Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)

Penantian Dan Perasaan (Naruto X Hinata)
Chapter 8 : Bersamanya


__ADS_3

Hinata menghapus air matanya. Ia bahkan masih terisak saat menghirup napas dalam - dalam demi menenangkan dirinya.


"Ambilah."


Hinata benar - benar terkejut. Begitu terlihat raut kepanikan saat ia menolehkan kepalanya ke belakang.


Hinata tidak mengira akan ada pria jangkung berambut kuning yang mengulurkan sapu tangan padanya.


"Na.. Nanadaime-sama!! Apa yang anda lakukan disini?."


Naruto tersenyum tipis "Menemanimu, menemuinya."


Hinata mengikuti arah pandang Naruto yang tertuju pada nisan Hyuga Neji sebelum akhirnya ia menerima saputangan itu.


Hinata mengusap wajahnya hingga ia rasa cukup bersih, kemudian ia mengelap hidungnya yang basah karena ingus yang keluar bersama air matanya.


"Terimakasih, Hokage-sama." Hinata melipat saputangan orange itu. Kemudian memasukkan ke tas pinggangnya. "Saya akan segera mengembalikannya."


Naruto mendengus.


Sejujurnya Naruto memang belum terbiasa dengan sikap Hormat yang ditujukan padanya. Akan tetapi ia berusaha menerima, meskipun terasa mengganjal jika sikap hormat itu berasal dari orang terdekatnya.


Tapi entahlah, ia sungguh benci jika Hinata yang terlalu formal padanya. Rasa benci yang sulit untuk ditahan.


Naruto benci sikap hormat Hinata saat mereka berada di tengah lingkungan pekerjaan, apalagi jika mereka hanya berdua seperti ini.


Naruto merasa asing dan jauh dari rasa nyaman yang biasanya selalu hadir di antara mereka.


"Hinata, ayo kita pulang."


Naruto mengulurkan tangannya lalu Hinata menengadahkan kepala memandangnya.


Mata mereka saling berpandangan, Hinatalah yang memutusnya dengan menerima uluran tangan pria itu. Namun siapa sangka, Naruto menariknya cepat. Membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya.


"Yaaaakk...!!" Hinata memekik kecil ketika tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Naruto.


"Ho-Hokage sama!!. Ke- kenapa? Kenapa anda.."


"Maafkan aku, Hinata-chan." Naruto memotong kegugupan Hinata.


Naruto mengeratkan pelukannya. Suaranya yang bergetar menyadarkan Hinata bahwa pria di hadapannya ini jatuh sekali lagi pada penyesalan yang sama.


"Maaf untuk apa?"


"Untuk semuanya, untuk semua hal yang menyakitimu. Karena aku tidak bisa melindungi mu dengan baik. Karena aku kita kehilangan Neji dan karena hingga saat ini aku belum bisa melakukan apapun untuk merubah Hyuga seperti janjiku pada kalian."


Hinata terdiam. Jantungnya berdebar cepat tanpa bisa ia kendalikan. Ia bahkan takut Naruto bisa mendengar degup itu, yang seolah meronta ingin keluar dari rongga dadanya.


"Hokage-sama, tolong jangan berkata seperti itu."


Hinata melerai pelukan mereka. Gadis itu menatap mata Naruto. Menyelami mata birunya yang seteduh samudra.


Ada air mata yang menggenang disana, berusaha bertahan untuk tidak jatuh. Hinata tersenyum tipis, berusaha menghibur kesedihan pria di hadapannya. Meskipun sebenarnya matanya sendiri juga mulai memanas kembali.

__ADS_1


"Aku menghargai keputusan Neji-nii untuk gugur demi melindungi kita. Bahkan sekalipun, aku tidak pernah berfikir bahwa Hokage-sama adalah penyebab dari segala kesedihanku."


Naruto merangkum wajah Hinata dengan kedua telapak tangannya, menghapus setetes air mata yang jatuh di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.


"Neji-niisan selalu mengingatkan ku, bahwa sekeras apapun kita berusaha, akan selalu ada masanya kita tidak dapat meraih sebuah impian meskipun itu hanyalah suatu hal yang sangat sederhana. Tentang Hyuga, aku memang belum berhasil mewujudkannya. Tapi aku belum menyerah, dan tidak menjadi sedih karenanya "


"Hokage-sama sudah berjanji tidak akan menyalahkan diri sendiri atas kepergian Neji-niisan. Jadi, tolong jangan lagi meminta maaf, Hokage-sama."


Naruto tersenyum, tapi air matanya jatuh bersamaan dengan senyum itu. Hinata menggenggam kedua pergelangan tangan Naruto. Menurunkannya dari wajah gadis itu.


"Arigato, Hinata."


