
Tanpa merasa perlu mengetuk pintu, Shikamaru memasuki ruangan Naruto sambil membawa setumpuk berkas ditangannya.
Seketika itu Naruto mendesah lelah. Padahal dia baru saja membubuhkan stampel pada berkas terakhir dimejanya, tapi sekarang datang setumpuk lagi yang tidak kalah tinggi.
Sial benar nasibnya hari ini.
Bruuk...
Siaaal...!!
umpatnya dalam hati saat Shikamaru meletakkan tumpukan itu di mejanya.
"Naruto, apa kau sudah memeriksa kelengkapan berkas untuk ujian Chunin tahun ini?"
"Un..." ia menganggukkan kepala.
"Sudah menerima Laporan dari Kepolisian Konoha?"
"Un..."
"Bagaimana dengan,"
"Permintaan Elite Misi, Laporan Keuangan Desa, Laporan Kesehatan Shinobi. Aku sudah memeriksa semuanya." Ucapnya sambil mendorong laporan yang telah diselesaikannya ke arah Shikamaru.
Untuk beberapa saat Shikamaru terdiam menatap Naruto.
Entahlah, Naruto merasa Shikamaru benar - benar sensitif. Pria itu pasti merasakan firasat tidak enak tentang dirinya, meski pada akhirnya Shikamaru tetap mengangkat tumpukan berkas itu.
"Anoo Shikamaru," Shikamaru yang hendak pergi mengurungkan niatnya. ia kembali menatap Naruto, kali ini dengan rasa curiga. "Apa ini.., sangat mendesak?" Tanya Naruto sambil menunjuk tumpukan berkas yang baru di serahkan padanya.
"Kenapa?"
Uhuk... Uhuk...
Shikamaru hanya mencebikkan bibirnya
Haachiim...
Lalu pandangan itu, pandangan yang seolah mengatakan bahwa ia malas meladeni Naruto, membuat yang bersangkutan paham bahwa sang Hokage telah gagal mengalabui Penasehatnya.
"Oh ayolah Shikamaru... Aku harus segera pergi."
Shikamaru meninggalkan meja Naruto. Meletakkan berkas - berkas ditangannya ke atas mejanya sendiri lalu mulai duduk dan memilahnya.
__ADS_1
"Para tua bangka itu masih disini, apa yang harus aku katakan jika mereka mencarimu?"
"Kau bahkan lebih dari sekedar jenius untuk mencari alasannya.". Ucapnya seraya mengambil satu bendel dokumen di tumpukan paling atas.
MODA TRANSPORTASI KERETA HALILINTAR.
Hmmm... dilema melanda hati Naruto. Di satu sisi dia ingin segera pergi dari ruang kebesarannya. Tapi disisi lain ia juga sangat tertarik dengan dokumen ini.
Beberapa waktu lalu Naruto membuka proyek transportasi penghubung antar distrik di desa Konoha.
Ada begitu banyak proposal yang masuk, tapi hanya beberapa yang cukup menarik perhatiannya. Salah satunya Kereta Halilintar ini.
Naruto mulai membukanya. Membaca dan mengamati desainnya dengan cermat.
"Shikamaru, bagaimana pendapatmu tentang ide dari Kaminarimon-san?"
"'Dia yang terbaik." Jawabnya singkat.
Naruto mengangguk paham. "Tolong segera atur jadwal untuk bertemu dengannya."
"Dia memiliki waktu luang jam 8 malam nanti. Bagaimana denganmu?."
Naruto memandang ke arah jendela untuk beberapa saat. Shikamaru mendengus, ia tahu apa yang sedang dipikirkan si bocah rubah.
"Pergilah."
Naruto menoleh, menatap Shikamaru yang menguap malas.
"Dia mungkin mengunjungi makam Neji."
Naruto tersenyum tipis. Ternyata benar - benar tidak bisa menyembunyikan apapun dari Shikamaru.
"Aku tahu itu dattebayo!".
Segera ia berdiri dari kursinya. Naruto tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi hingga ia memutuskan untuk melompat lewat balkon.
"Shikamaru, arigatou." Ucapnya sebelum menutup pintu balkon.
Shikamaru tersenyum tipis. Ia mendengus, dalam hatinya bertanya - tanya.
Sampai kapan Naruto akan membohongi dirinya sendiri?.
***
__ADS_1
Semburat jingga mulai mewarnai langit Konoha. Semilir angin yang lembut menggoyangkan anak rambut Hinata. Gadis itu tengah bersimpuh di makan kakak sepupunya, Hyuga Neji. Ia masih berdo'a. Memejamkan mata dan merapatkan tangannya sejajar dengan dada.
"Neji nii-san, Otanjoubi Omodeto." Hinata tersenyum tipis sambil membuka matanya perlahan.
