
"Kau—"
Naoki membuka suaranya. Reina menoleh sebentar.
"Hm?"
Pandangan mata Naoki kini beralih ke arah sikut Reina yang terlihat lemas. Terlihat kecemasan yang terpancar di wajahnya. Tetapi, Naoki tetaplah Naoki. Gengsinya kini lebih tinggi dari burj khalifa.
Tiba-tiba Naoki kembali terdiam membuat Reina kebingungan.
"Kau—"
Reina menatap Naoki dengan seksama. Memperhatikan dengan baik-baik kata apa yang akan diucapkan. Karena mungkin saja ia dapat melakukan kekerasan terhadapnya sekarang. Suasana sepi, kosong dan waktu yang tepat untuk balas dendam.
"Kau menghalangi jalanku! Minggir!"
Dan tanpa ampun laki-laki itu menyenggol bahunya kemudian berjalan kembali tanpa menoleh padanya sedikit pun.
Hal itu membuat Reina tidak habis pikir dengan sikapnya yang begitu dingin tanpa rasa empati dan kemanusiaan.
"Lu manusia atau setan sih?!"
Umpat Reina keras dalam hati.
Sesampainya di ruang kesehatan, Reina dibuat takjub dengan interior bergaya eropa klasik. Di dominasi warna putih dengan sentuhan warna coklat pada setiap bingkai-bingkai jendela menambah kesan karismatik.
Tidak terlihat seperti rumah sakit pada umumnya, tempat ini memang benar-benar di desain untuk anak sekolahan. Mirip dengan UKS hanya saja dokter dan segala fasilitas kesehatan diberikan semaksimal mungkin.
Bahkan dokter-dokter yang dihadirkan bukan sembarangan, sebagian dari mereka adalah lulusan dari universitas john hopkins dan universitas lain yang terkemuka.
Dokter yang bekerja di sini kebanyakan bekerja untuk perusahaan masing-masing anak yang bersekolah di sini, oleh karena itu mereka tidak setiap saat ada di sekolah.
__ADS_1
Kebanyakan dari mereka hanya datang beberapa kali untuk pemeriksaan kesehatan dan para dokter tetap bekerja di seluruh rumah sakit yang tersebar di penjuru kota Tokyo.
Fasilitas yang lengkap, dokter yang berkompeten dan tempat yang nyaman tidak membuat anak-anak di Tokyo Galaxy Gakuen melakukan hal semena-mena seperti membolos dan tidur di sini. Mereka terlalu takut mendapatkan nilai dan reputasi buruk.
Kecuali memang bagi mereka yang tidak perduli dengan semua itu.
Naoki berjalan memimpin di depan. Reina yang kewalahan dengan langkah lebar Naoki hanya bisa mengikuti dari belakang dengan jarak sekitar satu sampai dua meter.
Naoki berbicara kepada salah satu dokter yang ada di sana.
"Bisakah kita bicara—"
"Wait! Apakah kau terluka?"
Ujar seseorang berjubah putih dengan bau alkohol yang semerbak dengan refleks memegang pergelangan tangan Reina.
Reina sontak kaget ketika sang dokter memotong perkataan Naoki ketika melihatnya terluka. Reina menatap ke arah Naoki. Naoki terlihat kaget ketika tangan Reina di tarik oleh sang dokter.
Naoki yang merasa diabaikan hanya bisa diam dan mengikuti langkah dokter yang akan mengobati Reina.
Reina memperhatikan sang dokter bekerja begitu lihai mengobati lukanya. Meskipun hanya luka goresan kecil tetapi terlihat bahwa dokter itu begitu professional, mengobati luka sekecil apapun.
"Apakah kau habis berkelahi?"
Reina terdiam kemudian mengangguk mengiyakan. Naoki yang masih berdiri dengan tangan yang bersedekap mulai tidak tenang mendengar pertanyaan klasik itu.
"Lukanya tidak terlalu dalam, kau tidak perlu khawatir."
Reina hanya tersenyum mendengar nasehat dari dokter tampan di hadapannya.
"Seharusnya kau menjaga dia dengan benar,"
__ADS_1
Naoki yang merasa perkataan dokter untuknya angkat bicara.
"Aku? For what?"
"Kau laki-laki 'kan? Sudah seharusnya kau melindungi dia. Lihat, dia mungkin tidak akan terluka. Oh iya, tadi kau ingin mengatakan apa?"
Tanya dokter mengalihkan pembicaraan saat melihat wajah Naoki yang kemudian pucat pasi.
"Lain kali saja." ujarnya yang langsung melangkah pergi. Dokter dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkahnya.
Pasti saat pembagian akhlak itu anak dateng terakhir.
Gumam Reina kesal dalam hati.
"Dia terlihat khawatir padamu,"
Reina terdiam. Dokter terlalu banyak melihat darah dan luka, mungkin pandangannya jadi kabur setelah melihat naoki. Wajahnya bahkan lebih datar dari papan kayu.
"Apakah kau menyukai Naoki?"
Pertanyaan sang dokter membuat Reina membulatkan matanya.
"Dari tadi kau terus memperhatikannya."
"Nggak gitu konsepnya dok... Maksudnya—"
"Hahahaha mukanya santai dong.. Nggak usah tegang gitu. Naoki itu dingin tetapi hangat kok"
Dingin tetapi hangat? Jadi dia dingin atau hangat? Setengah mateng? Ah jangan ngadi-ngadi ya dok!
Reina hanya menjawab dengan senyum kikuk karena sulit memahami perkataan dari sang dokter.
__ADS_1
Bel pergantian pelajaran berbunyi membuat Reina buru-buru untuk kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya.