Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)

Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)
Chapter 10 : Pengertian


__ADS_3

Ting... Ting.... Ting...


Suara logam yang beradu menggema, menenggelamkan suara - suara kumbang malam.


Angin berhembus pelan, menggoyangkan rerumputan rendah di padang itu. Malam yang sudah sangat larut tidak menjadikan tempat itu gelap gulita, sebab purnama yang sudah meninggi dan cahaya ribuan bintang menaungi mereka.


"Pertahankan lenganmu, Hanabi!" Gadis itu bahkan sudah terengah - engah namun Konohamaru masih tak cukup puas dengan serangannya.


Ting... Ting.... Ting... Ting...


Hanabi masih terus mengayunkan pedangnya, berusaha keras mempertahankan serangan dan berharap pria ini lengah dengan pertahanannya


"Hei...! Kenapa gerakan mu jadi ngawur begini? Perhatikan langkahmu, Hanabi"


"Urusai....!" Hanabi yang semakin kesal menambah kecepatannya. Pedangnya berayun dan terus membentur pedang Konohamaru hingga pria itupun melangkah mundur.


Merasa bahwa tidak ada apapun yang terlihat baik dari latihan ini, Konohamaru memutuskan untuk segera mengakhirinya.


Dengan satu tebasan yang kuat, ia mampu menjatuhkan pedang Hanabi.


"Kau lihat itu Nona Hyuga?. Emosi mu hanya akan memperburuk keadaan."


Hanabi mendengus sebal. Ia memungut pedangnya dan berkata "Kita coba sekali lagi."


Konohamaru mendelik, sudah cukup. Raganya sudah tidak mampu menangani gadis ini.


"Lihat sendiri! Sifat mu yang selalu tidak mau kalah itu sangat merepotkan."


"Hanya sekali."


Pria itu menggeleng tak percaya. "Dengar, aku sangat lelah. Kita baru saja pulang dari misi dan demi apa kita harus mati - matian berlatih pedang tengah malam begini di dalam hutan?"


"Kau benar - benar cerewet ya." Ucapnya datar.


"Huft... Sudahlah. Kita lanjutkan saja besok. Aku ingin pulang."


"Aku tidak bisa. Besok pagi aku harus mempelajari beberapa obat bersama Shizune Sensei."


"Hanabi, bukankah karena itu kau seharusnya beristirahat sekarang?"


"Aku tidak lelah, sungguh."

__ADS_1


Konohamaru terdiam. Ia memandangi wajah Hanabi yang sudah kusut oleh peluh.


Hari ini mereka mendapat misi mengantar dokumen ke Suna Gakure. Konohamaru sendiri tidak tau dengn jelas apa isi gulungan yang ia bawa, namun ia tau bahwa itu adalah sandi - sandi yang harus dipecahkan oleh Tim Gaara.


Semua berjalan sangat lancar. Tidak ada suatu apapun yang menghalangi mereka.


Namun tuntutan untuk bergerak cepat dari Konoha ke Suna dan dari Suna ke Konoha membuat pria itu sedikit kelelahan. Mereka bahkan hanya istirahat sebentar tadi sore untuk makan siang.


Benarkah gadis itu sama sekali tidak merasa lelah?


"Hanabi-chan," Konohamaru maju selangkah. Tangan kirinya terangkat, membelai pipi kanan Hanabi. "Aku tau kau sedang dalam kesulitan, tapi jangan menyiksa dirimu seperti ini. Kau bisa sakit."


"Aku tidak apa-apa, hanya sedang tidak ingin dirumah."


Konohamaru tertawa, ia menarik tangannya dan memasukkan dalam saku celana, membuat Hanabi mengerutkan dahinya heran.


"Kalau itu sih tidak perlu kau katakan." Konohamaru sangat mengerti kenapa gadis ini ngotot ingin latihan tengah malam.


Beberapa hari ini Hanabi selalu menghabiskan waktunya di luar rumah. Ke lapangan berlatih, ke perpustakaan, ke rumah sakit. Dia mengisi seluruh waktunya untuk mempelajari hal baru.


Selain itu beberapa hari ini dia juga selalu berharap mendapat misi jangka panjang. Jelas sekali kekecewaan di wajahnya saat mereka menjalankan misi pendek tadi pagi.


Hanabi menunduk, dengan cepat ia menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Konohamaru.


