
"Hinata, Bagaimana bisa kamu merasa egois?"
Hinata menyudahi pandangannya pada pasangan romantis, ia beralih melirik Sakura yang ternyata masih penasaran dengan alasan itu.
"Emm... Tiba - tiba saja aku teringat Chouji-san. Dia itu baik sekali ya, hatinya juga sangat tulus. Dia bersedia menerima banyak misi kelas C dan mengerjakannya dengan sungguh - sungguh. Kalau aku harus menolak misi ini, rasanya sangat malu dengan diri sendiri."
"Tapi misi kelas D itu lebih rendah dari pada misi kelas C, Hinata."
"Hahaha... tentu saja aku tahu itu, Sakura-san. Tapi karena melihat Yui-chan yang menangis, entah kenapa aku merasa harus melakukannya. Lagi pula Yui-chan tidak nakal. Dia membuat Shino-kun banyak tertawa saat kami menjenguknya. Saat aku melatih Mirai-chan, Yui mau menunggunya dengan sabar. Dan dia juga tidak takut pada Otou-sama ku yang galak itu." Hinata tertawa kecil sambil mengingat Yui yang dengan berani meminta Hiashi mememanjat pohon persik untuknya.
"Tck, Lagi pula kalau si dobe itu yang memintanya, kau pasti sangat sulit untuk menolaknya kan?"
Bluuush....
Semburat merah memenuhi kedua pipi hinata, mengundang tawa untuk teman - temannya.
"Bu-bukan begitu, Sasuke-san."
Mereka tertawa, membuat Hinata semakin merasa malu.
"Tidak disangka ya, bahkan Sasuke-kun bisa menilai seperti itu." kata Ino.
"Kalau Hinata-san, memang sangat sulit menyembunyikan perasaan ya..." Tambah Sai.
Tidak tahan dengan godaan mereka, Hinata akhirnya pamit untuk menemani Yui melihat - lihat bunga.
Saking malunya Yui sampai tidak berhenti menanyakan wajah Hinata yang memerah.
***
"Arigatou, Ino-san. Neji nii-san pasti akan sangat menyukainya."
Hinata menerima buket dari Ino dengan senang hati. Untuk sesaat, Hinata menatap buket itu.
Jauh lebih cantik dari yang aku kira, begitu pikirnya.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya, Hinata."
Hinata tersenyum, kemudian ia beralih pada Yui yang sedang duduk sambil menghabiskan pie apel di meja yang di duduki Hinata tadi.
"Yui-chan, kita harus segera kembali."
"Uuuh... Tapi aku ingin sepotong lagi Hinata-nee."
Hinata meringis malu, bagaimana cara menjelaskan pada Yui bahwa tidak sopan menghabiskan kue itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pergi membeli kue."
"Ie.... Aku tidak mau membeli kue Nee-chan. Aku tidak mau sebanyak itu, aku hanya ingin sepotong lagi."
Hinata mendelik. Bukan, bukan karena jawaban Yui, tapi karena Uchiha Sasuke.
Sasuke tersenyum melihat tingkah Yui. Cukup singkat, namun senyum yang sempat tertangkap oleh pengelihatan Hinata itu, terlihat begitu dalam, teduh, tulus dan menggambarkan... kasih sayang?
Oh... Hinata bahkan ragu menilai orang seperti Sasuke memiliki senyum seperti itu.
Kemudian Sasuke berdiri, mengambil potongan pie terakhir dan meletakkannya di piring Yui.
"Cepat habiskan, dasar berisik!" ucapnya ketus.
Yui menggembungkan pipinya.
"Paman sangat menyebalkan." gerutunya sambil mengunyah pie.
Mungkinkah Sasuke-san menyukai anak-anak?.
Tanpa disadari, Hinata bahkan sampai memiringkan kepala dan menyipitkan matanya.
Tapi Sasuke-san tetaplah Sasuke-san. menyukainya atau tidak, kurasa ia tidak akan pernah menampakkan perasaannya dengan jelas, bukan?.
"Hinata, Hinata-san."
"Y-ya...Ada apa, Sai-san?."
Sai tersenyum tipis, ia tahu Hinata melamun tadi.
"Tadi siang aku ada keperluan di Distrik Klan Hyuga. Tidak seperti biasanya, gerbang mansion Hiashi-sama terbuka dan terlihat banyak orang yang sepertinya sangat sibuk didalamnya."
"Ooh.. Benar. Kami sedang membersihkan Mansion dan melakukan beberapa perbaikan."
"Jadi begitu ya. Tapi aneh sekali ya, padahal hari besar masih jauh. Apa mungkin kalian punya acara penting?."
