
Untuk menuju kantin, mereka melewati beberapa ruangan di sekitar lorong. Mereka saling bertukar cerita. Reina menceritakan kejadian yang ia alami tadi pagi dan Ryuji bersemangat memberitahu Reina secara detail setiap ruangan. Bahkan ia juga menjelaskan fungsi dari masing-masing lantai gedung sekolah ini.
"Apakah tidak ada UKS?"
Reina penasaran karena sejak tadi Ryuji tidak menjelaskannya.
"Apa itu UKS?"
Terlihat raut wajah bingung darinya. Reina tidak kalah bingung ketika Ryuji balik bertanya padanya.
"UKS itu semacam ruang kesehatan. Setiap sekolah pasti memilikinya, bagaimana bisa sekolah ini tidak memiliki UKS?"
"Disini tidak perlu UKS"
Ryuji berkata dengan nada datar.
"Apakah semua orang di sini tidak pernah sakit? atau anak yang bolos? biasanya mereka memilih UKS sebagai markas mereka."
"Di sini tidak ada UKS. Karena, di sini ada rumah sakit. Rumah sakit berada di lantai sepuluh. Aku rasa kau sudah melihatnya sebelum pergi menuju kelas tadi pagi."
Reina yang mendengarnya berusaha menelan ludah. Ia masih terperangah mendengar jawaban dari Ryuji.
"Semua yang ada di sini adalah manusia, bagaimana mungkin tidak pernah sakit? semua murid memiliki satu dokter pribadi. Baik itu dokter bedah, umum, atau bahkan psikolog. Kau juga akan mendapatkannya sebentar lagi."
Ryuji yang mengetahui Reina masih bingung dengan apa yang barusan dikatakannya hanya bisa tersenyum.
"Sudah sampai. Ini kantin VVIP. Seperti yang sudah aku katakan tadi, bahwa setiap lantai memiliki kantin masing-masing.
Ada 3 kelas di lantai ini. kelas ini berdasarkan kecerdasan dan kemampuan masing-masing dari para siswa.
Kelasku ada di ruangan nomor dua dan kelasmu berada di ruangan nomor satu. Sisanya adalah para siswa transfer yang berada di kelas ruangan nomor tiga. Kau berada di puncak tertinggi karena berhasil masuk di ruangan nomor satu. Apakah kau sudah mengerti?"
Reina yang mendengarnya hanya mengangguk.
Ia mengamati setiap sudut kantin. Sungguh menakjubkan. Ini bukan kantin, melainkan Restoran Bintang 5. Ruangan yang begitu luas dengan beberapa meja dan kursi tertata rapi. Alunan musik klasik menguar di udara seperti mengingatkan agar menikmati makanan yang disajikan.
"Selamat datang tuan muda."
Sapa salah satu koki di sana. Ryuji tersenyum membalas sapaan.
__ADS_1
"Kau mau makan apa?" tanya Ryuji pelan.
Reina yang masih terpesona dengan susana dan dekorasi kantin mendadak mengernyitkan dahi ketika melihat menu makanan yang disediakan. Bagaimana tidak, makanan di sini tidak sesuai dengan perutnya yang sedang menabur genderang perang.
"Aku tidak bisa makan makanan ini Ryuji"
Bisik Reina pelan mengetahui masih ada koki yang memperhatikan mereka berdua.
"Mengapa?"
Ryuji kembali bertanya sambil menahan ketawa melihat wajah khawatir Reina.
"Bagaimana aku bisa kenyang hanya dengan daun selada?"
Reina menunduk. Ryuji sudah tak mampu menahan tawanya.
"Apakah ada takoyaki?"
"Maaf nona, tetapi di sini tidak menyediakan makanan berkarbohidrat tinggi."
Mata Reina sukses membelalak kaget.
"Tolong siapkan saja sashimi dengan ikan tuna segar."
Ryuji memberi perintah.
"Tetapi tuan—"
"Tidak masalah. Lagian tidak setiap hari. Aku akan menjelaskan kepadanya nanti."
"Baik tuan."
"Maaf, jika aku merepotkanmu,"
Reina membungkukkan badannya menyesal.
"Itu adalah hal yang wajar. Kau tinggal mengambilnya di meja menu makanan. Aku akan duduk terlebih dahulu." Reina mengangguk mengiyakan.
"Ini nona."
__ADS_1
Sang koki memberikan makanan yang telah siap. Reina menerima nampan makanan itu dengan sangat khidmat melebihi dari acara penobatan presiden dan diakhiri dengan senyuman.
"Itadakimasu."
Satu suapan lolos masuk ke dalam mulutnya. Ryuji memperhatikan dengan pandangan yang tidak bisa lepas dari perempuan di hadapannya.
WOAH BAGAIMANA BISA SELEZAT INI?
"Bagaimana? Lezat?"
"Apakah ini makanan dari surga?"
"Hahaha kau ada-ada saja. Kalau Naoki melihat sisi lain dari dirimu mungkin dia akan ikut tertawa."
Reina tersenyum kemudian kembali fokus terhadap makanannya.
"Reina, kau tahu mengapa respon koki di sini begitu terkejut ketika mendengar permintaanmu?"
Reina menggeleng.
"Itu karena di sini ada sistem diet. Mereka akan makan sesuai dengan anjuran dari dokter mereka masing-masing. Sebagian siswa di sini adalah pewaris perusahaan keluarga, jadi setidaknya mereka harus menjaga badan agar tetap sempurna. Itulah sebabnya koki itu terkejut."
Ryuji menjelaskan secara rinci.
"Apakah kau juga melakukan hal yang sama?"
Ujar Reina dengan mulut yang terisi penuh. Ryuji hanya mengangguk mengiyakan.
Reina menatap Ryuji sekilas. Tidak heran mengapa Ryuji memiliki badan yang bagus dan tinggi semampai.
Pasti ada beberapa roti sobek di balik bajunya.
Pikiran kotor Reina tiba-tiba terlintas begitu saja membuatnya hampir tersedak.
"Minum teh Dandelion ini. Teh ini dapat menjaga kesehatan pencernaan. Setidaknya dapat mengurangi bau mulut."
"Apakah sekarang kau meledekku?"
Reina mendengus kesal sedangkan Ryuji tertawa puas.
__ADS_1