
Zoe Emberly.
Seorang gadis manis keturunan inggris dan italia dengan ciri khas rambutnya yang keemasan seperti mentega ini sedang menikmati kaleng minuman dingin yang ada di tangannya. Tatapannya fokus keluar jendela kelas, memperhatikan beberapa siswa yang baru saja menyelesaikan pelajaran olahraga.
“Wah, aku tidak menyangka ternyata gadis itu sudah berani di hari pertamanya masuk sekolah,”
ujarnya kesal, membuang kaleng minuman itu hingga membasahi baju seragam seseorang yang ada di depannya. Perempuan dihadapannya kesal, tetapi tatapan Zoe tidak bisa dibantah membuatnya hanya diam dan menunduk.
“Jadi, kau akan bagaimana Zoe?”
Tamara, gadis berambut hitam pendek yang sedang memakan lollipop itu, angkat bicara. Risa yang sedang sibuk bermain dengan rambut Zoe menghentikan kegiatannya.
“Kurasa, gadis itu baik,” pernyataannya membuat Zoe menoleh dan memukul pelan kepala Risa.
“Kau bodoh atau bagaimana hah? Tidak ada perempuan yang baik jika hal itu menyangkut Naoki. Kau paham?!”
“Oke, dia jahat.”
“Aish, untung saja tidak aku pukul badanmu, Ris.” ucap Tamara kesal.
“Kita lihat saja, berapa lama ia akan bertahan. Salah sendiri berurusan denganku,”
__ADS_1
Zoe bangkit dari kursi dan menepuk seseorang dihadapannya.
“Heh, kau! Pimpin di depan.”
Zoe menarik baju gadis itu untuk bangkit. Ia pun akhirnya bangkit dengan badan bergetar ketakutan karena tekanan yang Zoe berikan. Ia lalu melangkah keluar kelas diikuti oleh Zoe, Tamara dan Risa.
Bel masuk berdering, semua siswa bersiap untuk mendapatkan materi pelajaran selanjutnya, tetapi berbeda dengan keempat gadis ini yang bersiap untuk membolos kelas.
Di tengah lorong, tiba-tiba mereka melihat seorang sensei yang sedang berjalan menuju ke arah mereka. Dengan secepat kilat, mereka berlari berlawanan arah untuk menghindari sensei tersebut.
Karena kebiasaan yang sudah sering mereka lakukan, untuk lepas dari para sensei bukanlah hal yang sulit. Kini mereka memakai mobil Haruka yang berada di basemen untuk bersenang-senang di mall.
Haruka terlihat kesusahan membawa banyak barang di tangan kanan dan kirinya. Peluh membasahi pelipis. Bajunya yang sedikit basah karena terkena minuman Zoe itu pun sedikit mengering.
Saat ini urat malunya sudah putus. Ia tidak bisa apa-apa terlebih jika sudah berhadapan dengan Zoe Kimberly. Gadis yang di incar seluruh penjuru Tokyo karena kecantikannya. Mungkin.
“Mengapa kau berjalan lambat sekali! Kau menghambat langkahku!”
“Ma-aaf, aku sudah berjalan secepat yang aku bisa.”
“Kau sudah berani melawanku, hah?!” tamparan keras mendarat, membuat pipinya memerah. Haruka meringis pelan menahan sakit di pipinya.
__ADS_1
“Jika kau berani melawanku lagi, akan aku jadikan babak belur di wajahmu itu. apakah kau mengerti?”
Tamara mengelus wajah yang sedang menahan tangis itu dan melanjutkan kembali langkahnya.
“Aku tidak mengerti, mengapa kau masih mempertahankan Haruka disisimu, Zoe.”
Tamara berdeham pelan di telinga Zoe. Ia mendengarnya, hanya saja ia berusaha mengabaikan pertanyaan yang entah sudah berapa kali ditanyakan oleh Tamara.
“Kau tidak apa-apa?”
Risa mencoba membantu mengambil barang bawaan yang terjatuh. Tangannya kemudian ditepis kasar oleh Haruka, membuatnya menarik napas panjang kemudian menghembuskan dengan kasar.
“Pantas saja Tamara sangat membencimu. Untung saja, Zoe masih mau menerimamu. Jika tidak, habislah kau di tangan Tamara,”
Sudut bibirnya sedikit terangkat, menampilkan senyuman yang meremehkan. Barang yang berada di tangannya kemudian dijatuhkan kembali hingga mengenai Haruka.
“Upps, sorry sengaja,”
“Risa! Ayo!” Teriak Tamara.
“Tunggu,”
__ADS_1
Haruka mengacak rambutnya kesal, ia menahan tangis. Sungguh ia tidak mengerti mengapa ia bisa sampai terjebak dalam posisi ini.
Tolong siapapun, bantu aku keluar dari lingkaran setan ini.