Hinata terdiam. Bibirnya mengatup rapat. Entah mengapa tenggorokannya mendadak terasa kering, ia begitu enggan menjawab pertanyaan itu.
"Hinata, Kamu melamun?".
Hinata tersenyum tipis, lalu menggeleng sebagai jawaban untuk pertanyaan Sakura.
"Anoo... tanggal 15 nanti kami akan kedatangan rombongan Klan Otsutsuki dari Kiri Gakure."
"Pertemuan Klan?" Sasuke masuk ke dalam pembicaraan. "Kiri Gakure sedang Perang Dingin. Beberapa tahun terakhir tidak ada satupun Klan yang mengadakan pertemuan di luar desa. Mereka tidak ingin menjadi pihak yang dicurigai."
"Benar, tapi dimasa lalu Klan Hyuga dan Klan Otsutsuki memiliki ikatan darah."
__ADS_1
"Jadi maksudnya seperti arisan keluarga begitu?" tanya Ino.
"Tck..." Sasuke berdecak. "Mustahil tujuannya sesederhana itu."
"Memangnya apa yang salah dengan pertemuan keluarga?" tanya Sakura.
"Kiri Gakure sedang tidak aman. Melakulan perjalanan dengan rombongan keluar desa hanya karena arisan." Sai terkekeh sejenak. "Tentu aku sependapat dengan Sasuke."
"Anoo..." Hinata menjeda, membuat mereka semakin penasaran "Akan ada wacana perjodohan dalam pertemuan ini. Jadi pertemuan ini memang cukup penting untuk kedua Klan."
"Perjodohan? Ma-maksudmu rencana untuk menikah?". Tanya sakura dengan tidak percaya.
"Begitulah, Sakura-san."
"Perjodohan siapa Hinata? Apakah Hanabi? Hanabi akan menikah dengan siapa?"
Hinata tersenyum kecut. Melihat wajah Sakura yang bercampur antara sedih dan bingung membuat hati Hinata semakin sakit saja.
"Tentu saja itu perjodohan ku, Sakura-san. Aku akan menikah dengan putra dari pemimpin Klan Otsutsuki."
"Tidak...!" Sakura memekik. "Ini tidak mungkin bukan?. Hinata, kau tidak mungkin melakulan hal seperti ini."
"Sakura-san..." Lagi - lagi Hinata berusaha tersenyum, ia masih saja berusaha menutupi suasana hatinnya walapun semua manusia dewasa yang ada disana tidak dapat ditipu. Mereka tahu, Hinata tengah terluka.
"Pernikahan ini memiliki maksud dan tujuan yang baik untuk masa depan Klan kami. Lagi pula, aku juga sudah cukup dewasa untuk melakukannya."
Setetes air mata jatuh melewati pipi Sakura, namun perempuan Uchiha itu seakan tak memperdulikannya.
"Jika kamu menikah dengan orang lain, lalu bagaimana dengan Naruto, Hinata?"
Hinata tahu ke arah mana maksud dari kalimat Sakura. Namun ia tidak ingin terseret ke arah itu.
"Sekitar 3 bulan yang lalu, Otou-sama sudah mengurus ijin pertemuan ini. Jadi kemungkinan Hokage-sama juga sudah mengetahui perihal perjodohan ini."
"Dan Naruto diam saja?" Ino menatap hinata tak percaya "Dia diam saja melihat hubungan kalian terancam kandas seperti ini?"
"Hu-hubungan?"
"Hinata, pasti terjadi kesalahpahaman pahaman dalam masalah ini. Naruto tidak mungkin diam saja Hinata. Naruto tidak mungkin menyerah begitu saja."
Hinata mengulas senyum tipis, lalu membelai lembut kepala Yui yang tengah mengelap bibirnya.
"Naruto-kun tentu tidak akan merasa keberatan. Kesalahpahaman itu tidak berada di antara kami, Sakura-san. Sepertinya kalianlah yang salah paham menilai aku dan Naruto-kun. Antara aku dan dia hanya ada hubungan persahabatan, tidak pernah sekalipun kami melewati batas itu. Aku pikir kami juga sudah sering menjelaskannya, bukan?"
Setelah penuturan panjang Hinata, pembicaraan itu pun terhenti. Menyisakan rasa tidak percaya dengan kadar yang berbeda - beda antara mereka.
Yui akhirnya bangkit dari duduknya, membuat Hinata begitu bersyukur bisa pergi dari suasana tidak nyaman ini.
__ADS_1
Setelah berterimakasih pada Ino, merekapun pamit. Pergi bergandengan dengan senyum yang terus bertengger di bibir Hinata karena menanggapi celotehan dari Yui. Senyum yang menjadi topeng tangisan dari hatinya.