Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)

Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)
Chapter 4 : Misi Kelas D


__ADS_3

Hinata berjalan perlahan. Langkah kakinya terasa begitu ringan. Ia tersenyum memandangi apel - apel segar yang ditata rapi di dalam keranjangnya.


Hinata berniat mengunjungi Aburame Shino pagi ini. Ia sengaja berangkat pagi - pagi sekali karena tiba - tiba merasa malas membayangkan teriknya siang di musim panas.


Tiba - tiba Hinata menghentikan langkahnya. Ia melihat sedikit kegaduhan di depan kantor Hokage.


Disana ada beberapa Anbu, Tetua Desa dan Daimyo Negara Hi. Entah apa yang mereka ributkan, Hinata tidak begitu memperhatikannya.


Yang ia perhatikan adalah Naruto. Hokage ketujuh itu melangkah mundur perlahan. Saat ia memastikan dirinya sudah berada di barisan paling belakang, Naruto menjambak rambut pirangnya, menampakkan wajah frustasi dengan gerakan tubuh seolah gemas, ingin menghajar seseorang.


Hinata tersenyum hingga kedua matanya menyipit.


Meskipun waktu telah lama berlalu, meskipun banyak hal yang mereka mereka pelajari, meskipun mereka telah menjadi Hokage dan Pemimpin Klan. Bagi Hinata, Naruto tetaplah Naruto. Tawanya, sikapnya, kebaikannya, semua hal tentang Naruto masih tetap memenjarakan perasaan Hinata.


"Naruto-kun." Hinata berucap lirih. Tiba - tiba senyumnya menipis. Mengingatkannya pada kegetiran yang tidak ia inginkan.


"Sebenarnya, aku sungguh ingin bisa terus melihatmu seperti ini."


Tanpa ia sadari, genggaman tangannya pada keranjang apel itu pun semakin erat.


Hinata masih terus terdiam sambil melihat Naruto. Ia tidak lupa dengan rencananya menjenguk Shino, tetapi untuk saat ini Hinata benar - benar ingin tetap bersiri disana.


***


Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hari masih pagi dan kantornya sudah digegerkan oleh anak kecil yang tidak mau ditinggalkan kakeknya untuk rapat bersama Naruto.


Naruto menyukai anak kecil, sungguh. Tapi gadis kecil itu sepertinya tidak termasuk dalam kriteria anak yang disukai Naruto.


Anak orang kaya yang sombong, manja dan semaunya sendiri.


Baru beberapa menit bertemu dan Naruto sudah menyimpulkan hal seperti itu, Shikamaru pasti marah kalau mengetahuinya.


Kemudian pandangannya jatuh pada dua orang yang berada di ujung jalan, dibawah pohon sakura yang besar dan rindang.


Naruto mengeryit heran. Kenapa Hinata dan Shikamaru diam berdiri disana?.


Huft... Mereka pasti mentertawakanku dattebayou. Batinnya.


Naruto mengambil langkah. Ia menahan senyum saat melihat semburat merah di pipi Hinata. Sepertinya gadis itu memang mencuri pandang sehingga ia menjadi malu dihadapan Naruto.

__ADS_1


"Hei... kalian!." Seru Naruto.


Hinata menampakkan gestur kekagetannya dan langsung menoleh kebelakang.


"Sh... Shi... Shikamaru-san?" Hinata sangat malu. Sejak kapan Shikamaru berada di belakangnya. Apakah pria itu tau bahwa ia memandangi Naruto untuk waktu yang cukup lama?.


"Hoee Shika, kenapa kau hanya berdiri disini? Kau tidak lihat aku kerepotan sejak tadi ttebayou?"


Shikamaru mendecih. "Mendokusai...!?" kemudian melangkah melewati 2 orang di hadapannya.


Naruto dan Hinata hanya diam dan tetap berdiri disana melihat Shikamaru mencoba mencari jalan keluar dari masalah itu. Tak lama, Naruto terpingkal - pingkal melihat anak itu justru semakin kencang menangis sambil menggoyang - goyangkan jubah kakeknya


"Naruto-kun, sebenarnya ada masalah apa?."


Naruto menghentikan tawanya perlahan. Ia bahkan sampai harus menyeka sudut matanya yang berair.


