Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)

Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)
Chapter 3 : Kesepian


__ADS_3

"Berikan dia padaku Naruto. Biar aku yang menggendongnya."


"Tidak mau! Kau lihat sendiri bukan, Shikadai senang aku menggendongnya. Benar begitu Nara kecil?"


"Cha... Chaaaa..." Balita yang baru berusia 4 bulan itu manggut - manggut seakan mengiyakan ucapan Naruto.


"Uuh... Kau ini memang anak yang baik dattebayo" Naruto tersenyum, lalu ia mengusap puncak kepala Shikadai hingga membuat anak itu tertawa sambil menggerakkan tangannya dengan lincah.


Shikamaru berdecak sebal. ia mendudukan dirinya di sofa yang berada di sebelah kanan Naruto. Ia sedang cemburu berat. Pasalnya, Shikadai yang kerjanya hanya tidur itu selalu saja mendadak lincah setiap kali Naruto datang ke rumah mereka.


"Kau marah Shikamaru?" Tanya Naruto sambil tertawa - tawa mengayunkan Shikadai di gendongannya.


"Aku juga merindukan anakku Naruto. Sudah seharian penuh aku melihatmu, kenapa baru 2 jam aku tenang dirumah sudah harus melihatmu lagi?"


"Kami-sama... Kau ini pelit sekali dattebayo. Kau kan bisa setiap hari bercanda dengan Shikadai."


"Kau salah Naruto." Temari, yang tak lain adalah nyonya di rumah itu menyela pembicaraan mereka.


Ia datang dari arah dapur membawa 3 cangkir ocha hangat dan sepiring mochi dalam satu nampan kayu yang cukup besar ditangannya.


"Minumlah dulu Naruto." ucapnya saat meletakkan cangkir di hadapan Naruto.


"Neee.... Arigatou, Temari."


Temari hanya membalasnya dengan tersenyum kemudian ia pun segera duduk di belah suaminya.


"Kau tau Naruto, Shikadai itu lebih suka tidur daripada bermain dengan Otousannya."


"Benarkah?"


"Hmmm..." Temari menganggukkan kepalanya.


"Hahaha... Tidak disangka kau juga mendapatkan karma ya, Tuan Pemalas"


Temari tertawa dan Shikamaru mendengus, mengangkat sedikit ujung bibirnya. Pria itu mengingat lagi kejadian dimana Ino memarahi Naruto. Seperti sebuah karma dari masa lalu, sama seperti dirinya.


"Bagaimana kabarmu Naruto?. Shikadai masih sangat kecil saat terakhir kali kau datang kemari."


"Aku tidak bisa mengatakan semuanya baik - baik saja padamu, karena kau adalah istri dari penasehat ku. Pria malas ini pasti banyak menceritakan kekacauan yang aku buat bukan?"


"Ya... Begitulah." Temari tersenyum maklum.


"Kalau di ingat lagi, kenapa dulu tidak pernah terlintas dalam bayanganku, bahwa beratnya jalan perjuanganku untuk menjadi Hokage ternyata tidak ada apa - apanya dibandingkan dengan saat menjadi Hokage itu sendiri."


"Mendokusai..." Shikamaru tertawa.


"Padahal sudah hampir satu tahun aku menjadi Hokage. Tapi aku hanya bisa meneruskan sistem yang sudah dibuat oleh Kakashi Sensei. Sama sekali belum ada perubahan besar yang bisa aku buat."


"Sudahlah Naruto. Jangan terlalu berat memikirkan hal - hal yang seperti itu. Dulu Kakashi-sama juga butuh beberapa tahun untuk berdiri dengan baik."


"Benar apa yang dikatakan Shikamaru, Naruto. Yang penting sekarang semuanya bisa berjalan dengan teratur dulu. Seiring waktu kau juga akan menemukan perubahan mu sendiri."


Naruto memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Karena tidak nyaman membicarakan masalah kerja di luar kantor, Naruto akhirnya mengalihkan pembicaraan pada Shikadai.


"Oh ya, apa Shikadai sudah boleh minum teh?"

__ADS_1


"Belum Naruto, dia baru 4 bulan. Masih terlalu kecil untuk makan atau minum selain ASI"


"Ooh... Sayang sekali Shikadai." Naruto mencubit gemas hidung mungil Shikadai.


Naruto mengambil cangkirnya. Meminumnya sedikit karena ia kurang leluasa dengan tangan Shikadai yang sejak tadi berusaha merebut cangkir itu.


Naruto sungguh khawatir ocha panas itu akan tumpah dan mengenai Shikadai, karena sungguh, Ia juga sangat menyayangi anak itu.


"Seingat ku Shikadai masih seorang bayi. Ternyata sekarang sudah semakin lincah ya."


"Iya... Apa kau kerepotan Naruto?. Kau bisa memberikannya padaku." Temari mengulurkan kedua tangannya hendak mengambil Shikadai dari pangkuan Naruto.


"Tidak." Naruto tersenyum "Aku senang bersamanya, Temari. Dia sudah bisa mengangkat kepalanya sendiri, aku jadi lebih leluasa menggendongnya. Dia juga merespon saat kita mengajaknya bercanda ya, membuatku semakin gemas."


Shikamaru tersenyum. Tentu saja ia tahu bahwa Naruto sangat menyukai anak - anak.


