
Naoki duduk di sofa ruang pribadinya sambil memainkan bola kasti yang ia lemparkan ke arah dinding, mencoba untuk mengalihkan perhatian. Namun, tetap saja pikirannya kembali kepada perempuan itu.
Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Melihat gadis itu, benar-benar membuatnya di luar kendali. Gadis itu tidak seperti gadis lainnya yang hanya menyukai wajahnya saja. Bahkan mereka tidak peduli jika dirinya dibully satu sekolah atau dipermalukan karena tindakannya terhadap Naoki.
Tetapi, gadis satu ini berbeda. Nyalinya cukup besar untuk tetap berseteru dengannya. Bahkan ia seperti mendeklarasikan perang dengannya.
Alis naoki bertaut, matanya tajam ke depan. Hari ini ia dibuat badmood dengan satu perempuan. Ia mencoba memikirkan bagaimana caranya membuat gadis itu menyerah padanya.
Satu pertanyaan yang masih ada di otaknya adalah, bagaimana bisa gadis itu tidak menyukainya? Apakah ketampanannya benar-benar buta di mata gadis itu?
Menyebalkan sekali.
"Reina Asha Nadine"
Ujarnya yang kemudian menghempaskan bola kasti dengan kasar. Bola itu mendarat tidak tenang sehingga mengenai guci antik Qianlong yang beberapa waktu lalu ia dapatkan dari London setelah memenangkan pelelangan.
Dengan harga yang murah, hanya 20 juta euro atau sekitar 612 miliar tak membuat Naoki resah. Meskipun ia harus mengeluarkan uang untuk barang kecil tidak akan membuat Naoki kehabisan uangnya. Bahkan tidak sampai 7 turunan.
CEKLEK
Suara knop pintu terdengar jelas di telinganya, Naoki menoleh untuk melihat siapa yang datang. Kemudian, pandangannya kembali teralihkan ke depan ketika mengetahui sosok Ryuji dari balik pintu.
"Naoki kau—"
__ADS_1
Ryuji masuk dengan suara terengah. Ia melihat pecahan guci yang berserakan di lantai. Pandangannya kemudian beralih kepada laki-laki dingin yang duduk di sofa, terlihat jelas bahwa laki-laki itu sedang tidak bercanda.
"Panggilkan petugas kebersihan untuk membereskan semuanya. Aku akan menelepon Nona Philomene untuk mencarikan guci baru di Perancis"
"Naoki, kita perlu bicara."
"Aku tidak ada waktu untuk membicarakan hal tidak penting."
"Look, at me!!" kali ini, nada bicara Ryuji sedikit meninggi.
Naoki bangkit tak acuh menuju jendela dan mengeluarkan ponselnya. Mencari nomor Nona Philomene dari daftar kontaknya.
"Baiklah. Kita akan bicara setelah aku menghubungi Nona Philomene." ujarnya pelan, memberikan penekanan di setiap katanya.
(Halo)
"Bonjour, Naoki"
(Halo, Naoki)
"Comment ça va?"
(Bagaimana kabarmu?)
__ADS_1
"Ça va très bien, merci. Et vous?"
(Ini berjalan sangat baik, terima kasih. Bagaimana denganmu?)
"Ça va, merci."
( Ya, tidak apa-apa, terima kasih)
Mereka berbincang cukup lama di telepon, membahas masalah gucci baru. Ryuji yang merasa diabaikan memilih untuk mengambil minuman dingin yang berada di dalam kulkas. Ia juga merasa lelah karena mengejar Naoki.
"Bonne journée."
(Semoga harimu menyenangkan)
"OK. Moi aussi, Bonne journée."
(Baiklah. Semoga harimu juga menyenangkan)
Naoki kemudian kembali berjalan ke arah Ryuji dan mengambil paksa minuman yang berada di tangan laki-laki itu. Ia meminumnya dengan pandangan melamun, membuat Ryuji tidak mengerti atas perubahan sikap dari temannya ini.
Naoki masih terdiam. Pikirannya berkecamuk. Kembali bertanya-tanya, mengapa sahabatnya ini sangat membela gadis itu. Bahkan, sampai bertengkar untuk masalah yang menurutnya kecil dan tidak seberapa itu.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba petugas kebersihan datang untuk membersihkan pecahan gucci yang berserakan. Mengetahui bahwa keadaan di sini tidak kondusif, ia mengajak Ryuji untuk pergi ke rooftop. Ryuji hanya terdiam kemudian mengikuti sahabatnya itu dari belakang.
__ADS_1