
Konohamaru membuka sedikit matanya. Matahari belum terlalu terik, mungkin masih sekitar jam 10 pikirnya.
Angin datang berhembus pelan, namun mampu menggoyangkan suraian hitam pria itu juga membunyikan furin - furin yang ia gantung sejajar.
Ia yang saat itu tidur tengkurap di roka belakang kamarnya sedikit terusik oleh kegaduhan 2 orang wanita di luar sana. Dia tahu pasti, itu adalah Hyuga Hanabi. Tapi rasa malas membuatnya egois.
Biarlah, toh ada ibunya yang akan mempersilahkan Hanabi ke kamarnya.
"Konohamaru-kun, Hanabi datang berkunjung loh..."
Tuh kan... Ibunya justru lebih antusias menyambut Hanabi.
"Masuklah, anak itu pasti sedang bermalas - malasan akan aku bawakan minum untuk kalian."
"Eeh... Oba-aan, jangan terlalu repot. Saya hanya mampir sebentar. "
"Tidak, hanya segelas air tidak akan membuatku repot. Lagi pula Hanabi-chan sudah lama tidak berkunjung. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu."
Lalu basa - basi itu di akhiri dengan ucapan terimakasih dan hormat dari Hanabi.
"Konohamaru senpai, boleh aku masuk?"
Konohamaru memejamkan lagi matanya.
Ah... sudah lama sekali rasanya ia tidak mendengar Hanabi memanggilnya senpai. Jadi terasa aneh di telinganya.
Saat itu ia baru saja ingin mempersilahkan Hanabi, tapi gadis itu sudah menggeser fusuma dan melangkah masuk, mendudukkan diri di lantai roka, dekat dengan kepala Konohamaru.
"Bukankah kau seharusnya pergi dengan Shizune-san?"
"Aku sudah selesai."
"Secepat itu?"
"Aku pergi sebelum matahari terbit. Kami ke Hutan Nara. Ada satu jenis bunga yang mekar sebelum fajar dan kami harus memetiknya saat itu juga. Sangat bagus untuk di ekstrak sebagai antidepresan."
Konohamaru bergumam tak jelas. Ia mengubah posisinya terlentang dan melihat Hanabi yang begitu segar dengan Yukata berwarna jingga.
__ADS_1
"Sepertinya kau menjaga Onee-chan ku dengan baik."
Konohamaru mendengus. "Ia sama sekali tidak mabuk."
"Satu botol sake tidak cukup untuk membuat seseorang mabuk bukan?"
Buughht....
Sebuah bantal melayang ke arah Hanabi, dan gadis itu menangkapnya dengan baik.
"Oops... tentu saja pengecualian untuk anda, Konohamaru senpai. Hahaha..."
Konohamaru tersenyum meski malu. Ia bangun mendudukkan dirinya di sebelah Hanabi. Mereka berdua menengadah memandang langit yang begitu jernih.
Angin itu datang lagi, cukup kencang untuk sekedar menggoyang furin - furin di atas mereka.
Hanabi menatap furin - furin itu. Konohamaru menggantung 4 furin sekaligus. Kuning dari Ebisu sensei, biru milik pria itu, merah dari Moegi dan Hijau dari Udon.
Sekarang 4 orang itu sudah berada di jalan masing - masing.
Namun meski sudah saling terpisah, Hanabi tau kenangan bersama mereka masih melekat erat di benak Konohamaru.
Sekali lagi furin - furin itu bergoyang.
Suara dentingan 4 kaca secara bersamaan terdengar berantakan di telinga Hanabi. Tapi pria itu pernah bilang, justru ketidak teraturan itulah yang membuatnya tenang.
"Apa Hinata-nee akan segera menikah?"
Pupil mata Hanabi melebar, bahunya pun menegang. Konohamaru tau reaksi itu tapi ia tetap menunggu jawaban Hanabi.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Hanya... Tebakan ku saja."
Hanabi hanya diam. Gadis itu berdiri, memasuki kamar Konohamaru dan duduk di meja belajarnya.
Sebuah gulungan terbentang. Hanabi membacanya dan memutuskan untuk merapikannya.
__ADS_1
"Kau sudah menyelesaikan laporan misi kemarin, tapi kenapa tidak segera menyerahkannya."
"Naruto-nii sedang ada rapat bersama para pemimpin klan."
Yah... misi mereka kemarin memang sangat rahasia hingga hanya bisa dilaporkan pada Hokage. Keberhasilan mereka memang sudah di laporkan namun data tertulis belum mereka buat.
"Oh... Begitu ya. Padahal tujuanku datang kemari untuk menyusun laporan ini, tapi kulihat kau sudah menyelesaikannya dengan baik."
"Jadi laki - laki itu, yang akan menikahi Hinata -nee bukanlah Naruto-nii ya?"
Hanabi masih tak mau menjawabnya. Konohamaru mendengus, ia bahkan tak percaya bahwa mereka berdua bukan sepasang kekasih.
Kemudian pertanyaan itu tenggelam. Ibunya datang membawakan teh dingin dan beberapa potong semangka. Mereka berdua mengobrol cukup lama.
Konohamaru tahu ibunya sangat menyukai Hanabi. Gadis cantik, sopan dan memiliki tatakrama yang baik. Ibunya merasa Hanabi begitu anggun dengan Yukata yang selalu di kenakan dalam keseharian gadis itu.
Ibunya tidak tahu. Bukan, tapi tidak seorangpun tahu. Mereka menyembunyikan hubungan asmara.
Sekali lagi ia mendengus. Meski dengan alasan yang berbeda, mungkin saja nasibnya akan sama seperti Naruto. Mencintai seorang Hyuga memang tidaklah mudah.
"Jika kau lelah, aku saja yang menyerahkannya." Ucap gadis itu sesaat setelah kepergian ibu Konohamaru.
"Hanabi-chan, bukankah kediamanmu itu bisa ku artikan bahwa meskipun tidak bisa mengatakan kebenarannya, setidaknya kau tidak perlu membuat satu kebohongan, bukan?."
Hanabi tersenyum masam. Ia menatap mata Konohamaru untuk pertama kalinya setelah pertanyaan itu muncul dari bibir sang pria.
"Kau yang sekarang terasa begitu memahami ku. Aku sampai kesulitan merahasiakan hal - hal yang seharusnya tidak kau tahu. Apa itu karena kau adalah kekasih ku?"
Hanabi beranjak, ia kembali duduk disamping Konohamaru. Entah keberanian dari mana, Hanabi memeluk kekasihnya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Konohamaru.
Suatu hal yang tak pernah mereka lakukan di ruang terbuka apalagi di dalam desa.
Dengan sedikit gemetar, pria itu balas memeluk Hanabi. Tangan kanannya terulur untuk membelai rambut Hanabi.
"Perasaan ini begitu nyaman sekaligus mengerikan. Aku takut jika aku tidak dapat lagi menjauh dari sisimu."
"Jangan khawatirkan itu. Aku akan berusaha keras untuk bisa selalu di sisimu, walau nyawaku adalah taruhannya."
***
__ADS_1
Konichiwa... Bab ini khusus saya update sebagai pengganti bab yang double saat up kemarin. Maaf untuk kesalahan itu, terimakasih sudah membaca.