Hinata tak menjawab, ia tersenyum sambil sesekali menghapus air matanya yang berjatuhan dengan tangan kanannya. Sementara itu ia membiarkan Naruto menggenggam tangan kirinya erat.


mengalirkan perasaan hangat diantara keduanya.


membawa ingatan mereka pada 10 tahun silam. Saat kematian Neji dan saat gadis itu meneguhkan hatinya yang runtuh ditengah kejamnya peperangan.


***


Hinata melangkah pelan. Pandangannya tak lepas dari tangan kirinya yang masih di genggam erat oleh Naruto.


Ia hanya terdiam melihat kedua tangan yang saling bertautan.


'Kami-sama, bisakah untuk ku tetap terus seperti ini?. Berada di sisinya dan menggenggam tangannya. Bisakah untuk ku berakhir bahagia bersama dia?'


Tapp...


"Ma-maaf."


"Hinata, kau baik - baik saja?"


"Uunn..." ia menganggukkan kepala.


"Sungguh?. Apa ada yang sakit."


"Ti-tidak!" Hinata bersemu malu "ini sama sekali tidak sakit"


"Bukan itu maksud ku" Tentu saja benturan tadi tidak mungkin terasa sakit.


"Aku mengajakmu bicara sejak tadi, tapi sepertinya kamu melamun. Apa terjadi sesuatu?"


"Maaf." Hinata menunduk lagi. "Hanya ada beberapa hal yang sedang ku pikirkan. Tapi itu bukan masalah besar."


"Sungguh?"


"Un..."


"Kau tahu bukan, kau bisa kapan saja meminta bantuanku jika kau mengalami kesulitan."


"Tentu, jangan terlalu khawatir. Aku pasti akan mengandalkan Naruto-kun."


Naruto tersenyum sambil mengacak poni tebal Hinata. "Baguslah"

__ADS_1


Naruto meraih jemari Hinata lagi kemudian melanjutkan perjalanannya. "Jadi bagaimana ttebayo?"


"Hah? Apa yang bagaimana, Naruto-kun?"


"Neee... Jadi tadi aku benar - benar bicara sendiri ya?" Naruto tergelak dan Hinata menunduk malu.


"Apa kau mau makan malam bersamaku?" Naruto mengulanginya "Satu jam lagi aku akan kembali ke kantor, ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Aku mungkin akan pulang larut lagi. Jadi kupikir aku harus makan malam lebih awal jika tidak ingin melewatkannya."


"Tidak boleh!" Hinata menjawabnya cepat "Naruto-kun harus makan teratur agar tidak sakit."


Hinata cukup tahu. Naruto sering melewatkan waktu makan sejak ia sibuk dengan pekerjaannya sebagai Hokage. Shikamaru bahkan tak menyangka Naruto akan sangat giat bekerja mengingat perilakunya saat masih muda dulu.


"Apa Naruto-kun ingin ke Ichiraku?"


"Un... Sudah lama aku tidak makan Ramen."


"Aku juga, terakhir kali mungkin sudah 3 bulan yang lalu. Uh... jadi tidak sabar ya, Naruto-kun!."


Naruto jadi tertawa dan ia mulai mempercepat langkahnya.


Dulu pertama kali Naruto mengajak Hinata ke Ichiraku, alasan utamanya adalah karena ia tidak memiliki cukup banyak uang untuk pergi ke YakiniQ, rumah makan kesukaan Chouji.


Tapi Naruto benar - benar tidak mengira jika Hinata akan sangat menyukainya. Sekarang, gadis itu bahkan sudah menjadi penyuka ramen seperti dirinya.


***


Hai.. Hai...


Apa kabar Minna-san...?


Senang sekali sekarang bisa melanjutkan fanfic ini.


Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu bahwa Penantian dan Perasaan pertama kali saya tulis di ffn.


Fanfic ini sudah mangkrak selama 5 tahun, sejak saya menikah dan saya meminta maaf untuk hal itu.


Penantian dan Perasaan tidak tamat di ffn, dan saya menulis ulang fanfic ini di nt, berharap bisa menamatkannya di nt juga.


kenapa di nt? karena menulis di sini sangat mudah. Simpel, nggak ribet. Jauh lebih mudah dari pada menulis di ffn.


Untuk isinya, mungkin akan ada banyak perubahan. Saya berusaha memperbaiki Penantian dan Perasaan agar layak menjadi fanfic favorit kalian.


Kalian yang pernah mampir untuk membacanya di ffn pasti tahu, Penantian dan Perasaan cukup ramai dukungan disana.


Meskipun disini sangat sepi, saya senang ketika melihat banyak pembaca mampir melalui data statistik.


Saya maklum untuk mendapat silent reader, karena tentu sudah banyak pihak yang kecewa di ffn dulu.


Terimakasih untuk yang sudah like, komen, favorite dan vote.


Terimakasih banyak untuk para reader yang sudah mau datang lagi membaca fanfic ini kembali.


Saya masih menantikan dukungan, kritik dan saran kalian 'Dattebayoooo...' ;)

__ADS_1


__ADS_2