
Haai.... apa kabar para pecinta Naruhina. Sebenarnya bukan hanya menyukai naruhina, aku menyukai semua pairing yang ada di Naruto.
sebelum kalian baca fanfic ini, aku mau ngasih tau dulu.
Naruto adalah milik Masashi Kishimoto sensei. Semua tokoh dan karakter dalam fanfic ini adalah milik beliau.
*******
Hembusan angin sore musim panas terasa menyejukkan. Memberi sedikit kenyamanan pada orang - orang yang berada di tengah keramaian pusat Kota Konoha.
Hinata ada disana. Berjalan santai sembari mencari Hanabi, adik perempuannya yang tidak ia lihat sejak kepulangannya dari misi.
Padahal menurut para maid yang ada di rumah mereka, Hanabi tidak sedang menjalankan misi dan juga tidak memiliki jadwal latihan bersama Konohamaru.
"Hinata...!"
Hinata berbalik, ia tentu sangat mengenal suara itu. Nyaring dan penuh semangat. "Ino-san." Hinata tersenyum saat gadis pirang itu sampai dihadapannya.
Dibelakang Ino, ada Sai dan Choji yang sama - sama terlihat lusuh.
Hinata sudah tahu pasti, mereka baru saja pulang dari misi.
"Kalian baru pulang dari misi?" Hinata berbasa - basi.
"Yah... Seperti yang kau lihat. Kami hanya kebetulan bertemu di depan gerbang desa."
"Oh... Aku kira kalian menjalankan misi bersama."
Sai hanya membalas dengan senyum sedangkan Choji tampak tak begitu peduli. Pria tambun itu terlalu sibuk mengunyah 2 kantong keripik kentang yang ada di dekapannya.
"Hinata mau kemana?" tanya Ino.
"Aah... Sebenarnya aku akan ketempat Hokage-sama, tapi aku memutar arah kemari untuk mencari Hanabi."
"Lalu dimana Hanabi-san?" Tanya Sai.
"Aku belum bertemu dengannya. Aku rasa sebaiknya aku segera ke kantor Hokage saja sebelum hari semakin petang."
Ino tersenyum lebar, Ia mengamit tangan Hinata dan membawanya melangkah menuju Kantor Hokage.
"Kalau begitu kita kesana bersama. Aku memang sedang lelah, tapi aku tidak akan menunda melaporkan misi kali ini."
"Hmmm... Misi Ino-san pasti sangat penting ya."
Seketika Sai dan Choji tergelak di belakang mereka. Hinata menolehkan kepalanya kebelakang, melihat Choji yang ternyata sudah membuang satu bungkus keripik kentangnya.
__ADS_1
"Misinya sama sekali tidak penting Hinata, dia hanya ingin segera memarahi Naruto."
"Memangnya ada apa, Ino-san?"
Ino menghela napasnya kesal. "Sudahlah Hinata, perjalanan kita masih jauh. Aku tidak mau merasa kesal sepanjang jalan ini."
Hinata tersenyum canggung dan ia menuruti Ino dengan tidak membahasnya lagi.
"Hinata-san sendiri, ada perlu apa ke kantor Hokage-sama." Sai membuka obrolan setelah mereka cukup lama diam.
"Aku akan menyerahkan laporan misi. Sebenarnya kami juga baru pulang siang tadi. Tapi karena Shino-kun dan Akamaru terluka cukup parah, Aku dan Kiba-kun memutuskan untuk membawa mereka ke Rumah Sakit terlebih dahulu."
"Bagaimana keadaan mereka sekarang?" tanya Ino.
"Masih di Rumah Sakit, tapi mereka sudah mendapat perawatan yang tepat. Mereka akan segera pulih."
"Syukurlah." Kata Chouji. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana suramnya wajah Shino saat mengetahui Kiba lebih mengkhawatirkan Akamaru daripada dirinya."
Mereka tertawa, dengan tanpa mereka sadari masing - masing dari mereka sedang membayangkan wajah murung Shino.
***
Jam dinding menunjukkan hampir pukul 5. Namun di pertengahan musim panas seperti ini, cahaya senja tidak akan datang secepat hari - hari sebelumnya.
Shikamaru terlihat begitu sibuk di meja kerjanya. Ia sedang memilah - milah puluhan permintaan misi. Menjadwalkan siapa saja Shinobi yang akan pergi bertugas sesuai dengan tingkatan kemampuannya.
