
Mereka berempat memasuki ruangan Naruto tidak lama setelah kepergian Iruka.
Hinata berdiri dibelakang Sai. ia memang berniat memberikan Sai kesempatan melapor terlebih dahulu agar temannya yang tampak Lelah itu dapat segera beristirahat.
Berbeda dengan Sai dan Hinata, Choji langsung menuju ke meja Shikamaru. Hinata sedikit miris sebenarnya, karena ia tahu misi yang dilaporkan pada Shikamaru hanyalah misi kelas C.
Tanpa ia sadari, Ia terus saja melihat ke arah Chouji.
Saat pria itu mengeluarkan 5 gulungan laporan misi.
Saat Shikamaru memeriksanya satu persatu.
Hinata sungguh tersentuh dengan sikap Chouji. Dia adalah seorang Jounin tapi bersedia menjalankan 5 misi kelas rendahan sekaligus tanpa merasa direndahkan harga dirinya.
"Hinata."
Hinata tidak mendengar panggilan dari Naruto karena ia masih terus sibuk memperhatikan Chouji.
"Hinata-san". Hinata berjingkat kaget saat Sai menggoyangkan bahu kirinya.
"Ada apa Sai-san"
Sai tersenyum sambil memiringkan kepalanya. Meskipun senyum Sai akhir - akhir ini terlihat lebih baik, tapi Hinata masih merasa sedikit ngeri saat melihatnya dengan jarak yang cukup dekat.
"Hokage-sama memanggilmu."
Hinata langsung melirik Naruto dan seketika ia menjadi gugup melihat Naruto menatapnya dengan senyuman. "Ma-maafkan Ss-saya, Hokage-sama."
"Tak apa, Hinata. Sai, kau boleh beristirahat sekarang."
"Ha'i..." Sai membungkukkan badannya sebentar, kemudian berlalu melewati Hinata bahkan tanpa menyapa Ino yang berdiri dibelakang mereka.
"Kapan kau kembali dari misimu Hinata?" Tanya Naruto sambil membuka gulungan yang baru saja ia terima dari gadis itu.
"Tadi siang, Hokage-sama. Tapi kami harus ke Rumah sakit terlebih dahulu untuk menangani luka Akamaru dan Shino-kun."
"Mereka terluka? Lalu bagaimana keadaanmu? Kau baik - baik saja?"
Tanpa bisa Hinata hindari, pipinya mulai dipenuhi rona merah. Ia menunduk, merasa malu pada orang - orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Ooeee Naruto!. Seharusnya kau itu menanyakan kabar Akamaru dan Shino. Untuk apa menanyakan keadaan Hinata?"
"Berisik kau Shikamaru. Tanpa kau suruhpun aku juga akan menanyakan keadaan mereka. Tapi apa salahnya kalau aku ingin tau keadaan Hinata dulu. Siapa tahu dia juga terluka."
"Walaupun begitu tetap saja, anda seharusnya menanyakan keadaan Akamaru dan Shino yang jelas - jelas berada di rumah sakit terlebih dulu. Setelah itu baru menanyakan kabar Hinata, Hokage-sama" jawab Ino ketus.
Naruto melirik Ino, dan ia memutuskan mengalah setelah melihat raut tidak bersahabat dari gadis Yamanaka itu.
__ADS_1
"A-ano... saya hanya mengalami luka kecil, Hokage-sama. Mereka juga sudah baik - baik saja. Akamaru sudah diperbolehkan pulang sedangkan Shino-kun masih harus dirawat inap. S-saya akan segera melapor kalau tim kami sudah siap kembali."
"Hmmm, syukurlah."
Naruto meneliti laporan itu kemudian berkata. "Jadi kalian tidak berhasil menyelamatkan Rinko-sama."
Rinko adalah nama salah seorang menantu perempuan Daimyo Negara HI.
Seminggu yang lalu wanita itu diculik oleh Shinobi Pelarian dari Kumo Gakure.
"Maafkan Kami. Mereka benar - benar tidak berniat mengancam. Rinko-san sepertinya telah dibunuh hanya beberapa jam setelah diculik. Ketika kami menemukannya, mayatnya sudah membusuk."
Naruto menghela napasnya dalam - dalam. Ada rasa iba membayangkan Rinko yang baru beberapa bulan menjadi anggota keluarga Daimyo harus terbunuh karena masalah jabatan mertuanya.
"Ino, bawa laporanmu kemari" Perkataan Shikamaru menyadarkan Naruto dari lamunan sekejapnya.
"Aku tidak mau, aku hanya akan melaporkan misiku langsung pada Hokage-sama."
Naruto kembali melirik Ino yang terlihat kesal padanya. ia sangat yakin kalau Ino pasti akan marah karena misi kelas c yang ia berikan.
"Ino... sudahlah. Ayo cepat selesaikan laporanmu pada Shikamaru. Bukankah kau ada janji makan malam dengan Sai?"
"Aku tidak mau, Chouji."
Chouji merengut karena tidak berhasil membujuk sahabatnya.
"Sekarang" Naruto menyerahkan gulungan yang belum sepenuhnya tertutup pada Hinata "Tolong berikan ini pada Shikamaru. Dia sudah tau apa yang harus ia lakukan. Oh ya... kau juga bisa mengisi Form Penyelesaian Misi pada Shikamaru untuk segera mencairkan bayaran kalian."
"Ha'i." Hinata menerima gulungan itu dan segera berpindah ke meja kerja Shikamaru.
"Baiklah, sekarang aku akan mendengarkan semua keluhan mu, Nona Yamanaka." Naruto terkekeh melihat Ino yang makin cemberut.