Tidak ada seorangpun di area pemakaman yang luas itu selain dirinya. Dihadapannya, nisan Neji tampak berkilau. Bunga Matahari yang ia bawa juga berjajar manis bersama serangkai Lily Putih dan Mawar Merah.
Tentu saja team Guy sudah datang lebih dulu darinya. Mereka pasti menghabiskan cukup banyak waktu sambil membersihkan rumput - rumput liar di makam ini.
"Nii-san, Hanabi-chan sedang ada misi hari ini. Ia memintaku mengatakan padamu untuk tidak perlu lagi mencemaskan dirinya."
Hinata menjeda sejenak. meskipun sejatinya dia hanya berbicara sendiri, tapi ia begitu menghargai Neji sebagai pendengarnya.
"Hanabi sudah dewasa sekarang. Sejauh ini, ia selalu mengambil keputusan yang tepat. Tapi untuk tidak mencemaskannya, bukankah itu hal yang mustahil bagi kita?" Hinata tertawa kecil "Ketika kita sungguh menyayangi seseorang, tidak mungkin kita tidak mengkhawatirkannya bukan?"
"Oh ya... Hari ini aku mendapatkan undangan dari Ino-san dan Sai-san. Mereka akan melangsungkan pernikahan 2 minggu lagi." Hinata terdiam sejenak, lalu senyuman pahit tersungging di bibirnya.
"Tidak terasa, sudah 10 tahun Neji nii-san meninggalkan kami. Ada begitu banyak hal yang berubah. Diawali Sakura-san dan Sasuke-san, lalu Shikamaru-san dan Temari-san yang bahkan sudah memiliki Shikadai-kun. Oh ya, Chouji-san juga sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka."
"Satu persatu teman kita mulai membangun keluarga. Entah akan seperti apa, di masa depan akupun juga pasti akan memiliki keluargaku sendiri."
"Aku membayangkan, jika nii-san masih disini, apakah nii-san juga sudah menikah? apakah dengan Tenten-san? mungkinkah sudah terdengar tawa dari Neji junior di rumah kita?." Hinata terdiam lagi. tenggorokannya terasa tercekat.
Setetes airmatanya jatuh kala ia memandang mawar merah dihadapannya.
Saat Neji masih hidup, tidak seorangpun tahu bahwa gadis keturunan China itu memiliki perasaan khusus pada kakak sepupunya.
Tenten menyembunyikannya. Begitu rapat, bahkan seekor kucingpun tidak dapat mencium baunya.
Tapi ketika Neji meninggal. Tak ada kata - kata yang dapat mewakili kehancuran hatinya. Mungkin tidak ada satu lautanpun yang menandingi dalamnya penyesalan Tenten. Hingga saat ini, ia masih sering datang ke makam itu, dengan mawar merah dan tetesan airmata.
"Tenten-san gadis yang baik. Sekarang dia sudah menjadi Guru Pembimbing Genin. Diantara kita semua, mungkin dialah yang paling terpukul atas kepergian mu. Setelah satu tahun peringatan kematianmu, dia tidak pernah lagi menangis dihadapan orang lain. Meskipun kami semua tahu air matanya belum kering, ia hanya menangis di hadapanmu saja. Tenten-san pasti berusaha keras untuk tegar dan menjalani hidupnya dengan baik."
"Karena melihatnya, akupun membulatkan tekad. Aku belajar dan berlatih lebih keras untuk berada di posisi ini. Nii-san aku masih berusaha keras untuk mewujudkan mimpi kita, menghapus takdir kutukan yang memisahkan Souke dan Bunke. Meski hatiku sangat ragu, tapi aku berharap jalan yang akan kupilih kali ini membawa kebaikan untuk Hyuga."
"Nii-san, aku mohon restu darimu. Terimakasih karena Neji nii-san sudah melindungi ku hingga akhir. Semoga Kami-sama selalu memberikan kedamaian untuk Nii-san."
Hinata memejamkan matanya kembali. Melantunkan do'a sebagai penutup kunjungannya.
Dari awal ia sudah berniat untuk tidak menangis di makam Neji. Tapi entah kenapa, hatinya begitu sakit. Bayangan perang dan saat Neji tumbang di depan matanya muncul kembali. Sesuatu yang entah mengapa tidak pernah memudar.
Hinata terisak dan air mata mengucur deras dari netranya yang terpejam. Tapi tidak terlalu lama, ia berusaha menekan dirinya agar tidak tampak begitu menyedihkan di depan kakaknya.
__ADS_1
Saat ia membuka mata, petang sudah datang. Matahari di ufuk barat hanya menyisakan garis jingga yang nyaris tenggelam sepenuhnya.