"Bagaimana bisa jumlah murid yang masuk ke Akademi tahun ini sangat sedikit, Iruka Sensei?"
"Maaf Hokage sama, saya sendiri juga merasa sangat terkejut. Setelah perang dunia Shinobi usai, Jumlah anak yang masuk ke Akademi memang menurun, tetapi belum pernah seburuk tahun ini."
Naruto tidak menjawab, ia membuka lembar laporan yang di bawa Iruka dan memeriksa nama - nama calon Genin yang diterima.
"Ssssh..." Naruto mendesis sambil memijat keningnya pelan. "Betapa tidak becusnya aku ini."
Mendadak Naruto merasa pening membayangkan cacian apalagi yang akan ia terima dari para tetua desa kalau mereka mengetahui masalah ini.
"Hokage-sama, di desa kita ini memang tidak banyak anak - anak. dan lagi sebagian dari mereka memang bukan berasal dari keluarga Shinobi. Jadi saya rasa ini hal yang wajar. Anda jangan terlalu menyalahkan diri sendiri."
"Aku tahu Sensei, tapi tua bangka iku tidak mau tau alasan apapun ttebayo."
Iruka menunduk. Segera ia meminta maaf kepada Naruto.
Naruto juga sebenarnya tidak berniat membuat Iruka merasa bersalah seperti ini. Ia tentu sangat tahu bahwa Iruka pasti mengkhawatirkan dirinya.
"Sudahlah Sensei, lupakan. Lebih baik Sensei segera mengurus keperluan untuk Upacara Pembukaan Tahun Ajaran Baru, aku harap semuanya bisa selesai dalam waktu 2 hari."
__ADS_1
"Ta-tapi, apa tidak sebaiknya kita memperpanjang masa pendaftaran, Hokage-sama."
"Naruto benar, Iruka." Shikamaru masuk dalam pembicaraan itu tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari tumpukan kertas dihadapannya.
"Kita sudah memperpanjang masa pendaftaran selama satu minggu, tapi hanya bertambah satu murid saja. Sekarang lebih baik kita segera memulai Ajaran Baru dan mempersiapkan kelulusan calon Genin selanjutnya."
"Baiklah, kalau begitu dua hari lagi saya akan menggelar upacara pembukaan. Saya harap Hokage-sama bisa menghadiri upacara tersebut."
Naruto tersenyum melihat Iruka. "Iya, aku akan datang. Sensei, cobalah untuk tidak terlalu bersikap hormat kepadaku, aku ini murid mu, bukan?."
"Anda memang murid saya, tapi anda juga seorang Hokage sekarang. Diluar, mungkin saya akan tetap menganggap anda Naruto kecil yang sangat menyukai ramen. Tapi disini, tidak mungkin saya tidak menghormati anda sebagai seorang Hokage."
"Tapi hanya ada kita disini dattebayo."
"Naruto-sama, anda harus lebih belajar untuk bisa menerima rasa hormat yang diberikan kepada anda. Hokage itu kedudukan yang besar, Naruto-sama."
Merasa Iruka tidak akan berubah pendirian, Naruto akhirnya mengalah "Haaah... iya baiklah - baiklah."
Iruka tersenyum kemudian menundukkan badannya untuk memberi salam pamit.
"Terimakasih atas waktu anda, Hokage-sama."
Naruto menganggukkan kepalanya, "Selamat menikmati sore mu, Sensei."
Iruka tersenyum dan segera undur diri dari tempat itu.
"Shikamaru."
Pria nanas itu hanya bergumam menanggapi panggilan Naruto.
"Tahun depan kita harus mendapatkan banyak calon Shinobi."
Shikamaru menaikkan sebelah aliasnya. Ia meletakkan pena, menyandarkan punggungnya di kursi dan memandang Naruto penuh keheranan.
"Kau ini sebenarnya ingin mengatakan apa Naruto?"
"Aku ingin punya banyak Genin."
Shikamaru mendesah lelah. "Iya, baiklah. Tahun depan akan aku pikirkan cara yang lebih baik."
"Kalau perlu undang semua shinobi, ajak mereka untuk memikirkan jalan keluarnya dattebayo."
Shikamaru memutar bola matanya.
Untuk apa ada penasehat kalau masalah seperti ini saja harus mengundang semua Shinobi.
Namun Shikamaru yang terlalu malas untuk berdebat hanya berkata "Iya aku mengerti, Hokage-sama".
__ADS_1