Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)

Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)
Chapter 14 : Rencana Makan Malam


__ADS_3

Naruto mengerang pelan seiring dengan tubuhnya yang menggeliat, meregangkan otot punggungnya yang lelah akibat terlalu lama duduk.


Setelah merasa cukup baik, Ia menyandarkan punggungnya pada kursi. Menghirup napas dalam - dalam sambil melihat jam dinding yang berada di angka delapan.


Naruto pun tersenyum tipis. Jika pulang sekarang, ia masih memiliki kesempatan untuk mengisi perut kosongnya dengan semangkuk Ramen Ichiraku dan juga pergi ke toko kelontong untuk membeli beberapa kebutuhannya yang sudah menipis dirumah.


Sraakk... Sraakk...


Perhatiannya beralih pada Shikamaru. Pria nanas itu tampak frustasi hingga merobek beberapa kertas, mengepalnya menjadi bola dan melempar ke tempat sampah.


"Shikamaru..."


"Hn."


"Tck.." Naruto bedecak sebal. Kenapa akhir - akhir ini penyakit Sasuke menempel pada semua orang.


"Pulanglah. Kau sudah terlihat sangat lelah."


"Pekerjaanku masih banyak Naruto. Kau bisa pulang lebih dulu jika tugasmu sudah selesai."


"Tubuhmu butuh istirahat, Shikamaru."


"Aku sudah istirahat selama 2 hari kalau kau lupa."


Naruto mendengus. Shikamaru memang baru masuk hari ini setelah libur 2 hari. Tepat setelah rapat bersama para Ketua Klan, Pria Nara itu harus pulang karena mendapat kabar bahwa kondisi istri dan anaknya yang sakit bersamaan semakin memburuk.


"Terserah padamu saja." Putusnya yang tak mau berdebat.


Naruto segera membereskan alat tulisnya dan menyimpan berkas - berkas yang sudah diselesaikan.


Tanpa membuang waktu, Ia segera meninggalkan kantornya.


Malam itu langit tampak cerah, angin juga tidak henti berhembus. Membawa rasa segar ke seluruh raga Naruto yang sedang lelah.


"Yosh... Pertama aku akan makan ramen. Kedua pergi berbelanja. Setelah sampai rumah aku ingin mandi dan langsung tidur. Haaah.... membayangkannya saja membuatku merasa segar." Ia tersenyum sambil mengangkat lengannya, melipatnya ke belakang kepala.


Dalam perjalanan itu, Naruto mendapat banyak sapaan dari penduduk desa. Ia sampai harus beberapa kali berhenti karena mereka memberikan buah tangan untuknya.


"Naruto-sama, bukankah itu Hinata-sama, kekasih anda?."


Tiba - Tiba saja perhatian pemilik toko ikan yang mengajaknya bicara tertuju pada toko kimono di ujung jalan itu. Berjarak 2 toko dari tempat mereka berdiri.


Naruto mengikuti arah pandang pria tua disampingnya.

__ADS_1


Benar, Hinata ada disana. Tampak memberikan penilaian pada beberapa Kimono yang sengaja di pajang oleh pelayan toko ke hadapan gadis itu.


Naruto tersenyum tipis. Sudah 3 hari mereka tidak bertemu. Beberapa hari lagi akan di adakan pertemuan di Mansion Hyuga. Hinata pasti sangat sibuk mempersiapkannya.


Setelah berpamitan dengan pemilik toko ikan, Naruto mengambil langkahnya. Ia diam berdiri di depan toko Kimono, memperhatikan Hinata yang tampak ceria di dalamnya.


***


Hinata menghentikan langkahnya sesaat setelah ia keluar dari pintu toko.


Ia tertegun ketika mendapati Naruto di seberang jalan menatapnya dengan senyuman. Entah benar atau tidak, Ia merasa bahwa Naruto sudah menunggunya cukup lama di tempat itu.


"Apa kau sedang sibuk?" Tanyanya saat ia telah sampai di hadapan Hinata.


"Na-" Hinata menggantung ucapannya. Baru saja ia ingin memanggil nama pemuda itu, namun jubah Hokagenya yang bergoyang di tiup angin mengingatkan Hinata bahwa ia harus bersikap lebih hormat. "Nanadaime-sama sudah lama menunggu saya?"


Naruto tersenyum tipis. Ia paham Hinata bersikap seperti itu katena jubah kebesarannya. Rasanya ingin mencubit pipi gembil Hinata sampai merah. "Tidak cukup lama. Apa kau punya waktu?."


"Ummm... Apa ada masalah?"


"Tidak, aku hanya ingin mentraktirmu makan malam. Apapun dan sebanyak apapun yang kau inginkan."


