Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)

Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)
Chapter 5 : Yamanaka Floris


__ADS_3

Sore itu Yamanaka Floris tampak lenggang, dan Ino sangat mensyukurinya. Sebab ia bisa sedikit bersantai dengan teman - temannya.


Ia menuangkan ocha hangat untuk Sasuke, Sai dan Sakura. Kedua Pria itu sudah menyandarkan punggung di kursi sedangkan Sakura masih sibuk melipat undangan yang sudah mereka selesaikan.


"Tanganku pegal sekali." keluh Sai.


Ino tersenyum, tentu saja ia mengerti. Dibandingkan Sasuke, Sai menulis lebih banyak nama di undangan mereka. Dan Sai tentu saja tidak protes, ia cukup bersyukur Sasuke mau membantu meski terlihat tidak niat.


Ya... Ino dan Sai akan melangsungkan pernikahan beberapa minggu lagi. Sedangkan Pasangan Uchiha yang sudah berumah tangga selama 2 tahun itu memutuskan untuk membantu persiapan mereka di sela hari liburnya.


"Sudah selesai, aku harus meletakkannya dimana, Ino?" Tanya Sakura sembari memasukkan undangan - undangan itu kedalam kardus.


"Biarkan saja disitu Sakura. Nanti Aku akan memilahnya sesuai distrik alamat penerima. Sekarang lebih baik minum teh mu dulu selagi masih hangat."


Sakura menurutinya. Wanita itu segera meminum tehnya dan mengambil sepotong pie apel yang sudah disediakan Ino.


"Eemm... Ini enak." komentar Sakura. "Apa kau yang membuatnya?"


"Tentu saja tidak, aku membelinya di toko Bibi Mey."


"Huft... pantas saja. Lagi pula mana mungkin kau bisa membuat kue seenak ini."


Sai dan Ino tertawa, lalu masing - masing dari mereka mulai mengambil sepotong.


"Memang begitulah kenyataannya, jidat lebar. Lagi pula aku tidak membutuhkan pujian yang seharusnya milik orang lain."


Ting... Ting...


Suara lonceng - lonceng kecil yang sengaja digantung Ino di depan pintu menginterupsi obrolan mereka.


Tampak Hinata datang bersama seorang gadis kecil yang ino tafsir baru berumur 5tahun.


"Waaaah.....!!!" Gadis itu berseru senang, tampak sekali kekaguman dari binar matanya.


"Bunganya cantik - cantik ya Hinata nee-chan."


Hinata tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mengira anak kecil itu akan sangat menyukai bunga. Bahkan sejak masih di luar toko, Yui sudah sangat antusias dengan bunga - bunga yang ada disana



"Hinata-nee, apa aku boleh melihat yang ada di sebelah sana?" satu tangan kecilnya menggoyangkan tangan Hinata sedang tangan yang lainnya menunjuk ke arah kumpulan bunga Tsubaki.


"Tentu saja, tapi Yui-chan harus berhati - hati. jangan sampai menjatuhkan apalagi memecahkan pot yang ada disini."


""Hum...hum..." kepalanya mengangguk hingga beberapa kali "Aku janji nee-chan." dan ia segera pergi meninggalkan Hinata.


"Duduklah dulu, Hinata." Ino menunjuk satu diantara 2 kursi yang masih kosong di meja itu.


Hinata menerima penawaran itu, segera ia menyamankan diri bersama teman - temannya.

__ADS_1


"Tidak biasanya kamu datang kemari, Hinata-chan." tanya Ino sembari menuangkan teh dan mengambilkan sepotong pie untuk Hinata.


Hinata tersenyum malu, memang benar ia jarang sekali pergi berkumpul dengan teman - temannya sejak ia disibukkan dengan pekerjaannya sebagai pemimpin klan


"Ino-san, aku ingin meminta bantuan mu. Tolong buatkan aku satu buket bunga matahari, ya..."


"Mau mengunjungi makam Neji?"


Ino beranjak menuju meja kerjanya. Meja kecil dengan peralatan merangkai yang disusun rapi.


"Ya, begitulah Ino-san. Hari ini adalah hari ulang tahun Neji-nii."


Ino segera mengambil bunga matahari potong yang sudah di tata dekat meja itu, kemudian ia bertanya "Dahulu Neji memang sangat menyukai bunga matahari." ucapnya sambil mengingat wajah Neji kala mengunjungi toko bunganya dulu.


'Apa kau mau menambahkan bunga tertentu Hinata?. Misalnya Baby Rose atau Krisan?"



"Tidak. Hanya Matahari, Ino-san."


"Baiklah kalau begitu."


Hinata tersenyum, ia terus saja melihat Ino yang dengan cekatan menata bunga itu. Sampai pertanyaan Sakura menginterupsinya.


"Siapa gadis kecil itu, Hinata?"


"Cucu Daimyo? Bagaimana dia bisa bersamamu?"


"Emh... Saat dalam perjalanan mengunjungi Shino-kun tadi pagi, aku melihat ada sedikit keributan di depan Kantor Hokage. Sepertinya akan ada rapat, dan Yui-chan menangis karena tidak mau berpisah dengan kakeknya."