Ino mengeluarkan tiga gulungan dari dalam tas nya kemudian meletakkannya satu persatu ke meja Naruto.
Ya.. dia sudah pergi selama 4 hari dari desa demi menyelesaikan 3 misi kelas c secara berturut - turut.
"Sudah 2 kali aku melakukan misi seperti ini. Dan aku menolak untuk mengulanginya" Ucapnya bahkan sebelum Naruto membuka gulungan - gulungan itu.
"Apa kau menemukan kesulitan, Ino?"
Ino tersenyum sinis. Lagi - lagi ia merasa Naruto merendahkan dirinya.
"Kenapa anda begitu meremehkan kemampuan saya, Hokage-sama?."
"Hei... aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin tau kenapa kamu menolaknya."
"Anda masih bertanya?" suaranya mulai meninggi "Aku berlatih bertahun - tahun. Menempuh banyak ujian berat. Aku menjadi seorang Jounin Elite bukan untuk mengerjakan urusan remeh temeh seperti ini. Naruto, aku tau kau ini memang bodoh. Tapi bisakah kau mengendalikan kebodohanmu? Kau sudah sampai di titik ini." Napasnya sampai terengah - engah menahan emosi.
__ADS_1
"Ino-chan.... Tenangkanlah dirimu."
"Diam kau Chouji!. Mana mungkin aku bisa tenang melihat kekacauan seperti ini. Aku marah karena aku sahabatnya. Orang lain mungkin tidak akan memakinya tapi mereka menjadikan dirinya bahan pembicaraan dibelakang."
"Tapi Ino, biar bagaimanapun Naruto itu adalah Hokage-sama."
Naruto menahan senyumnya melihat kepolosan Chouji.
"Walaupun dia Hokage, jika dia memang bersalah kita tentu harus menegurnya kan?. Lagi pula kenapa kalau aku marah padanya, dulu dia saja yang masih bocah ingusan bisa marah pada Tsunade-sama karena menolak misi kelas d ." Ino menjeda demi menyambung napasnya yang terasa hampir putus "Chouji, kenapa kau terus saja membela Naruto? Sudah berapa kali kau melakukan misi seperti ini? Apa kau sedikitpun tidak merasa marah hah?"
Shikamaru menghentikan kegiatan menulisnya, ia tersenyum melihat Hinata yang hanya menundukkan kepala. Shikamaru mengerti, Hinata merasa tidak nyaman berada diantara pertengkaran itu karena dirinya belum pernah sama sekali melakukan misi rendah ini.
"I-itu... sebenarnya aku menyukainya." Chouji nyengir sambil menggaruk kepalanya.
Naruto akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia sungguh merasa lucu dengan expresi Chouji yang dimarahi Ino.
"Chouji apa kau sudah gila?" Ino makin murka.
"Habis, mau bagaimana lagi. Kita sama - sama tahu kalau Genin di desa ini jumlahnya semakin sedikit. Kalau Genin - Genin itu terus saja melakukan misi bodoh seperti ini, kemampuan mereka tidak akan berkembang, Ino. Menurutku kalau sampai hal itu terjadi, rasanya justru lebih menyedihkan dari pada kenyataan dimana akulah yang harus melakukan misi - misi ini."
Mereka terdiam mendengar penuturan Chouji, Naruto tidak menyangka Chouji sepengertian itu padanya.
"Lagi pula aku sudah kenyang dengan pertarungan kelas berat. Sudah berapa kali nyawa ini hampir melayang, aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya lagi. Misi kelas c sepertinya membuatku sedikit santai juga."
"Chouji-san..." gumam Hinata , ia bahkan tidak bisa berkata apa - apa untuk menggambarkan betapa baiknya hati Chouji.
"Kalau masalah dapur, yah... aku memang agak beruntung. Paling tidak penghasilan dari penginapan kami masih bisa membuatnya mengepulkan asap. Tapi yang paling aku sukai, aku jadi tidak harus terus bersama dengan Karui. Semenjak hamil dia tidak hanya galak tapi juga sangat rewel. Bukankah lebih baik aku pergi menjalankan misi he..he..he.."
Shikamaru terbahak - bahak mendengar penuturan dari Chouji. Hingga amarah Ino pun mulai memadam.
Matanya tertuju pada Chouji yang tengah tertawa. Sahabatnya itu memang memiliki hati yang sungguh baik , sampai - sampai ia merasa Karui terlalu beruntung mendapatkan Chouji yang begitu tulus mencintainya.
"Ino..., Aku minta maaf padamu soal misi ini."
"Tidak usah." tiba - tiba matanya berkaca - kaca. "Akulah yang seharusnya minta maaf disini. Aku benar - benar tidak berpikir panjang."
"Huft... Sudahlah Ino, jangan dipikirkan lagi. Kau boleh beristirahat sekarang. Laporanmu biar aku yang mengurusnya. Kau bisa kembali besok untuk mengambil bayaran mu."
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu."
"Aku antar kau, Ino. Aku juga sudah selesai." kata Chouji.
"Kalian berhati - hatilah, terimakasih sudah menyelesaikan misi dengan baik." Naruto tersenyum pada mereka berdua.
Hingga mereka berdua pergi dari ruangan itu, Naruto masih belum juga melepaskan pandangannya dari pintu.
Hari ini Naruto seperti merasakan karma atas kenakalannya dulu kepada Tsunade. Tapi seperti yang Chouji katakan, ia tidak bisa membiarkan para Genin menjadi ninja yang tidak terlatih. Entah sampai kapan ia akan terus melakukan ini.
__ADS_1