"Anak itu, Hinata. Dia tidak mau dipisahkan dari kakeknya padahal kami harus segera memulai rapat. Kau lihat pemuda yang berdiri kaku disebelahnya? Pria itu adalah pengasuh baru. Kau lihat wajahnya yang sedatar papan? " Naruto tertawa lagi. "Wajar saja anak itu tidak mau ikut dengannya kan? dari wajahnya saja dia sudah terlihat membosankan."


Pandangan Hinata yang tadinya memperhatikan anak itu, kini beralih pada pengasuhnya.


Ia tersenyum kecil. Memang benar apa yang dikatakan Naruto. Bahkan disaat si anak meronta - ronta, pengasuhnya itu hanya diam berdiri dengan wajah yang sedatar triplek. Bahkan lebih datar dari pada Uchiha Sasuke.


"Ya...?"


"Bisakah kau menolong kami untuk membujuk anak itu?"


"A-ano... Naruto-kun," Hinata menelan ludahnya."Sebenarnya hari ini aku berencana untuk mengunjungi beberapa tempat."


"Ayolah Hinata, tolong ya..."


"Tapi Naruto-kun, aku khawatir jika..." Hinata belum selesai dengan ucapannya dan Naruto sudah menyela kembali.


"Hinata, kau boleh membawanya untuk mengikuti mu kemanapun kau pergi. Kau bawa dia pergi yang jauh sekalian aku justru lebih bersyukur dattebayo"


"Naruto-kun..." hinata mengerutkan alisnya pertanda ia tidak menyukai pemikiran pria itu.


"Sudahlah Hinata, jangan menolak lagi. Gadis kecil itu bernama Yui. Tugasmu adalah menjaganya hingga sore hari. Ini misi untukmu Hinata. Misi Kelas D."


Hinata menghela napasnya dalam. Akhirnya ia mendapat Misi Kelas D yang akhir - akhir ini ramai dibicarakan. Padahal Hinata sebenarnya bukan ingin menolak, ia hanya khawatir tidak dapat mengendalikan kemauan Yui mengingat anak itu terbiasa dimanja.

__ADS_1


Naruto terkekeh. Ia meraih jemari Hinata, menariknya maju. Saat gadis itu sudah berada di depannya, ia menepuk bahu Hinata, memberikan semangat untuk usaha yang akan dimulai.


Tidak terlalu lama, Naruto melihat gadis kecil itu mulai tenang. Hinata bahkan berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan gadis kecil itu.


Naruto tersenyum. Ia sandarkan punggungnya pada dinding pagar dan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.


"Siapa yang bisa menolak senyuman semanis itu, Hinata?". gumamnya.



Naruto masih terus memperhatikan bagaimana Hinata berusaha membujuk gadis kecil itu. Naruto memang tidak dapat mendengar apa saja yang mereka bicarakan, tapi Naruto cukup lega melihat gadis itu menerima sebuah apel dari Hinata dan melepaskan genggamannya pada jubah sang kakek, hingga akhirnya Hinata menggenggam tangannya, membawanya melangkah kearah Naruto.


"Kami akan pergi sekarang, Hokage-sama."


"Kenapa kita harus pamit dulu pada paman ini sih, Hinata nee-chan!". Yui, nama gadis kecil itu. Ia merengut sebal kearah Naruto.


"Hoee... Yui-Chan!. Kau tidak boleh bersikap seperti itu dattebayo."


Yui justru semakin sebal dan membuang muka.


"Hinata, bagaimana dengan Yoshimaru?"


Naruto mempertanyakan pengasuh Yui yang ia lihat tengah bersembunyi di atas dahan pohon.


"Aah... soal itu, Yui-chan hanya ingin pergi berdua denganku, jadi Yoshimaru-san tidak akan ikut." Hinata mengedipkan matanya berkali - kali. Memberi isyarat kebohongan dalam kalimatnya tadi.


Naruto tersenyum, merasa Hinata begitu lucu dengan wajah itu.


"Kau bisa pergi sekarang Hinata. Berhati - hatilah."


Hinata membungkukkan badannya untuk pamit. Namun baru dua langkah ia kembali berhenti dan berbalik memandang Naruto.


Mereka saling memandang untuk waktu yang singkat. Kemudian Hinata meraih sebuah apel dari keranjangnya dan memberikannya pada Naruto.


"Arigatou, Hinata."


Gadis itu hanya tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya sebelum Yui kembali menjerit kesal.


"Bagaimana bisa kau selalu tahu saat aku tidak memiliki waktu untuk makan" Gumamnya sembari memperhatikan dua gadis yang semakin menjauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2