
Hening tercipta di ruangan itu. Tidak kurang dari 30 orang duduk di meja yang melingkar. Mereka adalah para tetua desa, pemimpin klan dan beberapa pejabat desa yang ditunjuk langsung oleh Naruto.
"Semakin meningkatnya jumlah penduduk Non Shinobi adalah alasan saya mengambil keputusan ini. Dua unit Kereta Halilintar, dimana setiap unitnya hanya memiliki 2 gerbong penumpang dan satu gerbong barang, saya rasa itu cukup untuk memenuhi kebutuhan warga kita."
Naruto menjeda sebentar, matanya bergerak memindai orang - orang yang di undangnya.
"Tujuan saya mengundang anda semua adalah untuk memohon persetujuan. Saya harap anda mengijinkan kami membangun paling tidak satu stasiun di setiap distrik."
"Saya tidak bisa menyetujuinya" Suara lantang itu menjadi perhatian banyak orang disana. "Silahkan saja bila Hokage-sama ingin membeli Kereta itu tapi jangankan stasiun, rel nya saja saya tidak mengijinkan untuk melintasi distrik kami."
Naruto menghela napas dalam. Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak emosi menghadapi kemarahan mereka. Ia tidak mengira akan mendapat penolakan bahkan sebelum ia menyelesaikan penjelasannya.
"Aburame-san, boleh saya tau alasan anda menolak permohonan kami?"
"Saya tidak mau sembarang orang dengan mudahnya keluar masuk distrik kami. Bagaimana kalau mereka berniat jahat?. Saya tidak bisa mengambil resiko mengenai keselamatan anggota Klan Aburame."
Suara - suara kecil bermunculan membenarkan pendapat pemimpin Klan Aburame.
"Mereka bukan sembarang orang, mereka adalah warga desa kita sendiri, Aburame-san." sanggah Naruto.
Pria tua itu mendengus "Anda pikir akan semudah itu saya mempercayainya? membangun transportasi umum dengan nilai yang sangat besar hanya untuk kebutuhan warga yang jumlahnya tidak seberapa, mana mungkin kalian bisa memperoleh keuntungan?"
Suara gaduh yang tadinya hanya bisik - bisik kecil sekarang mulai lantang terdengar. Apa yang dikatakan Aburame-san benar. Kereta Halilintar tampaknya tidak akan terlalu menguntungkan pemerintah desa.
"Anda berniat membuka gerbang desa bukan?"
Naruto tersenyum tipis "Benar sekali, Aburame-san."
Jawaban itu terlantun ringan, namun menyulut emosi banyak orang.
"Hokage-sama, apa anda tahu resikonya jika gerbang dibuka?"
"Hokage-sama jangan membahayakan rakyat demi uang"
"Nara-san, apa yang anda lakukan sebagai penasehatnya."
Kalimat - kalimat protes seperti itu melayang tanpa bisa di kontrol. Bahkan Naruto tak tahu lagi suara siapa saja yang meneriakkan protes padanya.
Matanya melihat ke arah Ino, ia datang menggantikan ketua Klan Yamanaka. Perempuan itu menutup rapat mulutnya namun matanya benar - benar menuntut penjelasan yang besar pada Naruto.
Lain lagi dengan Hinata. Ia dan ayahnya tampak begitu tenang. Dibanding merespon protes dari yang lain. Hinata justru mengajak Hiashi untuk lebih mengamati proposal yang di berikan Naruto. Sebuah gulungan yang berisi rancangan kereta api beserta jalur yang akan di laluinya.
Lalu Sasuke? Sebagai Uchiha terakhir, ia mungkin memiliki pemikiran lain.Tapi jelas Sasuke tidak akan mengatakan apapun disini.
__ADS_1
"Saya mohon ketenangannya sebentar." Shikamaru berdiri menginterupsi. Cukup sulit namun akhirnya ia berhasil meredam kegaduhan itu.
"Ada banyak Klan yang tinggal di desa kita. Dimana setiap klan menguasai distrik - distrik tertentu" Naruto memulai kembali.
"Setiap Klan memiliki keunikan tersendiri. Dataran yang berbeda, tradisi masing - masing dan ciri khas yang kental."
"Seperti yang saya sampaikan di awal. Modernisasi yang Berkebudayaan adalah misi saya. Saya ingin Konoha menjadi desa yang senantiasa menjaga kebudayaannya namun juga berkembang seiring dengan semakin majunya tekhnologi."
