Penantian Di Musim Semi

Penantian Di Musim Semi
Episode 9


__ADS_3

Setelah pertengkarannya dengan Naoki, Reina kembali ke tempat kejadian dimana ia dipermalukan dan mendapat luka di sikutnya.


Ia berinisiatif untuk membereskan meja yang berantakan kemudian membersihkan beberapa makanan yang berhamburan di lantai dengan sapu.


Meski sudah berulangkali diingatkan oleh petugas kantin, tetap saja Reina merasa harus bertanggung jawab.


"Gara-gara kalian, makanan enak ini terbuang sia-sia"


Gumam Reina kesal dalam hati.


"Pergilah dan obati lukamu terlebih dahulu."


Ujar salah satu petugas kantin yang khawatir dengan luka di sikutnya. Reina tersenyum dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Petugas kantin pun tak bisa berbuat banyak karena Reina tetap bersikeras.


Ketika Reina sedang sibuk dengan urusannya, teriakan tiba-tiba dari arah belakang, membuatnya kaget dan refleks menoleh.


"Mengapa kau masih ada disini? Bel masuk sudah berbunyi!"


Tomohisa sensei selaku guru PKS (Polisi Keamanan Sekolah) sudah siap dengan tongkat di tangan kanan untuk mendisiplinkan siswa-siswinya.

__ADS_1


Melihat Reina yang tidak ada respon dan terlihat biasa saja ketika melihat dirinya, sudah dipastikan dia murid baru, karena siapapun yang bertemu dengannya pasti akan lari menghindar.


"Apakah kau murid baru?"


Tanyanya pelan membuat Reina mengangguk mengiyakan. Melihat wajah Reina yang begitu anggun membuat Tomohisa sensei sempat terpana. Namun, langsung ia tepis ketika mengetahui istrinya sedang hamil 3 bulan di rumah.


Istri kau bunting di rumah wahai Tomohisa. Ada-ada saja kau ini. Tetapi sungguh, mengapa anak muda saat ini tampan dan cantik. Kau seharusnya tidak terburu-buru untuk lahir ke dunia :(


Tomohisa sensei menarik napas panjang dengan kasar membuat Reina kebingungan. Ia tidak tahu harus bersikap apa kepada guru yang baru saja ia temui ini.


"Sensei? Halo?"


"Ya cantik? Eh apa, maksudnya—"


"Hm?"


Reina heran melihat tingkah konyol laki-laki yang ia tebak sudah berkepala 4.


Jangan pasang wajah gitu, bikin ambyar!

__ADS_1


"Saya izin pergi dulu sensei, mari"


Ujar Reina sembari memegang sikutnya yang mulai memunculkan rasa sakit.


Reina berjalan menuju lift untuk pergi ke lantai 10. Selama di perjalanan, ia menahan kesal ketika mengingat kejadian yang amat menyebalkan hari ini dan tingkah konyol salah satu guru di sekolah ini.


Pintu lift tiba-tiba terbuka membuat Reina melangkah pelan dan bergeser beberapa langkah ke arah samping.


Pandangannya terpaku pada seorang laki-laki yang sudah mempermalukan dirinya beberapa saat lalu di kantin.


Sontak ia membuang muka, begitupun dengan Naoki yang begitu acuh dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.


Lift kemudian berjalan. Reina berusaha sekuat tenaga untuk menghindar dari laki-laki kurang ajar itu. Beberapa tetes darah mengotori baju seragamnya meski ia sudah berusaha membersihkan.


Naoki melirik kearah Reina beberapa kali membuat Reina memberikan tatapan tajam mengintimidasi.


Apa lihat-lihat?!


Meski tidak mengatakan hal itu secara langsung, namun terlihat jelas dari eskpresi wajahnya bahwa ia sedang tidak ingin diusik oleh Naoki di dalam lift. Apalagi hanya ada mereka berdua di sana.

__ADS_1


Naoki memutar bola matanya jengah kemudian menatap lurus pandangan ke depan. Denting lift berhenti di lantai 10. Keduanya berjalan keluar bersamaan.


__ADS_2