"Terimakasih, untuk pengertian mu."


Membalas pelukan itu, Konohamaru hanya tersenyum. Ia mencium kening Hanabi dan membelai lembut punggung rekan tim sekaligus kekasihnya itu.


***


Konohamaru menghentikan langkahnya, membuat Hanabi yang berada di belakangnya terpaksa berhenti juga.


Pria itu tak bicara ataupun menoleh padanya, sehingga ia memutuskan mengintip dari belakang punggung kokoh itu.


Di depan sana tidak lagi gelap. Hanabi mulai melihat titik - titik cahaya lampu berwarna putih dan kuning dari rumah penduduk desa.


Mereka hampir sampai di tempat di mana patung Hokage di pahat di bukit itu. Jalan yang bersih, pohon yang di tanam rapi, bukit Hokage sudah menjadi taman yang indah sejak masa kepemimpinan Naruto.


"Hinata-nee?." Hanabi mengerutkan alisnya melihat sang kakak duduk sendirian dibawah pohon sakura yang paling besar. Terdapat palet kayu yang sudah di tata sedemikian rupa, membentuk bangku yang mengelilingi pohon itu.


__ADS_1


Hinata tampak sendiri. Ia duduk memeluk menekuk kaki dan menyandarkan kepalanya di atas lutut. Tangan kirinya terulur menuang sake kedalam gelas porselin yang bercorak sama dengan botolnya.



Hinata memgerutkan dahinya. Ia menggoyang botolnya beberapa kali. Sake miliknya sudah habis meski gelas itu belum terisi penuh.


Botol itu di letakkan dan ia menegakkan posisi duduknya. Kini kedua lengannya yang bertumpu pada lutut sedang pandangannya mengarah ke depan, desa Konoha tampak seperti lautan bintang di bawah sana.


Air matanya meleleh, dan semakin lama isakan yang mungkin sudah lama ia tahan akhirnya terlepas.


Hanabi menjadi resah. Sejak kecil ia terbiasa melihat Hinata menangis. Hinata biasa menangis dalam diam ataupun isakan kecil.


Tapi saat ini, Hinata menangis dengan keras. air matanya mengalir deras. Kesedihan yang sama sekali tidak ditahan seperti ini, hanya satu kali Hanabi pernah melihatnya. 7 tahun lalu, yaitu saat Hinata melihat dirinya kesakitan akibat Juinjutsu yang baru saja ditanamkan di dahinya.


Hanabi mengambil langkah mendahului prianya, namun langkah itu tertahan saat tangan sang pria menggenggam pergelangan tangannya.


"Aku harus menemuinya." ucapnya lirih.


Konohamaru menggelengkan kepala. Pandangannya kembali pada Hinata yang mulai meminum sakenya dalam sekali teguk.


"Hanabi, ambillah jalan memutar. Maaf aku tidak bisa mengantarmu."


Hanabi mengerti, Konohamaru ingin menangani kakaknya.


"Dia tidak akan nyaman bila itu kau. Biar aku saja."


"Aku ataupun dirimu, tidak ada seorangpun yang akan membuatnya nyaman untuk saat ini."


Hanabi terdiam. Benar apa yang dikatakan Konohamaru, Kakaknya jelas ingin sendiri.


"Pergilah, kau harus istirahat. Biar aku yang menjaga Hinata-nee dari sini."


Sekali lagi ia menoleh ke arah Hinata. Sungguh bohong kalimatnya bahwa ia sama sekali tidak lelah. Apa lagi besok ada banyak hal yang harus dipelajarinya pada Shizune. Hanabi tentu malu jika besok dia hanya akan menghabiskan waktu Shizune dengan percuma. Dan lagi pria di depannya ini, sungguh Hanabi sudah malas berdebat dengannya.


"Baiklah, aku serahkan tanggung jawab ini padamu. Jaga Kakak ku baik - baik. Kau akan kehilangan nyawa kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya."


Konohamaru mengangguk dan tersenyum tipis. "Jangan khawatir, aku akan mempertahankan nyawaku demi dirimu."


Hanabi membuang muka. Sedikit banyak ia tersipu juga dengan kata - kata itu.


"Jaga dirimu baik - baik, Hanabi-chan." ucap Konohamaru saat Hanabi mulai mengambil langkah untuk meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2