Penantian Di Musim Semi

Penantian Di Musim Semi
Episode 11


__ADS_3

Entah mengapa, siang ini Reina merasakan kantuk yang amat sangat, terlebih saat pelajaran sastra yang tidak ia sukai.


Jangankan memperhatikan, kini matanya menangkap bahwa huruf-huruf di papan tulis sudah terlihat tidak teratur.


"Apakah ini karena efek teh dandelion? Ah tidak mungkin," ia mencoba berpikir positif dan berusaha menaruh kepercayaan kepada laki-laki yang baru saja ia ajak berkenalan beberapa jam lalu.


Tok tok


Pandangan Reina teralihkan ketika mejanya di ketuk pelan. Ia bahkan tidak menyadari kepergian guru sastra dari kelasnya karena sudah sangat mengantuk.


"Kau dipanggil wali kelas untuk ke ruang guru. Aku akan menemanimu."


Ujar seorang laki-laki berperawakan tinggi yang duduk di bangku barisan ke dua dari kanan bangkunya. Name tag nya tertulis nama yang singkat, padat dan jelas.


Asahi.


Mengamati bahwa lelaki ini yang datang ke mejanya karena suruhan guru, sudah dipastikan bahwa ia adalah ketua kelas di sini. Jadi, tidak mungkin ia akan melakukan hal jahat seperti perempuan yang bertemu dengannya di kantin.


Reina kemudian mengangguk. Mereka berdua keluar kelas dan menuju ruang guru.


"Sepertinya suasana seperti ini cukup canggung, bagaimana jika kita berkenalan terlebih dahulu?"

__ADS_1


Lima menit tidak ada jawaban dari laki-laki di depannya ini.


"Aku Reina, kau Asahi 'kan? Tadi aku tidak sengaja melihat name tag di bajumu." ia mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Asahi.


"Bolehkah aku bertanya, mengapa aku di panggil?" Reina kembali mencoba memecah keheningan dan mencairkan suasana. Namun, tetap tidak ada jawaban.


"Eum, apaka—"


"Bisakah kau diam?" Asahi langsung menghentikan langkahnya, kemudian menatap tajam kepada Reina yang perlahan menunduk.


"Maaf,"


Reina yang menunduk, kemudian mengangguk pelan tanda mengerti. Padahal ia tadi hanya mencoba bersikap ramah. Ia pikir Asahi akan bersikap sama seperti Ryuji, tetapi dugaannya salah.


Memang, ekspektasi tidak seindah realita. Ia terlalu berharap, sehingga dikecewakan oleh harapannya sendiri.


Asahi kembali melangkahkan kakinya. Selama perjalanan hanya ada keheningan. Tak ada percakapan basa-basi atau apapun lagi.


Sesampainya di ruang guru, Reina disambut dengan muka cemas Hiromi sensei.


"Kau baik-baik saja Reina?"

__ADS_1


"Reina baik-baik saja sensei,"


"Apakah benar bahwa anak kelas fashion yang menyebabkan masalah dan membuatmu terluka seperti ini?"


Anak fashion? Pantas saja gaya busana mereka berkelas. Reina hanya terdiam. Ia benar-benar bingung harus berkata apa.


"Kau tidak perlu takut,"


"Tidak masalah sensei, ini hanya luka kecil. Terima kasih sudah mengkhawatirkan Reina"


Ucapnya dengan senyuman yang terlihat dipaksakan. Hiromi sensei tidak bisa memaksa jika Reina sudah mengatakan hal itu. Ia kemudian menyuruh Reina kembali ke kelas dan mencoba belajar beradaptasi dengan lingkungan barunya.


Hiromi sensei juga menyuruh Asahi untuk membantu Reina jika ada kesulitan. Asahi hanya terdiam mengangguk, kemudian bola matanya diputar jengah ketika ia bersitatap dengan Reina.


Gadis pembawa masalah.


Namun, kejadian tadi tidak membuat teman sekelasnya bersimpati padanya. Ia semakin dilirik sinis, seakan-akan ia adalah makhluk paling lemah.


Memang, tak ada pembalasan atas apa yang terjadi kepadanya barusan, tetapi ia tidak akan tinggal diam jika hal itu terjadi lagi.


"Aakh! Ryuji, aku membutuhkanmu," ujarnya pelan sambil mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


__ADS_2