Sebelum menjadi hokage, Naruto pernah menjadi guru part time di akademi. Disitu sangatlah terlihat jiwa Naruto yang sangat menyayangi anak - anak.


"Naruto, besok ada rapat dengan para daimyo yang harus kita hadiri. Apa tidak sebaiknya kau pulang dan beristirahat?"


"Tadinya aku juga ingin seperti itu. Tapi rumahku sepi sekali dattebayo. Aku jadi tidak bisa tidur."


"Huh... Kalau saja kau punya istri, kau pasti akan selalu menantikan waktu tidur."


"Woooaah... Benarkah?" Naruto menyeringai mesum dan Temari mencubit pinggang Shikamaru yang tertawa nyaring.


Naruto meminum ochanya kembali "Mungkin itu sebabnya Kakashi Sensei buru - buru mengusirku kalau aku berkunjung ke rumahnya."


"Tentu saja, mereka itu pengantin baru. Kau ini benar - benar perusuh ya, Naruto."


Naruto tertawa, begitu juga temari.


"Hmmm.... Aku suka ke rumah Iruka Sensei. Tapi sejak ada si bungsu Tenshi, dia sudah tidak pernah terlihat ingin mengusirku. Oh iya, aku juga akan segera menambahkan Sai dalam daftar ku."


Temari terpingkal - pingkal. Membayangkan Ino yang berteriak - teriak marah tapi Naruto hanya nyengir menghadapinya.


"Apa kau juga sering ke rumah Sakura?" tanya Temari sambil mengusap matanya yang berair.


"Tidak."


"Kenapa?"


Naruto tersenyum masam.


Bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya?. Aku begitu cemburu melihatnya bersama Sasuke dan begitu membenci diriku sendiri yang tidak dapat memilikinya.


"Sasuke nggak asik ttebayo. Dia itu tidak segan - segan mengaktifkan Eternal Mangekyo Sharingan miliknya di depan mataku."


Temari terbahak melihat wajah konyol Naruto. Bahkan Shikadai yang tidak tahu apa - apa juga tertawa begitu riang.


"Heei.... Apa kau pikir kami sedang menghiburmu, Nara kecil?". Naruto menciumi pipi Shikadai dengan gemas hingga membuat balita itu tertawa nyaring karena geli.


Naruto kembali meminum ocha miliknya yang sudah lebih hangat. Dan Shikadai masih terus saja meraih cangkir itu.


"Jangan Nara kecil, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."

__ADS_1


Tapi Shikadai masih terus saja meraih cangkir ocha itu meskipun Naruto sudah kembali meletakkannya di atas meja.


"Berikan ini padanya Naruto." Shiakmaru mengangsurkan cangkir ocha miliknya.


Naruto menerima cangkir yang isinya bahkan tidak sampai separuh itu.


"Tapi..."


"Berikan sedikit. Dia akan baik - baik saja"


Naruto melirik Temari yang menampakkan wajah cemberut pada suaminya.


"Kau yakin...?"


"Hiks.. Hiks.."


"Dia akan segera menangis Naruto."


Akhirnya dengan ragu - ragu Naruto meminumkan ocha itu pada Shikadai.


gluk...gluk...gluk...


Naruto menarik cangkir itu dari mulut Shikadai karena ia terlihat sudah berhenti meneguk.


Akan tetapi, bayi yang bahkan belum memiliki gigi itu menggigit cangkirnya.


"Hei... lihat aku tidak bisa menariknya." Naruto tertawa. "Dia benar - benar kukuh untuk menggigitnya."


Shikamaru tersenyum bangga. "Dia akan menjadi Shinobi yang teguh pendiriannya."


"Tentu..." Naruto mengusap dahi Shikadai yang kini mulai meneguk kembali "Kau adalah seorang Nara."


gluk...gluk...gluk...


"Aah..." Shikadai menatap wajah Naruto dan menampilkan cengirannya, membuat Naruto semakin gemas padanya.


"Kau merasa senang Shikadai?". Naruto mengusap kepala anak itu.


"Huaaam..." Shikadai menguap dan menggosok wajahnya di dada Naruto.


Sangat sebentar, Shikadai mulai memejamkan matanya. Temari mencoba mengambil Shikadai, namun bayi itu meronta, menolak untuk meninggalkan pelukan Naruto.


"Biarlah Temari. Nanti saja kalau dia sudah benar - benar tertidur." katanya sambil menepuk - nepuk punggung Shikadai.


"Maaf ya Naruto. Jadi merepotkanmu"


"Tidak, aku justru senang melakukannya."


"Naruto, kau tampaknya sudah cocok menjadi ayah. Bukan begitu, sayang?" Temari mencari dukungan.


"Hmm... Itu benar."


"Kapan kau akan menikah Naruto?. Berkeluarga itu menyenangkan. Apalagi jika kau sudah memiliki anak, kau tidak akan lagi merasa kesepian."


Naruto hanya tersenyum tipis kemudian menundukkan wajahnya sambil menepuk - nepuk punggung Shikadai.

__ADS_1


Shikamaru mengerti dengan jelas, bagaimana tercubitnya hati Naruto.


Bisakah Naruto memikirkan pernikahan untuk dirinya sendiri, sedangkan hatinya begitu tertawan oleh cintanya pada sakura yang sekarang telah menjadi istri dari Uchiha Sasuke. Sahabat karipnya.


__ADS_2