Hinata tertawa kecil "Neee... Hokage-sama, kenapa tiba - tiba ingin mentraktirku makan?"


"Sebenarnya bukan tiba - tiba sih. Waktu itu aku belum sempat mengucapkan terimakasih padamu, lalu kita justru tidak saling bertemu karena kesibukan masing - masing."


"Ramen? Sungguh ramen? tidak ingin makanan lalin seperti Yakiniku, Unagi atau..."


"Tidak!!!" Hinata tersenyum "Aku sungguh ingin makan ramen."


Mereka sempat tertawa, namun segera berhenti saat Ko yang berdiri di belakang Hinata berkata "Tetapi Hinata-sama, anda harus segera kembali sebelum-"


"Aku tahu itu Ko." Potong Hinata. Gadis itu kemudian berbalik menatap Ko. Pria yang mengasuhnya sejak ia berusia 3 tahun itu tampak lebih tegas di usianya yang sudah kepala 4.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku. Selagi aku ada urusan, bisakah kau membawa kimono - kimono ini pada Hanabi?"


Ko sempat terdiam, namun akhirnya ia menyetujuinya juga.


Sebelum mereka benar - benar berpisah, Naruto sempat mengucapkan terimakasih pada Ko yang pria itu sendiri tidak tahu untuk apa.


Namun Naruto menyadari satu hal. Sorot mata Ko yang selalu menunjukkan rasa tidak suka saat memandangnya itu, terasa semakin kuat hari ini.


***

__ADS_1


"Tadaima..."


Naruto membeku sejenak saat Hinata mengucapkannya dengan suara yang rendah.


Saat ini mereka masih berada di genkan rumah Naruto, Hinata bahkan belum melepas sepatunya. Kemudian gadis itu mengerjab heran pada Naruto yang menatap kosong ke arahnya.


"Naruto-kun?"


Naruto hanya tersenyum tipis dan menggeleng. Kemudian ia membuka lemari sepatu untuk mengeluarkan sandal rumah milik Hinata.


"Yaaakk...! Sandalmu sudah berdebu, Hinata. Tunggulah disini, akan kubersihkan diluar." ucapnya sambil melewati Hinata menuju keluar.


Setelah beberapa saat, Naruto kembali dengan sandal yang sudah bersih.


Melihat Hinata yang duduk di lantai genkan demi menunggunya, Naruto akhirnya berjongkok di depan Hinata.


Pria itu memakaikan sandal merah di kaki si gadis.


"Ternyata sudah cukup lama ya Hinata tidak berkunjung"


Naruto menatap Hinata, gadis itu hanya tersenyum tipis .


"Terakhir kali sepertinya sudah lebih dari setahun yang lalu. Saat Hinata membantuku membuat ruang kerja bukan?"


Seingat Naruto itulah saat terakhir Hinata berkunjung ke rumahnya. Beberapa minggu setelah Naruto dilantik menjadi Hokage, Ia merubah kamarnya menjadi ruang kerja. Hinata membantunya mengecat ruangan, memilih beberama almari, meja, kursi bahkan bunga hidup agar ruangan itu tampak segar.


"Bukan, Naruto-kun. Terakhir kali adalah beberapa hari setelah pesta pernikahan Kakashi-sama. Sekitar 6 bulan yang lalu. Naruto -kun jatuh sakit karena kelelahan. Aku datang kemari untuk memasak bubur dan mengompres dahimu."


Naruto mendengus sambil tersenyum.


"Huuft... Padahal baru 6 bulan, rasanya sudah lama sekali dattebayo..." Ia tertawa kecil


"Tadi aku sempat merasa aneh saat Hinata mengucapkan 'Tadaima'. Seperti mengingatkanku bahwa rumah ini pernah terisi, dulu sekali saat kau sering datang kemari. Saat itu aku juga menjadi lebih akrab dengan Hanabi. Sai juga sangat sering menginap disini. Tapi sekarang rumah ini terasa kosong dan kembali dingin. Hanya ada aku yang bahkan tidak pernah mengucapkan kata itu."


Hinata menipiskan bibirnya kemudian tangan kanannya mengusap bahu kiri Naruto.


"Hinata" Naruto menghentikan usapan itu. Ia menggenggam tangan Hinata dengan kedua tangannya. "Aku sangat merindukan hari - hari yang pernah kuhabiskan denganmu."


****


Selamat hari senin...


Pllease like, komen dan favorit.

__ADS_1


Sungguh, 3 hal itu adalah moodboster untuk menulis. Klo sepi banget nggak semangat juga ya ternyata, hehehehe...


terimakasih sudah mampir.


__ADS_2