"Lalu?"


"Lalu karena akhirnya aku berhasil membujuknya, Hokage-sama memberiku misi menjaga Yui."


"Misi penjagaan? Lalu siapa pria itu?" kata Sasuke.


Mendengar ucapan itu, semua orang disana langsung memandang ke arah Yui.


Yui adalah cucu dari pejabat tinggi. Tentu saja insting mereka sebagai Shinobi terpancing siaga terhadap kemungkinan kejahatan pada gadis kecil itu.


Hinata diam sejenak, akhirnya ia mengerti kearah mana Sasuke memandang.


Di seberang toko, tepat di depan Yui yang sedang mengagumi berbagai warna Lily, tumbuh beberapa pohon sakura yang rimbun daunnya. Diantara Rerimbunan itu, ada seorang Shinobi yang tengah mengintai Yui.


"Yoshimaru-san adalah pengawal Yui-chan." Hinata tertawa kecil, berusaha menghilangkan suasana tegang. "Dia baru beberapa hari bekerja dan Yui-chan belum terbiasa olehnya. Ya... mau bagaimana lagi. Yoshimaru-san memang sedikit kaku."


"Ooh... Seperti Sasuke maksudmu?" Sai tersenyum tipis.


"Emh... yah, hampir seperti itu."

__ADS_1


Hinata tersenyum ragu melihat wajah sebal Sasuke, tapi mereka justru tertawa.


"Kalau memang sudah punya penjaga, untuk apa memberimu misi. Pemborosan." Ketus Sasuke.


"Anoo... Sebenarnya ini hanya misi kelas D."


Pyaar... Sai yang saat itu ingin meraih cangkirnya malah menjatuhkannya.


"Go-gomenasai." Sai segera berdiri dari duduknya dan mulai memunguti pecahan cangkir dibawah meja.


Benar - benar gila. Begitu pikirnya.


Sudah bukan rahasia lagi dalam 2 bulan terakhir banyak Jounin yang melakukan misi kelas D. Bahkan pernah ada seorang Anbu melakukan misi itu.


Ya... kalau di ukur kekuatannya, Hinata belum tentu bisa mengalahkan Anbu yang di maksud Sai tadi. Tapi mengingat status Hinata adalah pemimpin klan, apakah ini bukan penghinaan?.


"Hinata, kau menerima misi kelas D?" dari nada suaranya, Sakura jelas tidak percaya.


"Ini keterlaluan Hinata, kamu seorang pemimpin Klan. Seharusnya kau tolak misi ini."


"Eemh... A-aku tidak bisa bertindak egois Ino-san."


"Egois? Egois dari mana Hinata?. Ini pelecehan namanya. Dulu saja dia yang masih Genin dan sangat payah berani untuk menolak misi kelas C dari Sandaime-sama. Lalu kenapa tidak dengamu?!!"


Mendengar suara Ino yang jelas penuh emosi, Hinata menelan ludahnya. Ia tersenyum kikuk. Entah kenapa rasanya jadi serba salah.


"Sayang... Tenangkan dirimu." Sai yang baru saja melempar pecahan cangkir ke tempat sampah mulai mendekati calon istrinya.


Pria itu tersenyum tipis sambil menggenggam jemari Ino agar emosinya dapat teredam.


Sakura pribadi mengerti, Ino masih kesal pada Naruto karena dia beberapa kali kebagian misi kelas C.


Sedangkan Sasuke mual, ingin muntah melihat perilaku Sai yang sok mesra dihadapan mereka.


"Hinata-chan, maafkan aku. Aku tidak bermaksud bertindak tidak sopan padamu."


"Ie..., jangan terlalu dipikirkan Ino-san." Hinata tersenyum, sungguh ia tidak sedikitpun merasa Ino tidak sopan padanya.


"Tapi Naruto memang benar - benar kacau ya..."


Sakura juga tersenyum.


"Sebenarnya aku mengerti, dibalik kekacauan ini ada niat baik Naruto untuk kelangsungan para Shinobi. Misalnya saja soal Yui, dia bisa saja memerintahkan satu tim Genin untuk mengajaknya bermain. Tapi daripada itu, bukankah lebih baik mereka melakukan misi yang lebih besar? Memberikan mereka kesempatan untuk menjadi Shinobi yang kuat adalah hal yang penting."


"Hmm... Naruto memang seperti itu, kan? Dia selalu memikirkan setiap orang".


"Tapi tetap saja aku kesal padanya Sai-kun!" Ino yang tadi nya mulai melunak mendadak emosi lagi. "Aku sudah bekerja keras sampai di titik ini, kenapa harus melakukan misi sialan ini lagi"


Sai tertawa, karena begitu gemas, Sai akhirnya memeluk Ino dengan erat. Menyaksikan pemandangan yang hangat itu, Sakura dan Hinata juga ikut tersenyum. Mereka turut bahagia melihat Ino yang begitu dicintai oleh Sai.

__ADS_1


__ADS_2