"Tentang membuka gerbang 'AN' , hal itu pasti terjadi. Tapi masih jauh waktu yang harus kita tempuh untuk melaksanakannya."
"Kereta Halilintar ini hanya satu dari sekian banyak yang akan saya bangun. Kereta ini sekaligus akan menjadi media untuk kita belajar mengenai sistem administrasi, keuangan dan keamanan. Akan ada banyak hal yang kita amati. Setelah semua terasa siap dan sempurna barulah gerbang 'AN' akan dibuka."
"Hokage-sama, keputusan ini sungguh beresiko." kata Ino.
"Saya mengerti. Namun di buka atau tidaknya gerbang itu, resiko ini tetap saja mengintai kita. Penyusup, pengkhianat, pencuri data dan rahasia klan. Itulah sebabnya saya mengatakan banyak sistem yang harus kita pelajari terlebih dahulu. Bagaimanapun keamanan desa adalah tanggung jawab kita bersama."
"Dimasa depan, saya ingin membuat laboratoriun untuk obat - obatan yang lebih berkhasiat. Mengembangkan rumah sakit yang lebih maju. Sekolah dengan alat praktik yang lengkap. Semua hal, asalkan itu memberi kemajuan yang baik saya akan membangunnya."
"Akan tetapi, semua itu tidak bisa dilakukan tanpa uang. Jadi kita harus bisa menarik minat banyak orang untuk datang ke desa kita. Demi penjualan yang lebih banyak, pemasukan pajak yang lebih besar dan hidup yang lebih makmur."
Mereka semua terdiam. Apa yang dikatakan Naruto ada benarnya juga. Jika tidak mengikuti perkembangan dunia, desa ini pasti akan dilenyapkan dengan mudah.
"Nanadaime-sama, kami akan menempatkan stasiun itu tepat di depan gerbang perkebunan anggur yang ada di dekat Danau Ikoma."
Menjadi pusat perhatian seperti itu, Hyuga Hinata tersenyum malu. Wajahnya memerah dan suaranya sedikit gugup
"A-ano..." Hinata tampak mengatur napasnya sebentar. "Klan Hyuga akan mendukung penuh program Kereta Halilintar ini."
"Hyuga-san, apa tidak sebaiknya anda memikirkannya lebih dulu?." tanya Ketua Klan Inuzuka.
"Un... Saya sudah memikirkannya." Hinata mengangguk mantap.
"Benar apa yang dikatakan Hokage-sama. Kita harus berkembang mengikuti kemajuan zaman."
"Wine keluarga Hyuga cukup terkenal sampai ke Mizu no Kuni. Setelah gerbang di buka nanti saya akan menjadikan kebun anggur kami sebagai tempat wisata edukasi Wine. Memilih jenis anggur, melakukan perawatnya dan mengolahnya menjadi Wine akan kami ajarkan disana."
"Wisatawan yang datang bisa memetik buah anggur dalam kilogram tertentu dan membawa pulang sebotol Wine dari buah anggur yang mereka petik dan mereka olah sendiri. Saya rasa itu akan menjadi wisata yang sangat menyenangkan. Saya juga yakin pasti banyak pelanggan kami yang penasaran dan ingin mengunjunginya". ucapnya bersemangat.
"Itu terdengar sangat bagus, Hinata-san."
"Ha'i. Apalagi danau Ikoma sangat dekat dari kebun itu. Wisatawan pasti senang bisa memancing dan menyantap ikan disana."
"Pantas saja Hiashi-sama begitu bangga pada anda."
__ADS_1
Mendapat pujian dari pemimpin Klan Akamichi, Hyuga Hiashi hanya mengangguk Hormat, sedangkan pipi Hinata semakin bersemu merah.
"Terimakasih atas pujian anda, Akamichi-sama."
"Iiee... Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, jadi anda tidak perlu sungkan. Sejujurnya mendengar apa yang anda katakan tadi, saya sendiri rasanya juga ingin segera berkunjung ke perkebunan keluarga Hyuga, hahahaha..."
Tawa itu memancing tawa - tawa yang lain. Bererapa dari mereka juga membicarakan betapa menariknya pendapat yang di utarakan Hinata. Mengunjungi kebun yang penuh dengan buah anggur masak, memetiknya sandiri dan memprosesnya menjadi wine. Tsunade Senju juga terang - terangan mengatakan bahwa ia sangat ingin pergi kesana.
