Penantian Di Musim Semi

Penantian Di Musim Semi
Episode 15


__ADS_3

Malam ini langit makin gelap tanpa mendung. Banyak orang jatuh cinta pada malam. Mungkin karena bulan sabit yang manis, atau bulan sabit yang mistis. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu menghiasi langit indah.


Malam ini ada kesejukan yang nyata. Bintang dan rembulan menyambut dengan sinarnya.


"Lukanya sudah diobati. Kau tak perlu khawatir." ujar Dominica, sang ibu yang kemudian membereskan perlengkapan P3K.


"Sudah ayah katakan, kau jangan ceroboh. Apakah hidup tenang dan menyelesaikan pendidikan di sekolah itu adalah hal yang berat? Ayah rasa kau sudah dewasa dan mampu berpikir lebih kritis, Reina."


Ryota sakamoto, sang ayah ikut berbicara dengan pandangan menatap fokus ke arah koran. Sang istri menepuk bahu suaminya pelan agar tidak ikut campur dan memperburuk keadaan.


Kalau saja boleh memilih, ia juga tidak ingin hal ini terjadi. Siapa sangka, sekolah elite nomor satu di Jepang masih melakukan perundungan. Apalagi terhadapnya yang notabene adalah seorang nurid baru. Ia bahkan belum menoreh catatan masalah atau kriminal terhadap salah satu murid yang ada di sana. Tetapi, mengapa hari ini ia merasa sial sekali.


Belum lagi ia terkena omel ayahnya yang cenderung menyalahkan dirinya karena berbuat masalah. Reina benar-benar kesal dengan keadaan dan kesal dengan dirinya sendiri yang tidak melawan.


"Kembalilah ke kamarmu" ujar sang ibu tanpa bantahan sedikitpun dari Reina.

__ADS_1


Dentuman terdengar dari pintu yang dibanting keras. Reina berjalan ke arah balkon kemudian duduk sembari memakan sandwich dengan selai blueberry dan teh hangat yang menemani. Ia memakai jaket hoodie yang digunakan untuk membantu melindungi diri dari dinginnya udara malam.


Ia menikmati rembulan yang bersembunyi di balik awan dengan perasaan campur aduk. Otak dan hatinya selalu saja berdebat.


Ia kembali mengingat mata itu. Mengingat di mana mata mereka bertemu.


Bagaimanapun ia tetap seorang perempuan. Tatapan mata berwarna coklat pekat itu mempesona. Matanya seolah berbicara akan sesuatu. Mata milik laki-laki—


PSIKOPAT!


Gerutu Reina kesal. Mengapa Tuhan menciptakan mata yang begitu indah menjadi milik laki-laki psikopat dan menyebalkan itu. Entah sudah berapa kali ia mengutuk laki-laki itu di dalam dirinya. Berbagai umpatan telah ia lontarkan kepada laki-laki yang bernama Naoki.


Reina berusaha membangun kepercayaan dirinya. Tidak mudah bagi Reina Asha Nadine untuk mengatakan kata menyerah. Ia kembali memikirkan sikap laki-laki itu tadi di kantin.


"Ada apa dengan sikapnya?"

__ADS_1


Apakah Naoki sedang bermain peran sebagai pria dingin, kaya, dan tampan seperti Gu Jun-pyo yang diperankan oleh Lee-Minho dalam serial drama Boys Before Flowers yang ia tonton beberapa waktu lalu itu?


"Tidak-tidak. Aku tidak miskin seperti Geum Jan-di sang tokoh utama perempuan."


APA YANG KAU PIKIRKAN REINA! MENGAPA DRAMA KOREA YANG KAU BAYANGKAN!


Jika bukan drama korea, apakah film barat, Mandarin, Thailand?


Reina sangat kesal saat ini, ia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi hari esok terhadapnya.


"Yang pasti Naoki sedang memerankan tokohnya sendiri dalam kehidupan ini. Kau memang benar-benar memiliki sikap dan sifat yang tidak bisa ditebak."


Belum lagi, kini ia bermasalah dengan anak kelas Fashion. Reina menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk, menarik selimutnya dan memutuskan untuk meringkuk lebih dalam kepada kehangatan ranjang.


Aku tidak peduli dengan hari ini dan orang-orang di luar sana yang membuat masalah denganku.

__ADS_1


...Lulus dengan tenang adalah tujuanku. ...


...Selebihnya aku benar-benar tidak peduli. ...


__ADS_2