
Sesampainya di rooftop, mereka berdua masih tenggelam dalam kebisuan. Menikmati sedikit udara segar, sambil melihat pemandangan gedung-gedung tinggi, serta mendengarkan suara klakson yang terdengar bersahutan di bawah sana.
Pikiran Ryuji berkecamuk ketika melihat tingkah aneh Naoki. Bagaimana Naoki bisa begitu tenang ketika mengetahui guci antik itu hancur berkeping-keping dan dengan mudahnya mengatakan untuk meminta petugas kebersihan mengurusi semuanya.
Padahal yang ia tahu, Naoki amat sangat menyukai guci itu. Naoki bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk satu buah guci. Sekarang, ia memecahkan benda kesayangannya dengan tidak sengaja dan tentu saja seolah tidak peduli.
Tiba-tiba saja pikiran Ryuji untuk mencari alasan mengapa laki-laki dihadapannya ini bersikap aneh, berubah menjadi teringat kejadian pada saat di kantin.
Menurutnya, sahabatnya ini sudah sangat keterlaluan bersikap terhadap murid baru. Terlebih, dia adalah seorang perempuan.
"Apa yang kau lakukan tadi di kantin? Apakah kau sudah gila?"
Ryuji melontarkan pertanyaan dengan menggebu. Sedangkan Naoki hanya diam mendengarkan. Ia memandang wajah Ryuji sesaat, kemudian kembali fokus kepada satu titik dihadapannya.
"Ya. Aku gila."
Ucap Naoki datar dengan pandangan melamun. Ia tidak tahu harus mengeluarkan kalimat apalagi kepada sahabatnya. Hal itu benar adanya. Gadis bernama Reina benar-benar membuatnya gila.
"Dia bukan perempuan itu. Mengapa kau seperti ini?"
__ADS_1
"Aku tahu. Hanya ingin melatih mental saja,"
"Heh Amoeba!" Nada bicara Ryuji sedikit memekik. Ia tidak kuat hati dengan jawaban Naoki, sampai akhirnya memaki laki-laki itu.
"Kamu pikir ini ospek? Pakai melatih mental segala ha?!" ia melanjutkan perkataannya.
Naoki beralih menatap ryuji yang sudah siap siaga untuk memukulnya. Sebenarnya, ia juga takut dengan kondisi Ryuji saat ini. Terlebih mereka sedang berada di rooftop. Bagaimana jika Ryuji lepas kendali dan mendorongnya keluar dari pagar?
Naoki bahkan bergidik ngeri membayangkannya.
"Siapa suruh kau memaksanya masuk ke dalam kelasku?"
"Berhenti bersikap seperti ini. Pergi dan minta maaf padanya."
"Apakah menyukai gadis itu?"
"Stop Naoki! —
Kau mengalihkan pembicaraanku!"
__ADS_1
Ryuji mencoba mengendalikan emosinya. Napasnya yang tidak teratur terdengar jelas di telinga. Naoki menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.
"Ayolah, berhenti bertengkar hanya karena perempuan itu."
Naoki mencoba menenangkan Ryuji. Ia mencoba meyakinkan sahabatnya bahwa semua ini akan baik-baik saja dan menyuruhnya untuk tidak khawatir tentang perempuan itu.
Karena jika di amati lagi, gadis itu benar-benar kuat. Baik dari fisik dan juga mentalnya. Buktinya, ia mampu bertahan terhadap sikap Naoki yang benar-benar menyebalkan di hari pertamanya masuk ke sekolah ini.
"Kalau sampai ada masalah antara kau dan dia, akan aku laporkan kepada ayahmu bahwa kau masih berbuat onar."
Ancaman Ryuji benar-benar membuat Naoki terdiam. Ia kaget ketika sahabatnya berani bertindak sejauh itu. Ryuji yang biasanya tidak melawan, sekarang seperti memiliki tameng ketika memiliki hubungan baik dengan ayahnya.
Naoki benar-benar tidak tahu, apa yang harus ia lakukan dan memberikan alasan apalagi agar Ryuji menarik kata-katanya. Jika harus berurusan dengan orang tuanya, maka menghindar adalah pilihan.
"Berhenti menggigit kukumu, itu menyebalkan."
Naoki yang menyadari langsung menghentikannya. Beberapa saat kemudian, ia berjalan keluar rooftop. Entahlah, suasana hatinya memburuk dan dia ingin mencari udara segar atau—
mencoba menuruti perkataan Ryuji.
__ADS_1