"Terimakasih atas dukungan anda, Hinata-san." Rasa terimakasih Naruto dibalas oleh anggukan hormat dari Hinata.
"Ciiih... kalian memiliki Hubungan khusus, tentu saja kalian akan saling mendukung. Entah itu demi kebaikan banyak orang ataupun demi keuntungan pribadi." Kalimat pedas itu keluar dari mulut ketua klan Shigaraki.
Hiashi mengeraskan rahangnya dan wajah cerah Hinata luntur seketika.
"Itu tidak benar Shigaraki-san," elak Hinata halus. "Kebetulan kami bersahabat sejak kecil, sehingga saya sangat mengerti seperti apa Hokage-sama itu. Ada perjuangan yang sungguh keras untuk beliau bisa sampai dititik ini. Hokage-sama pernah memberi nasehat bahwa saya tidak perlu takut pada klan yang besar. Tapi saya harus takut pada klan yang cepat berkembang. Karena yang akan kalah bukanlah yang bodoh, melainkan yang berhenti belajar untuk menjadi lebih baik. Itulah kenapa saya menaruh kepercayaan yang begitu besar kepada Nanadaime-sama."
Setelah penjelasan itu, suasana justru terasa semakin tidak nyaman bagi Hinata.
Pasalnya beberapa orang disana justru tersenyum menggodanya. Mengatakan banyak hal seolah Ia dan Naruto seharusnya tidak malu mengakui hubungan yang bahkan semua orang di desa sudah tahu.
Naruro menghela napasnya berat. Perasaannya bergejolak.
Biasanya Hinata akan diam dan mengalah, membiarkan orang - orang mengatakan apapun tentang mereka.
Walaupun Hinata sama sekali tidak salah, namun entah kenapa penyangkalannya kali ini membawa rasa sesak di dadanya.
Matanya memandang Hinata yang menundukkan kepala. Gadis itu pasti sangat tidak nyaman karena ada Hiashi di sebelahnya. Naruto akhirnya memperhatikan pria tua itu.
Tidak terbaca. Begitu pikirnya.
Ia tidak tampak marah dan juga tidak terlihat ramah.
"Eheemm." Naruto berdehem singkat untuk mendapatkan atensi. "Saya tidak memaksa anda sekalian untuk setuju. Akan tetapi, Shigaraki-san." Naruto menjeda seiring matanya yang menatap tajam pria muda yang memimpin klan Shigaraki itu.
"Jika anda menolaknya, tolong berikan kami alasan yang tepat. Perlu saya tegaskan bahwa hubungan apapun yang ada antara saya dan Hyuga Hinata, tidak ada kaitannya dengan proyek ini. Kami menjalankan tugas masing - masing, pada posisinya masing - masing."
Keheningan tercipta. Selama menjabat sebagai Hokage, ini adalah kali pertama mereka melihat Naruto menunjukkan rasa tidak suka dengan sangat serius. Namun mereka juga mengerti bahwa sikap Shigaraki yang membawa persoalan pribadi tidak dapat dibenarkan.
"Seperti yang di kemukakan oleh Ketua Klan Hyuga. Saya berharap Kereta Halilintar dapat membuka potensi setiap distrik. Seperti Klan Akamichi dengan Onsennya, Klan Nara dengan tanaman obatnya, Klan Yamanaka dengan makanan khasnya dan begitu juga dengan klan lain."
"Saya memberikan tenggang waktu pada anda sekalian untuk merundingkannya dengan anggota klan. Mulai hari ini hingga batas waktu yang ditentukan itu tiba, saya akan membuka pos pelayanan di depan Kantor Hokage. Anda sekalian dapat menyampaikan pendapat, kecemasan ataupun meminta pengarahan mengenai pengembangan proyek ini."
" Untuk masalah membuka gerbang desa, jangan cemaskan hal itu, masih sangat lama sampai kita benar - benar siap. Di kemudian hari, saya pasti akan mengundang anda semua untuk membicarakan pembukaan gerbang itu."
__ADS_1
Begitulah Naruto menutup rapat itu. Setelah menyarahkan sisanya kepada Shikamaru. Ia bangkit meninggalkan aula lebih dahulu, di ikuti dengan Kakashi dan Tsunade.