
Sebelum membaca, saya ingin mengingatkan.
Naruto adalah milik Masashi Kishimoto Sensei.
Nama , latar dan karakter tokoh adalah milik beliau.
cerita ini murni fantasi saya.
Beberapa hal mungkin saya ambil dari cerita Naruto yang asli,
Namun banyak hal juga adalah karangan saya.
Selamat membaca 😉
***
"Selamat datang..."
Suara Ayame yang riang menggema dalam kedai yang kebetulan sedang sepi itu. Senyuman terulas di sudut bibirnya demi menyambut pelanggan yang datang.
"Wah... Naruto-kun, Hinata-chan! Sudah lama sekali ya..." Sapanya dengan semangat.
"Hahaha... Yah begitulah Ayame-nee. Aku sedikit sibuk akhir - akhir ini."
"Hmmm... Menjadi Hokage memang berat ya." Ayame tertawa, begitu juga dengan Naruto. "Ayo silahkan duduk."
Naruto dan Hinata memilih kursi paling depan. meja panjang yang berhadapan dengan pantry kedai itu.
"Kenapa sepi sekali Nee-chan? Tidak biasanya. Kemana Paman Teuchi?" Naruto memanjangkan lehernya, mencari pria tua yang ia maksud.
"Touchan sedang tidak enak badan, jadi aku memintanya untuk istirahat. Kalau Iruka-san baru saja pulang, mungkin masih membersihkan diri."
"Aah... Begitu ya. Lalu Tenshi? Biasanya dia selalu disinikan?"
"Ada di kamar Hiruma, sedang tidur."
"Masih sore begini sudah tidur?"
"Iya... karena tidak tidur siang jadi masih sore sudah mengantuk."
"Uuh... sayang sekali ya, padahal aku ingin bertemu dengannya. Kangen dengan ocehannya yang suka menasehati ku, seperti orang tua." Hinata tersenyum mengingat putri Ayame yang masih berusia 3 tahun.
"Karena Hinata bilang begitu, sekarang aku jadi merindukannya juga. Teringat mulut kecilnya yang terus mengomel ini dan itu."
Mereka tertawa sambil mengingat tingkah lucu Tenshi.
Dahulu Tenshi memang lambat berjalan, tapi ia sudah bisa bicara lebih awal dari teman sebayanya. Sekarang Tenshi tumbuh sebagai anak yang cerewet. Entah siapa yang ia tiru, setahu Naruto baik Ayame ataupun Iruka bukanlah orang yang banyak bicara. Tapi Tenshi, gaya bicaranya yang seperti orang tua membuat banyak orang gemas padanya.
"Sebenarnya Tenshi sering sekali menanyakan kapan Naruto-nii nya akan datang. Pernah sekali waktu dia sampai menangis, dia mengira Naruto nii lupa padanya dan tidak mengingat jalan ke rumahnya. Karena sulit dibujuk, akhirnya Iruka-san mengantar Tenshi ke rumahmu, Naruto-kun."
"Heee... Benarkah?"
"Hu'um... Setelah melihat sendiri rumah Naruto-nii nya kosong dan gelap, akhirnya Tenshi mau mengerti bahwa Nii-san nya sedang bekerja keras."
"Tenshi-chan..." Hinata sungguh terharu dengan cerita Ayame "Naruto-kun sangat beruntung disayangi begitu besar oleh anak sebaik Tenshi."
"Unnn... Aku tidak menyangka Tenshi merindukanku sampai seperti itu."
Ayame tersenyum tulus. Jujur saja dia sendiri tidak tahu kenapa anaknya begitu menyayangi Naruto.
"Ayame-nee, tolong jangan ceritakan pada Tenshi kalau hari ini aku datang. Aku tidak ingin dia kecewa. Hari minggu nanti ijinkan aku membawa Hiruma dan Tenshi untuk jalan - jalan ke taman bermain."
"Ha'i... Tentu saja aku mengijinkan, Tenshi pasti akan sangat senang." Sebenarnya bukan hanya Tenshi, Ayame juga ikut senang mendengarnya.
"Yaaak... Aku sampai lupa menanyakan pesanan kalian. Maaf ya, aku malah membuat kalian menunggu lama."
"Jangan khawatirkan itu, Ayame-san. Kami senang bisa berbincang denganmu."
__ADS_1
"Hmmm... Kalau begitu aku pesan satu Miso Char Siu Ramen." kata Naruto.
"Aku juga, aku ingin porsi jumbo."
"Wah... Kau sangat lapar ya, Hinata."
"Hmm... Begitulah." Hinata tersenyum kecil.
"Bagaimana dengan minumnya?" Tanya Ayame.
