya sendiri.
"Ini bukan urusan kamu, Palupi! Sudah lah! Kamu mau ikut mama atau tidak terserah saja!" kata mama Citra mulai mengeluarkan koper-koper nya yang berisi pakaian dan barang-barang nya yang berharga.
__ADS_1
"Sial! Gara-gara mama, aku harus keluar dari istana ini. Padahal selama tinggal di sini, papa Thomas selalu memberikan semua yang aku minta. Termasuk uang jajan yang lebih-lebih," gumam Palupi yang pada akhirnya berjalan dengan lunglai ke dalam kamarnya. Palupi segera mengemasi pakaiannya dan memasukkan nya di dalam koper-koper. Palupi harus ikut bersama dengan mama nya keluar dari rumah itu. Bagaimana pun juga, hanya mama Citra lah keluarganya.
π¦π¦π¦π¦π¦
"Tuan muda! Ada beberapa transaksi di nomor rekening pribadi dan juga nomer rekening perusahaan tuan muda beberapa milyar. Apakah tuan muda Thomas mengetahui nya?" tanya salah satu orang kepercayaan tuan Thomas.
"Apa? Sial! Pasti semua ulah Citra!" sahut Thomas. Orang kepercayaan tuan Thomas menyipitkan bola matanya menatap bos nya itu.
"Hans! Kamu selidiki kemana aliran dana yang dikeluarkan oleh Citra! Selain itu, pastikan wanita itu tidak bisa lari kemana-mana pun. Laporkan semua masalah ini pada pihak kepolisian," kata Thomas dengan tersenyum sinis.
"Siap tuan Thomas!" sahut Hans.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Ternyata selama ini Citra diam-diam telah menjalin hubungan dengan Suryo. Kurang ajar kamu. Suryo! Kamu telah memanfaatkan Citra istriku untuk menghancurkan aku," gumam Thomas saat mendapatkan informasi dari orang-orang suruhan nya.