Hinata terdiam sebentar, matanya melihat kearah papan yang biasa dipakai untuk menempelkan informasi promo.
"Sekarang ada Ume Syrup juga ya Ayame-nee?."
"Ya... Hanya untuk musim panas, Hinata-chan. Menurut Iruka-san, akan lebih baik jika kami menyajikan minuman dan makanan pelengkap musiman. Asalkan rasanya masih nyambung dengan ramen."
"Ooh... Itu ide yang bagus. Kalau begitu aku mau Ume Syrup."
"Baiklah... Kalau Naruto-kun?
"Aku Ocha dingin saja. Oh ya, aku mau extra telur untuk ramen ku dan juga 1 porsi Gyoza. Ramen ku porsi jumbo juga ya, Ayame-nee"
"Un baiklah..." Ayame bergumam lirih sambil terus menggoreskan pena pada notanya.
"Akan segera aku siapkan, mohon tunggu sebentar ya."
"Ha'i..." Hinata menganggukkan kepalanya dan membalas senyum ayame.
Suasana menjadi sepi sepeninggal Ayame. Sementara Naruto meletakkan jubah Hokage yang sudah ia lipat sebelumnya, Hinata justru menyibukkan diri dengan membaca brosur kecil yang di tempatkan pada kotak di meja itu.
Naruto hanya diam. Ia melihat dengan seksama bagaimana raut wajah Hinata yang begitu antusias. Padahal brosur itu hanya berisi menu baru Ume Syrup, Umeboshi dan jus semangka. Sesuatu yang sebenarnya sudah dilihatnya di papan tadi.
'Sangat cantik' Begitu pikir Naruto.
Kecantikan yang sangat sederhana. Hinata tidak perlu riasan tebal atau dandanan yang rumit untuk menjadikannya terlihat istimewa. Bagi Naruto, Hinata seperti air. Begitu jernih, polos, namun selalu cukup untuk menengkan hatinya.
"Oooh... Ada Hinata dan Naruto ya!" Kedatangan Iruka memecah keheningan itu.
"Hisashiburi desu, Hinata. Sepertinya sudah lama sekali ya kalian tidak datang berdua seperti ini."
"Begitulah, Sensei."
"Kalian pasti sangat sibuk. Naruto juga, biasanya kau pulang larut malam bukan?"
Naruto mengangguk "Seorang pemula harus bekerja lebih keras, Sensei."
Iruka tersenyum menatap wajah Naruto. Sejak kecil dia memang seperti itu. Walaupun dia bodoh dan selalu gagal, tapi dia selalu berusaha keras untuk menjadi lebih baik.
"Jaga kesehatanmu ya, Naruto."
"Ha'i...." Naruto tersenyum sambil membungkukkan badannya "Terimakasih banyak atas perhatiannya, Iruka Sensei."
"Heeiii... sudahlah." Iruka tersipu malu "Lebih baik sekarang kalian nikmati saja waktu senggang kalian. Aku tidak ingin mengganggu, lagi pula aku juga harus membantu Ayame mengerjakan beberapa hal."
Mereka hanya membalasnya dengan anggukan, lalu Iruka meninggalkan mereka menuju wastafel yang tidak jauh dari meja itu.
Mereka berdua masih memperhatikan Iruka yang menyampingi mereka. Pria itu mulai mengambil kain, mengelap mangkuk - mangkuk yang sudah dicuci Ayame namun masih berada di meja dengan posisi telungkup untuk meniriskan airnya.
"Hinata, kau sudah menerima undangan pernikahannya Sai?"
Hinata menolehkan kepalanya, beralih melihat Naruto. "Ya... Dari mana Naruto-kun tahu?"
"Kau mengatakannya di makam tadi."
"Sebenarnya sejak kapan Naruto-kun berada disana?"
"Hanya beberapa saat sebelum kau megucapkan selamat ulang tahun untuk Neji."
__ADS_1
'Berarti Naruto-kun mendengar semua yang aku ucapkan' Batin Hinata.
"Kenapa, Hinata?"
"Ti-tidak. Tidak apa - apa, Naruto-kun." Hinata tersenyum tipis kemudian ia mengalihkan pandangannya untuk menghindari Naruto.
"Jadi, boleh aku melihatnya?" Tanya Naruto dengan riang.
"Tentu saja." Hinata mengeluarkan undangan itu dari tas pinggangnya dan memberikannya pada Naruto.
Undangan yang bagus. Bagian atas berwarna bir muda. Bagian bawah berwarna hijau muda. Walau hanya goresan warna, tapi Naruto merasa itu adalah sebuah padang rumput di siang yang cerah.
Shimura Sai & Yamanaka Ino.
Tulisan itu tercetak hitam mengkilap. Naruto merabanya sebentar, lalu berkata "Sai akan merubah marganya menjadi Yamanaka setelah mereka menikah."
Hinata mengerutkan dahinya. "Kenapa begitu?".
Apa yang di ucapkan Naruto bukanlah hal yang lumrah. Biasanya setelah pernikahan, pengantin perempuanlah yang merubah marganya mengikuti marga suami, bukan sebaliknya.
"Shimura hanya nama yang diberikan Danzou. Sampai saat ini Sai masih tidak dapat mengingat dari mana dia berasal. Disisi lain, Ino adalah Shinobi berbakat yang namanya cukup kuat terdengar di Klan Yamanaka. Beberapa bulan lalu Ino ditetapkan sebagai salah satu calon pemimpin Klan generasi ke 16. Tapi hal itu tentu akan berubah jika Ino melepas nama Yamanaka. Jadi Sai memilih meninggalkan namanya agar Ino bisa mendapatkan posisi yang di inginkan nya."
Hinata tak menjawab. Pikirannya sudah berlarian jauh meninggalkan lidahnya.
Hinata mengerti mengapa Sai melakukannya. Shimura adalah masalalu yang kelam bagi Sai. Walaupun begitu Hinata yakin, Sai pasti sudah berpikir cukup dalam dengan keputusannya meninggalkan nama itu.
"Hinata..." Panggilan itu mengembalikan atensi si pemilik nama. Ia menatap Naruto yang ternyata sudah menatapnya terlebih dahulu.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Hinata menunggu Naruto tanpa ingin memulai ucapan apapun.
''Entah akan seperti apa, dimasa depan akupun pasti juga akan memiliki keluargaku sendi**ri' Naruto teringat ucapan Hinata beberapa saat yang lalu di makam Neji. Ucapan yang begitu mengganggu sejak ia mendengarnya.
"Apa kau juga akan menikah?".
Pupil Hinata melebar, gadis itu sampai menelan ludah saking terkejutnya dengan pertanyaan Naruto.
"A-aku..." Hinata bahkan tidak dapat melanjutkan kata - katanya. Gadis itu membuang muka karena tidak sanggup lagi menatap mata Naruto.
"Menikah..." Ucapnya lirih setelah terdiam untuk waktu yang cukup lama. "Karena sudah sering menghadiri pesta pernikahan. Kata menikah sepertinya sudah tidak asing lagi untuk ku." Hinata menjeda lagi.
" Tidak seperti Klan Yamanaka yang memilih pemimpinnya berdasarkan kemampuan individu, Klan Hyuga menentukan pemimpinnya melalui garis keturunan."
"Walaupun aku tahu pasti seperti apa jalan takdir yang harus aku lalui, sampai saat ini tetap saja aku belum bisa membayangkan bagaimana jika aku menikah."
"Yah... mungkin memang lebih baik seperti ini. Aku memasrahkan masalah ini pada Otou-sama. Tentu saja beliau tidak akan menyeret ku pada pria yang tidak baik bukan? Asalkan Otou-sama menyetujuinya, akupun akan mengikutinya."
Hinata tersenyum diakhir kalimat itu. Senyuman yang cukup lebar hingga kedua matanya menyipit.
Naruto memperhatikannya, tapi ia lebih dari memahami Hinata tentang mana yang benar - benar senyuman dan mana yang hanya kepalsuan.
"Kalau Naruto-kun sendiri bagaimana?"
Naruto menghela napasnya dalam - dalam setelah itu baru menjawab "Aku pernah ingin melakukannya, tapi tidak lagi dalam beberapa tahun ini."
''Ya... aku tahu, karena Sakura-san bukan?' Pikir Hinata.
"Untuk sekarang, aku hanya ingin fokus dengan pekerjaanku. Melindungi penduduk desa dan mensejahterakan kehidupan mereka. Aku pikir itu adalah jalan yang terbaik untuk ku lalui."
"Haaah...." tiba - tiba Hinata membuang napas berat. Ia memandang Naruto lagi, tepat di matanya "Menjadi dewasa itu sungguh tidak mudah ya, Naruto-kun."
Naruto mendengus lalu menarik senyuman
"Walaupun begitu, ayo tetap berjuang. Aku akan selalu mendukung Naruto-kun."
"Ha'i... Arigato na, Hinata-hime".
Mereka tertawa dan mengakhiri perbincangan berat malam itu. Memutuskan untuk menikmati Ramen dan minuman dingin mereka dengan perasaan gembira.
__ADS_1
Mereka tidak tahu, di ruangan itu ada yang menatap mereka penuh kecemasan.
Iruka yang sejak tadi mendengar perbincangan itu, memiliki firasat buruk untuk keduanya.